Tampilkan postingan dengan label merbabu via swanting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label merbabu via swanting. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Desember 2015

MERBABU VIA SWANTING: BERDUA KITA BISA

MERBABU VIA SWANTING: BERDUA KITA BISA
Oleh: Heri
 
samudera awan dari pos iii, dampo awang
Dua hari berturut-turut kalender berwarna merah, sering dipahami sebagai long week end. Hari libur panjang. Biasanya, hari-hari seperti ini digunakan untuk rekreasi dan liburan. Bagiku long week end adalah istilah yang digunakan oleh mereka yang telah mapan. Mapan dalam pekerjaan atau pun mapan dalam kehidupannya. Mereka yang tidak lagi disibukkan dengan urusan “mencari rejeki”. Kelas mapan selalu memiliki agenda yang hampir tetap, sehingga mereka bisa leluasa untuk mengatur hari liburnya, mengatur dirinya untuk sejenak berpaling dari rutinitas dan kesibukannya.
Tetapi, untuk mereka yang tidak bekerja secara rutin dan teratur, long week end merupakan saat untuk mencari rejeki. Hari-hari seperti ini adalah peluang besar untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Libur panjang adalah kesempatan dan peluang untuk menambah pendapatan.
Hari yang sama tetapi dimaknai oleh dua kelompok secara berbeda. Buatku, hal inilah yang menarik untuk dilihat, diamati dan direnungkan. Buatku long week end selalu memberi pembelajaran hidup yang beragam. Tidak selalu sama. Tetapi juga tidak selalu berbeda. Buatku, yang terpenting adalah bahwa setiap perjumpaan akan memberi warna baru bagi kehidupanku.
Sabtu-Minggu, 16-17 Mei 2015 merupakan long week end. Maka, aku beserta isteriku juga menyiapkan diri untuk mengisinya dengan kegiatan yang tidak seperti biasanya. Aku berencana untuk mengisinya dengan rekreasi alam. Mendaki gunung mungkin pilihan yang baik.
Dua minggu menjelang hari H, aku informasikan ke beberapa teman, siapa tahu ada yang mau gabung. Banyak yang merespon. Banyak pula yang berminat. Kami pun menetapkan untuk menapaki setapak Lawu dari jalur Candi Cetho. Aku berpikir, ini sekaligus bernostalgia pada petualangan dua tahun yang silam. Pada hari-hari libur panjang, jalujr popular untuk setiap pendakian pasti akan sangat ramaia. Maka, kami sengaja memilih jalur Candi Cetho, jalur yang belum popular sekaligus jalur dengan trek yang cukup panjang. Banyak yang bergetar ketika mendengar jalur ini.
Satu minggu menjelang hari H, masih banyak yang berminat. Jumlah anggotga yang kan gabung masih bertahan di angka 9 orang. Rombongan yang banyak dan pasti akan meriah. Tiga hari menjelang hari H, yang masih bertahan tinggal 5 orang. Masih cukuplah.
Tetapi saat H-1, tinggal aku dan isteriku. Memang sudah menjadi prinsipku, “apapun keadaannya, yang telah terencana sudah semestinya dilaksanakan”. Walau hanya berdua, mendaki tetap jalan. Namun, mendadak lengan isteriku kembali tidak bisa digerakkan. Penyakit lama kambuh. Apa boleh buat. Rencana harus ditunda.
Malam menjelang isteriku masih bertanya, “Gimana mas, besok tetap mau mendaki?”
“Liat keadaan, kalau lengannya udah bisa digerakkan ya jalan. Tapi kalau belum bisa, kan masih ada hari lain”.
Sebelum istirahat, kusempatkan diri untuk mengurut lengan isteriku. Berharap besok menjadi lebih baik. Hingga bisa melaksanakan apa yang telah terencana. Aku tidak berani berharap banyak. Hingga akhirnya, aku hanya menghabiskan waktu dengan nonton televisi. Malam melaju. Hingga larut. Mata tidak lagi bertahan. Aku pun rebah. Saat mentari telah tinggi, aku pun berjaga. Isteriku juga. “Gimana keadaannya, udah membaik?”
“Sudah mendingan. Bisa untuk beraktifitas. Tetapi belum berani untuk menggedong tas”
“Tapi masih berani ndaki nggak?”
“Ya masih tetapi gak berani bawa barang”
“Kalau semua perlengkapan dan barang bawaan, aku yang bawa gimana?”
“Entar kasian mamasku lah”
“Gak pa-pa, siap saja. Pokoke digawe nyante ae. Tapi kalau jadi berangkat. Sebaiknya kita gak ke Lawu. Kita mesti ganti haluan. Tetap ke gunung tetapi nyari jalur yang belum popular. Aku ada usul gimana kalau ke Merbabu lewat Swanting”.
Di luar dugaan, isteriku pun langsung mengiyakannya. Segera berkemas. Terbiasa mendaki, maka dalam sekejap pun semua perlengkapan pokok telah masuk dalam satu tas kerir. Tinggal belanja beberapa logistik tambahan, untuk menegaskan bahwa pendakian ini adalah pendakian rekreatif. Biasanya, aku akan membawa buah jeruk, ikan nila, kentang dan minyak goreng. Memang logistik yang aku bawa bukan logistik yang direkomendasi untuk pendakian. Logistik yang aku bawa memang cenderung berat, cara memasaknya pun lama. Ribet, tidak praktis. Tapi buatku, itulah cara terbaik untuk menikmati pendakian. Membuat menu special dengan bumbu rahasia hehe.
Sekitar pukul 09.00 aku dan hanya dengan isteriku mulai meninggalkan Solo untuk menuju base camp pendakian Merbabu di dukuh Suwanting, desa Banyuroto, Sawangan, Magelang. Perjalanan cukup lancar. Cuaca sangat baik. Motor terus meliuk di jalanan yang naik-turun, berkelok-mengular. Hingga saat waktu berada pada titik 11.00, tibalah kami pada tempat yang dituju. “Base Camp Merbabu Via Suwanting”.

