Gunung Merbabu via Grenden
Oleh: Heri
Salam Rimba, Salam Petualang,
Salam Lestari, Salam Persahabatan. Selamat berjumpa dengan kisah yang berbeda
walau pada setapak yang sama. Jaman boleh berubah, namun pengalaman tetaplah
personal. Dewasa ini, “hobby mendaki gunung” bukan sesuatu yang asing. Maka
tidak mengherankan bila jalur-jalur resmi pendakian selalu dijejali pendaki
beserta sisa-sisa pendakiannya. Maka, ketika ada informasi mengenai jalur baru,
saya selalu tergelitik untuk mencobanya. Ada tantangan di sana. Namun yang
paling utama adalah sepinya jalur. Kesunyian gunung, selalu mendulang rindu
dalam kalbu untuk bercumbu dengannya. Kali ini, saya akan membagikan sekelumit
kisah mendaki Merbabu via Grenden. Mari kita simak, ….
Sekilas tentang Gunung Merbabu
Gunung
Merbabu terletak di jawa tengah dengan ketinggian 3.142 Mdpl pada puncak
Kenteng Songo. Gunung Merbabu berasal dari kata "meru" yang berarti
gunung dan "babu" yang berarti wanita. Gunung ini dikenal
sebagai gunung tidur meskipun sebenarnya memiliki 5 buah kawah: kawah
Condrodimuko, kawah Kombang, Kendang, Rebab, dan kawah Sambernyowo.
Gunung
Merbabu merupakan gunung dengan banyak puncak. Ada puncak Syarif (3.119 m),
Triangulasi, Menara, Kendi Kencono, puncak Kukusan dan puncak Kenteng Songo (3.142
m). Puncak tertinggi Merbabu yaitu Kenteng Songo yang berdekatan dengan
Triangulasi dapat ditempuh dari jalur pendakian Cunthel, Thekelan, (Kopeng/
Salatiga), Wekas (Kaponan/ Magelang) atau dari Selo (Boyolali). Sekarang telah
ada jalur baru, yaitu Swanting dan Grenden, keduanya berada di lereng sisi
barat.
salah satu kenangan keindahan pendakian |
Gunung Merbabu via Grenden
Merbabu jalur Grenden
ini merupakan jalur yang baru dibuka oleh rintisan warga Grenden lereng barat. Jalur
ini berada di dusun Pogalan, kecamatan Pakis, kabupaten Magelang. Jalur ini, merupakan
jalur warisan tradisi. Maksudnya adalah jalur menuju puncak untuk para peziarah
lokal. Dengan demikian jalur ini sebenarnya adalah jalur lama bagi peziarah,
tetapi jalur baru bagi para pendaki non-lokal.
Sedikit gambaran bahwa
mendaki Merbabu melalui jalur Grenden akan menemukan pemandangan yang berbeda dari setapak Merbabu
lainnya. Jalur ini menyajikan panorama yang beragam, ada wana wisata dengan
hutan pinusnya, hutan lumut, hingga sabana yang indah. Jalur
pendakian Merbabu via Grenden dapat ditempuh dengan waktu rata-rata 7 sampai 8
jam perjalanan untuk sampai di puncak Kenteng Songo.
gunung kendi kencono dari puncak |
Transportasi menuju Basecamp Merbabu via Grenden
Base camp Grenden, sangat mudah
ditemukan dengan kendaraan roda dua. Bila menggunakan jasa angkutan umum
kelihatannya akan mengalami kesulitan. Namun, pihak pengelola siap memberikan
solusi. Silahkan menghubungi nomor pengelola, yaitu 087719021013
atau frekwensi HT: 163.090
Ringkasan
waktu Perjalanan
1. Base camp –
Pos 1 = 20-30 menit
2.
Pos 1 – Pos 2 = 30 – 45 menit
3.
Pos 2 – Pos 3 = 1,5 – 2 jam
4.
Pos 3 – Pos 4 = 45 menit – 1 jam
5.
Pos 4 – Puncak Kendi Kencono = 45 menit – 1,15
jam
6.
Puncak Kendil Kencono – Puncak = 1-1,5 jam
7.
NB:
a.
Semua estimasi waktu sangat ditentukan
oleh kemampuan fisik dan tenaga pendaki. Jadi antara satu pendaki dengan yang
lainnya tidak pernah sama.
b.
Sumber air ada di atas Pos 3 & 4 berupa pipa dengan kran, tinggal
putar air mengalir.
Sekelumit Kisah Pendakian Kami
(Aku dan Isteriku)
Sebuat saja saya
adalah Jimanto dan isteriku adalah Regina Nunuk. Bila ada waktu luang, kami
biasa mengisinya dengan kegiatan petualangan, mengunjungi tempat-tempat yang
jarang kami lewati. Biasanya, kami mengunjungi desa-desa yang berada di lereng
gunung atau dekat dengan pantai. Bila waktu yang kami miliki agak longgar, maka
kami memilih daerah yang jauh. Tetapi bila waktu yang kami miliki terbatas,
daerah yang dekat-dekat pun tidak masalah.
Kali ini, kami berdua mencoba mengunjungi lereng barat
gunung Merbabu. Yang katanya ada jalur pendakian rintisan baru, yaitu Grenden.
kelok setapak di tengah sabana grenden |
Saya berangkat berdua (dengan isteri) dari
Solo, Jawa Tengah. Kami memulai perjalanan sekitar pukul 07.45. Kami
menggunakan sepeda motor. Tujuan kami,
pertama-tama bukanlah mendaki tetapi menghadiri resepsi pernikahan. Tamu manten
yang paling aneh, karena membawa bekal untuk mendaki. Teman kami menikah di
Salatiga kota. Acara resepsi mulai jam 10.00 dan berakhir pukul 12.00. Usai
pesta, kami segera meneruskan kisah untuk mendaki Merbabu via Grenden.
Dari Salatiga kami menuju
Kopeng, sesampainya di Getasan hujan turun dengan lebat. Berharap cuaca
bersahabat. Setelah melewati desa Wekas, hujan berhenti, kami pun beristirahat
untuk mencari makan siang dan membeli bekal.
Kami berhenti di pertigaan
jalur Salatiga-Magelang-Ketep Pas. Kami berbelok ke arah kiri ambil arah Ketep
Pas. Jalanan masih meliuk, naik, turun, licin, maka harus ekstra hati-hati.
Tidak berapa lama, kami pun menemukan pertigaan dengan penunjuk arah base camp Grenden. Segera, kami berbelok
ke kiri, mengikuti kelokan jalan makadam yang menghantar sampai ke camping ground Grenden. Ternyata, kami
telah melewati base camp. Segera kami pun bertanya, syukur kami tidak usah
turun ke bawah. Segera regristrasi, dan pihak pengelola akan memarkir motor di base camp. Berarti saat turun, kami akan
berjalan lebih jauh ke bawah.
Pendakian Merbabu Jalur Grenden
Kami tidak ingin
lama-lama di bumper, setelah selesai packing
ulang, perjalanan pun dimulai. Kami agak sedikit mengalami kebingungan karena
di area bumper terdapat banyak percabangan, untungnya masih banyak orang yang
bisa dimintai keterangan untuk menuju puncak.
Pendakian ini terasa
sunyi. Menurut informasi hanya ada dua rombongan. Rombongan pertama dari Sumber
berjumlah 3 orang dan rombonganku yang hanya 2 orang. Jadi, hari ini baru ada 5
pendaki.
Kami memulai pendakian tepat pukul
14.15, berawal dari hutan wisata Grenden yang ramai oleh pengunjung. Mereka
rata-rata anak muda yang mencari spot untuk selfy.