            Pengalaman pendakian yang lalu di jalur ini bahwa saat kaki berpijak pada bumi, ramah penduduk setempat langsung menyambut kami. Sapaan yang tulus dan penuh makna, yaitu “nyedulur”, terbuka pada persahabatan juga persaudaraan.
Para pemuda yang tergabung dalam paguyuban “Karang Taruna” menerima, menyambut dan mempersilahkan kami dengan sangat-sangat sopan, ramah dan penuh dengan rasa kekeluargaan. Kami pun dipersilahkan untuk sejenak istirahat dan ngobrol dengan pak kadus dan anaknya (Mas Eko). Karena mereka masih ingat dengan diriku, maka percakapanmu seolah-olah kami bagaikan sahabat karib. Sejenak kamipiun berbagi kisah. Terutama akan perkembangan jalur pendakian Suwanting ini. Memang terlihat, bahwa sudah banyak pendaki yang mencoba jalur ini. Mereka juga mengucapkan terimakasih atas informasi yang aku sebarkan via blog.
Rasa penasaran ketika mas Eko berucap, “Sekarang udah banyak perubahan di trek-trek pendakian. Liat saja dan buktikan”. Ingin segera aku menapakinya.
Aku pun segera packing ulang. Melihat barang bawaan yang begitu banyak dan aku hanya membawa kerrir 60 liter, menjadikan tuan rumah beserta beberapa pendaki terheran-heran. “Bagaimana ngaturnya? Apakah semua bawaan itu bisa masuk?”
Aku hanya tersenyum, “Liat aja, bagaimana aku packing. Sekalian belajar untuk dapat ilmu baru”.
Sekitar pukul 12.20, kami pun mulai melangkah. Membuka diri pada pengalaman baru. Inilah petualangan.  Cara rekreasi yang beda.
Masih segar dalam ingatan bahwa jalur Swanting pada awalnya merupakan jalur penduduk untuk melakukan ritual di puncak Merbabu. Maka jalur ini medannya cukup terjal. Untuk penduduk setempat hanya membutuhkan waktu 3-4 jam. Jalur ini belum memiliki ijin resmi dari pihak Taman Nasional Gunung Merbabu (masih dalam proses). Makanya, retribusi untuk setiap pendaki hanya Rp. 5.000 (brarti udah naik Rp. 2.000, hehe) ditambah biaya parkir motor Rp. 5.000. Karena jalur ini belum resmi maka tidak ada karcis, tidak juga ada asuransi. Tetapi tanggungjawab dari pengelola sangat luar biasa[1].
Satu hal yang sangat berkesan di base camp ini adalah penerimaan mereka. Walau baru pertama bertemu namun seolah-olah kita telah lama kenal. Hingga keakraban yang terjalin pun begitu dekatnya.
            Usai ngorol-ngobrol dengan penjaga base camp, tepat pukul 13.00 kami memulai pendakian. Mengawali kisah ini, kami sangat santai. Kami disambut dengan sapaan penduduk yang luar biasa akrabnya. Setiap kami menyapa penduduk, mereka menyambut dengan ramah. Mereka selalu mengundang kami untuk berkenan singgah di rumahnya. Sungguh dinamika seperti ini lah yang menjadikan jalur Swanting berbeda dengan jalur pendakian lainnya. Saya yakin keramahan penduduk Swanting kiranya akan menjadi daya tarik utama jalur ini. Dan saya berharap semoga keramahan ini tidak luntur bersama berjalannya waktu. Amin.
Sekitar 8 menit meninggalkan base camp, menyusuri jalan kampung, aku dan isteriku dihadapkan pada persimpangan. Sekarang telah ada papan penunjuk arah. Kami pun mengambil arah kiri. Sekitar 10 menit kami menyusuri jalur ladang penduduk. Lalu kami ketemu dengan batas hutan yang masih sangat lebat. Hutan pinus dan cemara dengan pepohonan yang rapat. Sekitar 5 menit kami menyusuri setapak hutan ini, sampailah kami di Pos I, yaitu Lemba Lempong[2].
Di pos ini memiliki area yang cukup luas untuk mendirikan tenda. Pemandangan yang disajikan pun sudah cukup menarik. Ada keindahan perkampungan yang kalau malam hari pasti menyajikan panorama gerlap lampu neon. Tempat yang datar dengan kanopi-rimbun pepohonan. Juga hamparan padang rumput luas yang nyaman untuk tiduran. Untuk sampai di pos ini, juga tidak terlalu jauh. Dari base camp hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar 25 menit.
Di pos ini, ada satu keluarga yang sedang happy-camp. Kami sempat bertegur sapa. Lalu kami meneruskan langkah. Setapak terlihat jelas. Namun medan kian menanjak. Waktu tempuh dari Pos I ke Pos II sekitar 60 menitan. Sepanjang jalur ini, kami melewati 3 selter, yaitu secara berurutan Lemba Gosong, Lemba Cemoro dan Lemba Ngrijan. Masing-masing selter memiliki area yang dapat digunakan untuk mendirikan tenda antar 1-3. Sepanjang jalur masih didominasi dengan pemandangna hutan yang lebat.
Sekitar pukul 14.30, kami tiba di Pos II, yaitu Pos Lemba Mitoh. Pos ini menyuguhkan panorama yang lebih ajib dari pada Pos I. Panorama lembah terlihat, sedangkan punggungan bukit dan hutan yang menghijau asri terlihat di sisi kanan dan kiri. Di pos ini juga memiliki area untuk mendirikan tenda sekitar 6-7. Area yang cukup luas. Sampai di pos ini, kami tidak bertemu dengan pendaki yang lain. Untuk sejenak, kami pun beristirahat sambil menikmati perbekalan.
Sekitar pukul 15.00, kami melanjutkan perjalanan. Petualangan ini mesti kami tuntaskan. Beban dipundak makin berat terasa. Namun, demi isteriku, saya mencoba bertahan. Isteriku masih bersemangat meneruskan kisah. Kendati lengannya juga belum membaik. Sepanjang perjalanan kami banyak bercerita, melucu dan mengais kenangan-kenangan masa silam  yang membanggakan. Pendakian yang romantis hehe.
Tanjakan kian dahsyat, tanjakan tanpa bonus. Terus naik dengan kemiringan antara 25-40 derajat. Sungguh medan yang tidak mudah untuk pendaki yang seusiaku. Setiap usai melangkah sekitar 10 meter kami berhenti untuk mengatur nafas. Perjuangan yang luar biasa.
Tidak berapa lama, sekitar 20 menit, kami tiba di puncak bendera[3]. Pada saat jalur ini dirintis, pos ini belum ada. Di sini kami bertemu dengan beberapa pendaki yang sedang menikmati keindahan semesta. Sejenak bertegur sapa, kami pun melanjutkan langkah. Usai pos ini, medan tidak terlalu terjal. Cenderung landai. Hingga sampai di selter Lemba Manding. Perjalanan dari Pos II hingga di selter ini, sekitar 45 menit[4].
Selepas Lemba Manding, medan makin menantang, tanjakan curam dengan kemiringan 40-55 derajat. Belum lagi diperparah dengan setapak yang licin. Wajarlah karena jalur ini tertutup rapat, sehingga sinar matahari sulit menembusnya. Harus ekstra hati-hati. Sepanjang jalur kami bertemu dengan beberapa pendaki. Rata-rata masih muda. Setiap kami mendahului, terpancar dari sorot mata mereka yang “kurang terima”. Lalu mereka mencoba membalap. Kami biarkan. Namanya juga anak muda, mana mau kalah, hehe.
Namun ada beberapa pendaki yang akhirnya menyerah. Mereka tertinggal jauh di belakang. Aku hanya bisa tersenyum, dalam hati berkata, “jangan pandang raga kami yang telah renta. Karena mendaki membutuhkan pengalaman. Tidak hanya tekat baja dan tenaga”. Benarlah bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Managamen tenaga, waktu juga semangat sangat ditentukan oleh jam terbang. Hal ini tidak dapat diteorikan, karena setiap pribadi memiliki ritme yang berbeda. Dengan demikian tiap individu akan memiliki cara yang tidak sama dalam mengarungi setapak gunung.
Menjelang senja, saat mentari menuju peraduan, kami telah keluar dari batas hutan. Kami dihadapkan pada tanjakan sabana. Hati pun bergirang-senang. Sebentar lagi Pos III, yaitu Pos Dampo Awang. Di depan mata sudah terlihat penunjuk adanya mata air. Tepat pukul 17.30, kami pun tiba di Pos III. Di pos ini, alam menyambut kami dengan menyuguhkan panorama indahnya, harmoni sun-set. Angin sepoi nan sejuk menyusup mengurai lelah raga menjadi kebanggaan dan kebahagiaan yang tidak terbahasakan. Pengalaman yang luar biasa.