Ada banyak titik untuk menemukan lokasi yang keren demi foto-foto yang enak
dilihat dan dikagumi.
hadiah alam |
Camping Ground – Pos 1
Menurut informasi,
jarak tempuh untuk sampai Pos 1 tidak seberapa jauh. Hanya sekitar 500 meter. Medan
menuju Pos 1 tidak terlalu menanjak dengan setapak-tanah yang empuk. Kanopi
hutan pinus pun membuat sinar matahari tidak terlalu terik menyengat kulit
walapun siang hari panas terik. Namun, belum juga sampai 300 m berjalan,
mendadak hujan turun dengan derasnya. Segera memakai mantol. Jalan lagi. Tak
berapa lama, sampailah di Pos 1.
NB: sepanjang jalur sudah ada banyak papan “petunjuk
jalur”, pendaki tinggal mengikuti arah dan jalan setapak hingga ketemu Pos 1.
Di sini terdapat tempat duduk untuk beristirahat. Juga ada beberapa tempat
untuk berfoto ria (ber-selfy).
Pos 1 - Pos 2 Lawu
Alam masih bermandi
hujan. Dingin, lumpur dan setapak yang banjir. Menantang. Kami terus berjalan.
Tidak lama berhenti di Pos 1 karena takut keburu kedinginan. Melangkah dalam
derai hujan yang bertubi-lebat. Belukar rebah menghalangi setapak yang tak
lebar. Setapak yang berlubang-lubang diselubungi aliran air yang deras. Maka
tidak jarang kaki terperangkap dan tubuh yang basah harus rebah. Terjerembab.
Tantangan yang lengkap mendebarkan dan penuh dengan kejutan-kejutan.
Kami baru pertama lewat
jalur ini, tak ada seorang pun yang kami jumpai. Namun, setapak jelas di depan
mata selalu melambai mengundang untuk merajut kisah di atasnya. Bersama semangatnya
hujan mengguyur bumi, kami juga ikut membara untuk terus melangkah. Berharap
Pos 2 tidak begitu jauh dan susah didapat.
Kendati hujan lebat,
namun mata masih bisa memandang alam sekitar. Dari samar penglihatan itu, kurekam
beberapa catatan penting untuk diabadikan. Setelah Pos 1, perjalanan
masih didominasi oleh hutan pinus. Jalur sedikit lebih menanjak. Jalur awal
melewati pinggiran punggungan jurang setelah itu menuju trek ke tengah
punggungan bukit yang luas. Sepanjang
perjalanan dari Pos 1 menuju Pos berikutnya ada satu panduan, yaitu pipa air
yang melintasi jalur.
Sebelum sampai Pos 2,
kita bertemu dengan selter yang lumayan luas untuk istirahat. Namun, kami terus
melangkah. Hujan belum juga reda. Kami juga masih semangat.
Medan jelajah masih
sama, tanjakan, tikungan dan hutan. Pepohonan makin lebat dan besar-besar. Tak
berapa lama meninggalkan selter, kami pun tiba di satu area, di mana ada tanda pada
pohon yang bertuliskan Pos 2 Lawu. Hati senang. Namun, apa daya
hujan juga tak kunjung reda. Lanjut lagi.
Sedikit
informasi bahwa di Pos 2 ini terdapat tempat luas untuk mendirikan tenda. Bisa
untuk 5 tenda. Kalau tujuannya hanya sekedar happy camp, tempat ini sangat cocok. Jarak dari pos 1 ke pos ini
tidak terlalu jauh.Tetapi bila tujuannya menggapai puncak, maka tidak
disarankan karena jarak menuju puncak masih jauh.
Pos
2 - Pos 3
Cuaca
tak juga membaik. Hujan tak ada akan berhenti. Langit seolah sedang bersuka
hati. Hujan tiada berkesudahan. Badan yang belum istirahat, capek tak juga
mendapat kesempatan untuk rehat. Harus berjalan lagi agar tubuh tidak menggigil
kedinginan. Capek harus dilawan. Tidak boleh ada kompromi. Terus jalan atau
siap-siap kena hipo? Lanjut terus.