pemandangna dari puncak swantin
Tidak berapa lama, temaram senja telah mengundang malam untuk menyelimuti kehidupan. Kami pun segera mencari tempat untuk mendirikan tenda yang paling nyaman. Menurut informasi, bahwa malam ini bersamaan dengan adanya pen-mas. Dengan demikian pos ini akan menjadi sangat ramai. Maka, kami putuskan untuk mencari tempat tenda agak di pinggiran. Kemudian, tanpa menunda-menunda, segera kudirikan tenda.  

moment sun set pos iii, dampo awang
Berdua dalam tenda.
Segera kukeluarkan segala perbekalan. Malam ini, saya akan menciptakan menu yang paling spesial, yaitu nilai goreng, kentang rebus dengan hidangan penutup nata-decoco, tidak lupa buah pencuci mulutnya adalah jeruk. Pesta sederhana ala sepasang-pendaki. Mantap kan?
Aroma nila goreng membuat geger area pos tiga. Banyak yang komentar, banyak juga yang bertandang ke tenda. Setelah mereka tahu, bahwa yang memasak adalah sepasang pendaki yang tidak lagi muda, mereka hanya geleng-geleng dengan kata yang terucap, “salut”. Kujawab dengan canda, “moga bikin ngiri. Entar tirulah cara kami menikmati bahtera perkawinan, haha”.
Setelah semuanya siap. Saatnya pesta. Mari kita santap. Mak-nyus.
            Raga yang lelah dan perut yang kenyang menjadikan mata segera mau terpejam. Isteriku tanpa menunda lama, segera lelap, nyaman dalam istirahat. Tapi buatku keindahan mala mini, teramat sayang kalau dibiarkan berlalu. Sayapun membuat secangkir kopi. Sejenak keluar tenda. Membuka hati untuk menyambut dan menikmati malam. Angin manja, bukit dengan deretan sabana yang maha luas dan tarian pepohonan hutan. Serta di kejahuan terlihat kerlipan lampu-lampu kehidupan penduduk lintas daerah. Sungguh panorama yang ajib. Keren. Di sekitar tenda juga ramai oleh para pendaki. Mereka juga sedang menikmati malam. Tegur sapa dan sejenak berbagi kisah. Keakraban pun tercipta. Jalan sederhana menemukan saudara.
            Pukul 23.00, sapun kembali masuk tenda untuk istirahat. Berharap esok pagi bisa bangun dengan tenaga yang baru. Sehingga dapat bercengkerama dengan alam merbabu dalam suasana fajar dengan keindahan matahari terbitnya.
Malam masih berjaga. Tapat pukul 03.00, aku terjaga dan segera menyiapkan minuman hangat (sereal dan susu coklat). Rencana pagi ini, kami akan attact summit sekitar pukul 03.30. Raga yang masih malas-malasan terpaksa menawar target. Akhirnya kami berangkat tepat pukul 04.00.
Banyak pendaki yang memburu sambutan sang fajar di ketinggian Merbabu. Cuaca pagi ini diwarnai dengan angin yang lembut. Panorama fajar yang sangat cerah hanya bisa kukagumi dengan syukur. Barisan awan dengan warna emas karena mentari akan terbit, mengundang untuk tidak henti-hentinya memuji tuhan sang pencipta. Isteriku pun begitu. Ia terlihat sangat bahagia. Senyumnya terus mengembang, menebarkan kecantikannya yang luar biasa.

di bawah puncak triangulasi
Medan jalur dari Pos III menuju puncak didominasi oleh sabana dengan tetap menyusuri punggungan bukit. Bulan ini merupakan bulan terindah dalam menikmati hijaunya sabana Merbabu. Seolah-olah berada di hamparan permadanai warna hijau. Sejauh mata memandang hanya dimanjakan oleh tarian rerumputan yang berpadu harmoni dengan gugusan pegunungan di kejauhan. Ada gunung Merapi, Sumbing, Sindoro, perbukitan Prau juga Slamet. Sedangkan disisi timur, gunung Lawu dengan cantik tersenyum mengundang untuk ke sana. Isterikupun mengekspresikan kebahagiaanya seperti penari India, yang dengan santai rebahan di hamparan permadani alam. Sungguh ajib. Keren habis.
menatap bayang puncak merbabu, dari kenteng 8
Hingga akhirnya, target untuk menikmati sun-rise di puncak pun, kami batalkan. Isteriku dengan santainya berkata, “sun-rise ki udah biasa. Tapi indahnya sabana ini lho. Eman-eman kalau dibiarkan”. Saya hanya bisa nyengir. Semoga keceriaannya bisa menyembuhkan lengannya. Dan benarlah. Kebagiaan adalah obat paling mujarab untuk mengatasi segala penyakit. Ia sembuh.

romantis kan? hehe
Belum juga hati merasa terpuaskan, namun perjalanan juga perlu dituntaskan. Kuputuskan untuk meninggalkan sejenak keindahan sabana Merbabu jalur swanting ini. “Ayo, lanjut dulu. Entar dari puncak kita nyantai-nyantai lagi di sini”, pintaku. Insteriku dengan berat mengiyakan. Kami pun melanjutkan kembali pendakian. Hingga tepat pukul 05.45 kami tiba di  puncak Triangulasi. Lima menit kemudian, kami tiba di puncak Kenteng Songo (3.142 Mdpl). Syukur Tuhan atas penyertaan-Mu. Di sini kami bertemu dengan banyak pendaki yang sedang menikmati euphoria, kegembiraan karena mencapai puncak.