Meninggalkan
Pos 2, medan kian menanjak. Setapak yang sekaligus menjadi saluran air harus
dilewati. Satu-satunya jalur, mesti dinikmati. Isteriku mulai terseok dan
sempoyongan. Namun, ia juga yang memutuskan untuk terus bergerak, merangkak dan
sesekali terjengkang rebah di saluran air dadakan. Mantap. Petualangan yang
lengkap. Masih ada semangat. Lanjut terus.
byk pohon gede dg tulisan penunjuk arah |
Menurut
perhitunganku, perjalanan dari Pos
2 menuju Pos 3 merupakan jarak tempuh yang paling jauh dan
tentunya, lama. Trek semakin menanjak dengan jarak elevasi dengan Pos 3 sekitar 500 meter. Jalur
pendakian setelah Pos 2 masih
berupa hutan rimba. Hutan pinus sudah berganti menjadi hutan yang heterogen.
Lebatnya hutan mampu menutupi sinar matahari masuk ke dalam sela-sela hutan. Tidak
mengherankan bila pohon-pohon yang besar-besar ini, ditumbuhi lumut, dari
pangkal bawah sampai atas. Melihat pepohonan yang diselimuti lumut, menghantar
pada imajinasi ke alam purba.
Raga
kian sempoyongan menopang beban yang basah kian berat. Setapak licin penuh air,
yang membingungkan untuk dipijhak karena tidak kelihatan. Tubuh dibelit mantol
yang membikin tidak leluasa bergerak. Dari luar badan terhindar oleh air hujan,
tetapi tubuh tetap basah oleh keringat. Melewati area setapak yang menyempit,
seolah-olah diapit beteng, maka maka makin lemaslah asa.
Akhirnya,
asa agak sedikit lega. Ada harapan, karena mata menemukan sebuah selter. Di
sinilah kami, bertemu dengan tiga pendaki dari sumber. Ketemu orang juga.
Namun, isteriku tidak menyempatkan diri untuk istirahat. Lanjut terus. Mungkin,
isteriku udah kenal dengan dirinya, kalau tubuh basah dan istirahat maka akan
kedinginan. Aku pun mengikutinya. Medan bukannya kian bersahabat, tetapi makin
manantang nyali dan mental.
Pundakku
sudah teramat ngilu karena beban bawaan yang tidak ringan. Ditambah basah.
Namun, petualangan tidak boleh berhenti. Kendati tenaga terkuras dan raga telah
gontai, namun semangat tak juga padam, masih membara. Kami, mengais sisa tenaga
untuk terus bergerak dan berjalan.
Hingga
akhirnya, kami sampai juga di Pos
3. Lega. Senang. Gembira. Di Pos ini, terdapat tanah datar yang luas.
Cocok untuk mendirikan tenda dan bermalam. Area ini dapat menampung 6 tenda. Di
Pos ini, juga terdapat sumber air dari pipa yang sudah diberi kran. Tingal
puter, air mengalir dengan jernih. Tempat yang landai, tertutup oleh kanopi
rimbunnya pepohonan, sangat nyaman untuk camp.
Aku dan isteriku
beristirahat sejanak, buka bekal untuk memulihkan tenaga. Hujan telah mereda.
Ketiga pendaki juga telah terlihat dan berhasil menyususl. Namun, niat hati kami
telah bulat untuk bermalam di Pos 4. Maka, kami pun melanjutkan perjalanan.
Mumpung masih terang. Sebelum gelap kami targetkan untuk bisa mencapai Pos 4.
Pos 3 - Pos 4
Lelah
raga setelah menembus rute perjalanan dari base camp sampai Pos 3, tak terbayar
kendati telah istirahat. Badan yang terkuras tenaga tak cepat pulih. Hanya
semangat yang tersisa. Namun apa daya, memang raga telah usang. Isteriku
beberapa kali jatuh. Hingga akhirnya, beban bawaannya saya yang menggendongnya.
Namun, tenaga memang tidak bisa diperas lagi. Isteriku menyerah. Kalah.