berdua kita bisa nyampai puncak merbabu
Pelan dan pasti, matahari bersinar dengan indahnya. Seolah-olah membuka rahasia pesona Merbabu. Mentari pagi ini, seolah mengajak kami untuk lebih lama berada di sini. Tetapi jelas hal ini tidak mungkin. Hingga kami pun memutuskan untuk kembali mengayunkan langkah turun.
Sepanjang perjalanan melewati deretan sabana Merbabu via Swanting ini, hati hanya bergetar, terkagum-kagum, terpana dan terkesima. Hamparan sabana yang begitu luas membawa aku secara pribadi berimajinasi ke alam yang tidak terbahasakan. Kami banyak berjumpa dengan pendaki lain yang menuju puncak. Ada beberapa yang saya kenal. Namun ada pula yang beru bertemu. Ada pula yang mengajak berfoto, “Moga besok kami bisa seperti bapake, muncak bareng karo bojone”[5]. Amin.
ketemu anak-anak AGMM Magelang. saudara baru
Sekitar 45 menit kami turun dan sampailah di tenda tercinta (Pos III). Segera kami pun membuat sarapan untuk memulihkan energi agar perjalanan turun kembali bertenaga.
Bernaung di bawah awan tipis yang sejenak menghalangi terik matahari, kami membongkar tenda dan kembali berkemas-kemas untuk meneruskan langkah pulang. Tepat pukul 09.00 kami meninggalkan Pos III. Melangkahkan kaki dengan gembira karena pengalaman yang mempesona. Namun perjalanan belum lah berakhir. Masih ada tantangan berikutnya. Menyusuri setapak yang menurun-sempit, licin dan rapuh-mudah longsor, kami harus ekstra hati-hati.
Satu per satu selter telah terlewati. Hingga tepat satu jam, kami telah sampai di Pos II. Sekitar 30 menit kami beristirahat, sambil menikmati perbekalan yang masih buanyak. Perut yang terisi menjadikan tenaga pulih. Kembali kami pun melangkah. Sekitar 40 menit, kami telah tiba di Pos I. Kembali kami mencoba menghabiskan perbekalan. Namun apa daya, perut punya daya tampung maksimal. Hingga akhirnya kami putuskan untuk segera turun ke base camp. Beristirahat di sana lalu pulang ke rumah.
Jadi waktu tempuh yang dibutuhkan untuk perjalanan turun dari Pos III sampai base camp sekitar 2 jam 40 menit. Cukup singkat. Tetapi itu semua tergantung pada kemampuan fisik para pendakinya.
Sesampainya di base camp, kami disambut oleh pengelola. Ada penerimaan yang sangat bersahabat. Kami pun banyak berbagi pengalaman. Mereka juga meminta masukan. Tujuannnya agar pengelolaan jalur ini semakin professional. Sekitar 60 menit kami ngobrol. Lalu kami pun berpamitan untuk meneruskan perjalanan. Meliuk kembali motorku di jalan beraspal dan tepat pukul 16.00, kami telah kembali tiba di rumah tercinta. Saatnya beristirahat untuk memulihkan tenaga. Agar besok bisa kembali menekuni rutinitas dengan segar.
Terimakasih Merbabu via Swanting, setapakmu telah mengajari banyak hal tentang arti hidup dan cara mengisinya. Bersama indah parasmu, kami mampu mengambil makna untuk mewarnai hari-hari perkawinan. Bersama teduh dan rindang pepohonanmu, kami bisa meneguhkan tekat untuk saling member perlindungan, dekapan dan saling mengayomi. Untuk mencapai sesuatu indah dibutuhkan pengorbanan, perjuangan, persiapan dan strategi. Biarlah petualangan ini menuntun kami untuk memadukan segala perbedaan kami berdua, hingga bisa menciptakan harmoni, seperti indahmu, Merbabu. Semoga, kami dapat kembali untuk belajar pada setapak yang sama, pada medan yang sama. Karena setiap petualangan akan  member pelajaran yang sama. Setapak dan jalur boleh sama, tetapi pengalaman akan selalu berbeda. Itulah yang akan membimbing untuk menjadi pribadi yang semakin berani berkorban, berani untuk selalu mengalah dan berani untuk selalu memberi. Semoga.

NB: untuk lebih detail tentang rute Merbabu via Swanting dari base camp dan mengenai keterangan nama-nama tempat,  info lebih lanjut dapat menghubungi Mas Dwi Indriyanto: cp 087839230300 WA 085727189769 pin BB 584DOC80 atau Mas Nugroho (Ambon): cp 087834306869 pin BB 5AD2D4CB (anggota Kapalla)




[1] Waktu aku turun ada satu pendaki yang jatuh ke jurang dan mengalami patah tulang. Pihak pengelola pun segera mengevakuasi secara professional. Sungguh bukti akan tanggungjawab yang luar biasa.
[2] Kendati ini adalah pendakianku yang kedua, namun saya lupa tidak menanyakan apa yang dimaksud dengan “Lemba”. Apakah itu maksudnya Lembah (karena salah penulisan) ataukah istilah khas dari dukuh ini.
[3] Pos baru, pos yang berada di puncak bukit. Di pos ini, terdapat area yang cukup luas untuk mendirikan tenda. Di pos ini menyajikan panorama yang luar biasa keren. Kota Magelang terlihat samar. Mungkin kalau malam hari, pemandangan lampu-lampu kota akan sangat memukau.
[4] Di selter ini dapat digunakan untuk mendirikan tenda sekitar 3-4. Cukup terlindung dari sinar matahari dan angin kencang. Namun disarankan untuk tidak mendirikan tenda di selter ini. Menurut penduduk setempat, Lemba Manding merupakan gerbang dunia gaib. Maka, disarankan untuk menghormati kepercayaan lokal (local wisdom).
[5] Untuk saat ini, mendaki bersama kekasih atau pujaan hati menjadi sebuah impian idial banyak pendaki. Dari  beberapa pendakian yang aku lakukan bersama isteri, mengundang banyak komentar, yang rata-rata pengin mengalami hal serupa.