Gawat. Jelas ini bukan
peristiwa yang diharapkan. Belum sekali pun isteriku menyerah selama pendakian.
Istirahat sejenak, jalan sebentar, istirahat lebih lama. Terus mengulang metode
ini. Namun Pos 4 yang dinanti-nanti tak juga terlihat. Isteriku diam saja.
Terlihat mau menangis tapi coba ditahan. Akhirnya, saya putuskan untuk mencari
tanda, jalan duluan sapa tahu memang Pos 4 bisa segera dicapai. Sekitar 100 m setelah
meninggalkan isteriku, samar terlihat tanda-tanda itu ada, berupa papan
bertuliskan, ”Pos 4”. Segera saya kembali, menyambangi isteriku, memberinya
semangat, mendorongnya agar mau berjalan lagi. Hanya sekitar 100 m. Bagi raga
yang tak bertenaga, berjalan 100 m itu bagaikan mendaki gunung 8 jam.
Syukur, akhirnya
perjuangan kami membawa hasil, sampai di Pos 4 sebelum gelap. Segera mencari
tempat untuk mendirikan tenda. Sebenarnya, jarak tempuh dari Pos 3 menuju Pos 4, tidaklah terlalu
jauh. Di pos ini, terdapat tempat untuk mendirikan tenda yang tidak terlalu luas.
Bisa menampung sekitar 5 tenda. Perlu dicatat, tempat tendanya tidak sedatar
dan senyaman Pos 3. Waktu itu, aku sempatkan untuk meratakan tanah, agar
menjadi lebih nyaman buat beristirahat. Di sini, juga ada sumber air berupa
pipa dengan krannya. Jadi tinggal puter, air bersihpun mengalir.
Menikmati Malam di Pos
4
Setengah tujuh malam.
Aku dan isteriku telah masuk tenda. Beruntung, kami mendirikan tenda yang terlindung
dari terpaan angin malam. Tubuh yang basah-lelah segera minta untuk
diistirahatkan. Masak segera dan membuat minuman hangat. Usai makan berharap
bisa segera istirahat untuk mendulang tenaga, agar pagi bisa meneruskan kisah
menuju puncak. Namun, apa daya isteriku mendadak kedinginan. Sebelumnya tidak
pernah terjadi. Isteriku terserang gejala hipo. Agak kawatir juga diriku ini.
Akhirnya sepanjang malam, kompor spirtus sering saya nyalakan dalam tenda agar
terasa hangat.
Kendati harus
bentar-bentar bangun, namun sungguh bersyukur karena masih bisa tidur. Lelap,
bangun, lelap lagi bangun lagi. Hingga akhirnya, tepat jam tiga aku tidak kembali
tidur tetapi segera membuat minuman hangat. Aku cukup segar dan tenaga seolah
pulih kembali. Kutanya pada isteriku, dan sesuai dugaanku, ia tidak berminat
untuk meneruskan kisah. Ia akan beristirahat saja. Memberiku ijin untuk
melanjutkan perjalanan menuju puncak Merbabu.
Pos 4 - Kendi Kencana
(Puncak Grenden)
Langit terlihat cerah dengan tanda
taburan bintang. Kabut juga belum bergerak, terbukti dengan terlihatnya
lampu-lampu kota. Angin berhembus sepoi, terasa hangat dan tidak terlalu
dingin. Keadaan yang cocok untuk attack
summit. Tepat pukul 04.10, saya meninggalkan tenda. Berpamitan dengan
isteriku, “bahwa pendakianku pagi ini tidak harus sampai puncak, prinsipnya
pukul 07.00, saya harus sudah tiba di tenda”. Bila meninggalkan isteriku
terlalu lama, rasanya juga tidak tenang. Sedangkan tetanggaku rombongan dari Sumber telah berangkat duluan.
Menyusuri jalanan terjal bekas aliran air, menjadi
tantangan tersendiri. Perjuangan menuju puncak telah dihadang dengan tanjakan
terjal, setapak berliku, licin dan curam bekas gerusan air hujan. Nafas
langsung tersengal, detak jantung berdegup kencang. Saat-saat menenangkan diri,
kucoba nikmati pemandangan bawah berupa gemerlap kota di lereng gunung Merbabu yang
berpadu harmoni dengan taburan bintang tanpa penghalang mendung maupun kabut.
Perjalanan setelah pos 4 melewati sabana pendek.
Jalan sudah dibuat beranak-tangga oleh warga. Punggung gunung dari Grenden ini
akhirnya bertemu dengan punggungan lain yang mengarah ke arah puncak. Dari
sebelah kanan tampak punggungan jalur Wekas yang
terpisah oleh jurang yang luas. Jalur yang sekarang ini saya lewati tepat di
punggungan bukit yang sempit. Sebelah kiri dan kanan berupa jurang. Itu artinya
jalur pendakian hanya lurus naik ke atas. Lampu headlamp menyorot bukit di depan yang didaki terasa terjal. Setelah
melewati setapak yang landai dengan sabana kecilnya, sayapun melihat penanda
yang tergeletak di tanah, bertuliskan “puncak Kendi Kencana”.
Aku tidak berhenti di
puncak ini, lanjut lagi. Sedikit bonus, turunan. Di balik remang fajar kulihat
adanya hamparan sabana dengan punggungan
kecil sebelah kiri kanan jurang. Angin beberapa kali bertiup kencang dari bawah
jurang. Selang dua bukit setelah bukit Kendi Kencana, saya melihat ada bekas
orang mendirikan tenda di sini tepat di atas bukit. Tempatnya tidak terlalu
luas-bisa menampung 3 tenda dengan posisi tenda yang sedikit miring.
Menurut cerita, area ini disebut “bukit Cantigi Tunggal”.
Sejenak hanya menghela
nafas. Kembali saya melangkah untuk mengukir kisah. Samar temaram fajar mulai
berbinar. Setapak yang layu pun mulai merekah di balik rimbun embun yang
bersarang di atas rerumputan, sabana Merbabu. Setapak yang kulalui menghantarku
di persimpangan. Sebuah pertigaan. Kuberhenti sejenak untuk menghafal medan dan
mencoba menerka, dari jalur manakah ini? Saya pun yakin inilah pertemuan dengan
jalur Suwanting, pertigaan di atas puncak Suwanting.
Setelah yakin dengan
jalur yang kulewati, kembali kuayunkan langkah untuk segera mencapai puncak.
Kendati nafas tersengal dahsyat, namun saya cukup puas. Ada kebanggaan yang tak
terbahasakan. Kupijakan kaki di Kenteng Songo, puncak Merbabu tepat pukul 05.15.
Dengan begitu waktu tempuh dari Pos 4 sampai Kenteng Songo adalah satu jam
sepuluh menit.
Saatnya istirahat dan
menunggu lahirnya sang surya.
Mentari bergeliat,
terbangun dari istirahatnya. Sinarnya membangkitkan asa. Sinar keemasan
membuyarkan pekat malam, menyibak keindahan alam bawah, lereng-lereng
pegunungan. Pagi ini pemandangan terlihat sangat cerah. Beberapa gunung sepanjang
mata memandang tampak terlihat jelas. Gunung Sindoro, Sumbing,
Prau, Slamet berada di sisi barat. Sedangkan gunung Andong, Telomoyo dan Ungaran tampak
dari sebelah utara. Semua terlihat leluasa, karena tidak terlalu banyak pendaki
yang ada di puncak. Suasana lumayan sepi.
Kunikmati segala
anugerah ini. Syukur dan terpujilah Tuhan semesta alam.
Saatnya
Turun Meninggalkan Puncak
Saya
telah berjanji pada isteriku yang setia menunggu di Pos 4, bahwa sebelum jam
07.00 saya harus tiba di tempat. Maka, dengan segera saya meninggalkan segala
keindahan panorama puncak Merbabu. Bergegas langkah kakiku meliuk mengikuti
kelokan setapak terjal Merbabu. Sesekali masih kesempatkan untuk mengabadikan
keindahan alam dengan kamera. Tak hentinya hatiku berdecak kagum pada suguhan alam pagi ini, seolah mau
mengganti dan membayar perjuangan hari kemaren.
Menyeberangi
dan mengarungi luasnya sabana. Membelah dan menyapu perbukitan. Terus berjuang
menyusuri setapak yang tak ramah. Hingga akhirnya, tepat pukul 06.50, saya telah
tiba di tenda. Sapa dan senyum dari isteriku menyambutku dengan bangga dan
bahagia.
Saatnya
Turun
Segarnya
bening mentari, mendadak hilang tergulung kabut yang menebal pekat. Jam 08.00
sarapan telah siap. Pertanda cuaca tidak baik. Maka, segera kami pun bergegas
untuk sarapan dan lanjut kemas-kemas. Terpaksa beberapa perlengkapan yang basah
langsung kami masukan ke tas kerier. Tidak ada pilihan. Perjalanan pulang ini
pasti akan jauh lebih berat dan menantang dari pada saat menanjak.
Tepat pukul 09.30, saat
teman-teman dari Sumber sampai di tenda selepas dari puncak, kami pun
berpamitan untuk turun lebih duluan. Semenjak meninggalkan Pos 4, kabut
bergelayut tebal dan menggulung. Bahkan beberapa kali karena begitu pekatnya
kabut sampai turun menjadi tetesan hujan. Belum juga setapat mengering, masih
banyak kubangan yang penuh air, sudah ditambahi dari atas. Lebatnya hutan
mengurung licin setapak untuk tidak lekas mengering. Lengkap sudah tantangan
pendakian kami kali ini. Perjalanan turun gunung yang super licin maka kami
harus ektra hati-hati.
ngeri-ngeri sedap, isteriku berjuang |
Tidak sampai 30 menit, kami
telah tiba di Pos 3, istirahat sejenak. Kami tahu bahwa selepas pos ini tidak
ada lagi tempat yang nyaman untuk sejenak istirahat. Setelah dirasa cukup, kami
pun melaju untuk segera turun. Cuaca masih sama. Kabut tebal bercampur gerimis.
Licin. Tak jarang kami harus bergelayutan di akar-akar pepohonan serta
bergelantungan mengandalkan pertolongan ranting-ranting perdu sepanjang
setapak. Lumayan menghemat kekhawatiran bila harus tersungkur.
Sekitar satu jam setengah,
kami telah tiba di Pos 2, sungguh senang rasanya. Cuaca tidak ada perbedaan
masih diselimuti kabut tebal dan gerimis. Pundakku terasa kian tak bertahan.
Seolah-olah membawa beban lebih dari 30 kg. Namun, isteriku terus melangkah
penuh semangat. Saya yakin kesehatannya telah
pulih. Maka, aku tidak akan menggangu feel-nya
dengan mengeluh tentang beratnya beban dipundak. Ia tersu berjalan di depan, saya
pun setia
mencoba untuk terus mengikuti di belakang.
isteriku berjuang dlm licinnya setapak |
Tibalah di Pos 1. Gembira
rasanya. Karena jarak tinggal sejenak, hanya sekitar 10 menit. Maka, saya
pun
bercerita soal beratnya beban di pundak. Kami pun beristirahat untuk sementara.
Lega pundak, pulih tenaga. Kembali kami melangkah. Hingga, akhirnya tepat pukul
12.00 kami telah tiba di bumper Grenden. Artinya, kami telah sampai
dipemukiman. Perjalanan pun selesai. Selepas bumper, kami masih meneruskan perjalanan
untuk menuju rumah Bapak Dukuh, dimana motor kami parkir. Hati yang nyaman
karena tidak dikurung hujan lebat, hanya gerimis sepanjang perjalanan, maka
laju kami pun melambat. Hingga akhirnya, kami tiba di rumah Pak Dukuh tepat
pukul 12.30.
Kami disambut dengan ramah.
Dijamu dengan segelas teh panas. Dipersilahkan istirahat dan dipaksa untuk
berbagi kisah. Seolah-olah kami adalah teman lama yang sangat akrab.
Percakapan, obrolan pun mengalir dengan lancar. Tidak terasa waktu telah berada
pada titik 14.00, kami pun memutuskan untuk mengakirinya. Karena perjalanan
masih jauh untuk menuju Solo, tempat rumah kami. Berharap sepanjang perjalanan
tidak turun hujan. Kehujanan kemarin dengan segala tantangannya cukuplah
menyirami kisah kami.
Penutup:
Membingkai Kisah
Selama
saya
dan
isteriku membangun kebersamaan dalam hari-hari petualangan yang pernah kami
lewati, petualangan kali ini merupakan petualangan terhebat. Petualangan yang
paling menantang. Sungguh ada hal-hal yang tidak terduga. Hidup mesti siap
menghadapi segala kemungkinan. Terutama mesti siap menghadapi kemungkinan
terburuk. Buatku sendiri, petualangan kali ini membawa berkah dan pembelajaran.
Ada banyak makna yang kutemukan. Belajar dari setapak Merbabu via Grenden
kutemukan harta karun hidup. Pertama,
dimana manusia boleh berencana Tuhan yang menentukan. Kedua, manusia kadang merasa sungguh percaya diri dan siap
menghadapi segala kemungkinan tetapi nyatanya hidup tidak lah selalu
sesederhana yang dibayangkan. Ketiga,
belajar rendah hati untuk menerima kenyataan yang diluar jangkauan dan
perkiraan. Keempat, selalu menjaga
hati agar bersih sehingga selalu bisa kontak dengan nurani, dimana Allah selalu
hadir di sana. Mendengarkan hati, berarti mendengarkan Allah yang selalu
membimbing. Percaya bahwa Allah selalu berbicara untuk menyelamatkan manusia
dalam segala situasinya. Kelima,
belajar untuk selalu berterimakasih pada kemungkinan-kemungkinan baru. Terbuka
untuk menemukan saudara, terbuka untuk saling mengikatkan hati dalam sebuah
kebersamaan-petualangan. Akhirnya, terimakasih untuk Tuhan yang selalu memberi,
melindungi dan mengiringi. Terimakasih isteriku, denganmu selalu ada warna baru
dalam setiap petualangan hidup. Semoga pengalamaan ini akan menghantar pada
kesatuan hati yang lebih hakiki, terpatri dalam sanubari. Semoga.
Salam kenal masHeri...
BalasHapusNo kontaknya yg tertera sudah tak bisa dihubungi...saya ingin sekali mencoba trek Grenden ini. Kok saya dengar jalur ini sekarang hanya diperuntukkan wisata saja tidak lagi untuk pendakian...Mohon penjelasannya
biasanya peminat pendakinya sedikit pak sehingga terpaksa ditutup, banyak kasus seperti ini.
Hapuscontoh lain jalur Dampit G Sumbing, Jlur Pesona Alam G.Andong.
krn dri perhutani/ badan alam lainnya punya batas minimal penjualan tiket perbulan. klo beberapa waktu tidak terpenuhi ya terpaksa di tutup, istilah kasarnya pemasukan tidak sebanding pengeluaran
tpi jalur tetap buka, hanya saja pendaki yg melewati jalur itu tidak punya jaminan keselamatan/ asuransi bila terjadi apa2. krn sekarang jalur terebut termasuk ilegal. hehe
yup. saya setuju dg pendapat bos @Buruh Alam. memang demikian adanya. lewati aja wana wisata grenden (semacam bukit bintang atau top selfy), entar akan diarahkan bila ingin mendaki. masih boleh mendaki dg catatan segala resiko menjadi tangungjawab pribadi.
Hapus