Selasa, 07 April 2015

catatan perjalanan: Merbabu via Suwanting

MERBABU VIA SUWANTING: JALUR PENDAKIAN FULL SINYAL
Oleh: Heri
 
sabana merbabu swanting
Rasa rindu yang kian tak tertahankan akan segar udara dingin pegunungan menjadikanku berani menetapkan hari untuk melangkah. Rencana pendakian telah kutetapkan. Baik hari maupun tempatnya. Lama tidak menginjakkan pada setapak yang asing dan samar. Beberapa rute pendakian untuk gunung-gunung yang terjangkau sudah tidak lagi mengundang rasa ingin[1]. Maka aku pun mencari informasi tentang jalur-jalur baru. Hingga pada akhirnya menjelang musim pendakian ada informasi yang samar bahwa telah dibuka jalur baru ke gunung Merbabu, yaitu jalur Swanting.
Di tengah usia yang tidak muda lagi, maka aku pun menyiapkan sebaik-baiknya. Dua minggu cukup untuk menyusun langkah, baik persiapan fisik, mental maupun dana yang akan menopangnya. Telah sekian bulan aku tidak lagi menginjakkan kaki pada dataran tinggi. Oleh karena itu segalanya harus dipersiapkan secara masak-masak.
            Pada awalnya banyak yang berminat dan ingin gabung dengan ekspedisi Merbabu via Swanting ini. Namun, menjelang tiba hari yang ditentukan, jumlah aggota yang pasti berangkat hanya dua orang. Mereka adalah aku pribadi (sering dipanggil “pak”, karena memang aku seorang pendidik) dan ada satu muridku (Enggar).
            Minggu, 05 April 2015 tepat pukul 07.00 segala persiapan telah usai. Perbekalan dan peralatan telah selesai aku packing. Namun Enggar belum juga terlihat. Rencana awal memang akan berangkat sepagi mungkin, karena segala sesuatunya masih samar dan asing. Aku menunggu dalam cemas. Namun telah kutekadkat, seandainya Enggar tidak datang, maka tepat pukul 08.00 aku akan berangkat sendiri.
Tepat pukul 07.30, Enggar tiba di rumah. “maaf pak, tadi jam 06.30 baru tiba, semalam masih di Klaten”. Kumaklumi situasinya.
Segera kutata perlengkapan di motor kesayangan. Hingga tepat pukul 08.00, kami berdua meninggalkan Solo menuju Ketep Gardu Pandang. Karena menurut informasi yang masih samar, dukuh Swanting tidak begitu jauh dari tempat tersebut. Para pedagang yang berada di sekitar Ketep katanya telah tahu tentang dukuh Swanting.
            Sekitar 1,5 jam perjalanan, sampailah kami di Ketep Gardu Pandang. Aku tidak berhenti dan mencoba mencari tahu tentang keberadaan desa Swanting. Jalur Ketep Gardu Pandang menuju Kopeng buatku tidak terlalu asing. Maka aku juga yakin bahwa dukuh tersebut akan ketemu. Menurut informasi bahwa base camp berada di desa Sambiroto, dukuh Swanting. Desa itu aku telah tahu. Tinggal mencari dukuhnya saja. Sekitar tiga kilo meter dari Ketep Gardu Pandang menuju arah Kopeng, kulihat belokan yang  bertuliskan “Base Camp Merbabu dukuh Swanting”.
            Dengan yakin aku pun membelokkan motor sesuai dengan keterangan tersebut. Dari jalan beraspal kemudian berganti dengan cor-beton. Sepansang jalur cor-beton sepanjang 1,5 km yang penuh dengan kelokan, tikungan, naik serta turun menghantar kami tiba di base camp Swanting. Lega rasanya karena ternyata tidak terlalu sulit untuk menemukan base camp ini. Ramah penduduk setempat menyambut kami, menjadi obat lelah dan kecemasan.
base camp merbabu swanting
Para pemuda yang tergabung dalam paguyuban “Karang Taruna” menerima, menyambut dan mempersilahkan kami dengan sangat-sangat sopan, ramah dan penuh dengan rasa kekeluargaan.
Langkah pertama untuk memantapkan nyali adalah menggali informasi sebanyak-banyaknya. Medan baru dengan tanpa pengalaman dan tidak dengan orang yang pernah menanjak di jalur ini, maka informasi menjadi sangat penting. Jalur ini pada mulanya adalah jalur penduduk yang melakukan ritual ke puncak Merbabu. Maka jalur ini medannya cukup terjal. Untuk penduduk setempat hanya membutuhkan waktu 3-4 jam. Jalur ini belum memiliki ijin resmi dari pihak Taman Nasional Gunung Merbabu. Makanya, retribusi untuk setiap pendaki hanya Rp 3.000 ditambah biaya parkir motor Rp. 5.000. Karena jalur ini belum resmi maka tidak ada karcis, tidak juga ada asuransi. Namun soal tanggungjawab, pengelola jalur ini boleh diacungi jempol[2].
Satu hal yang sangat berkesan di base camp ini adalah penerimaan mereka. Walau baru pertama bertemu namun seolah-olah kita telah lama kenal. Hingga keakraban yang terjalin pun begitu dekatnya.
            Usai ngorol-ngobrol dengan penjaga base camp, tepat pukul 10.50 kami memulai pendakian. Mengawali misi ini, kami sangat santai karena sesungguhnya kami sedang terpesona. Kami disambut dengan sapaan penduduk yang luar biasa akrabnya. Setiap kami menyapa penduduk, mereka dengan ramah dan senyum selalu mengundang kami untuk berkenan singgah di rumahnya. Sungguh ini lah yang menjadikan perberbedaan dengan jalur pendakian lainnya. Keramahan penduduk Swanting kiranya akan menjadi daya tarik utama jalur ini.
Sekitar 8 menit meninggalkan base camp dan menyusuri jalan kampung, kita dihadapkan pada persimpangan. Kami mengambil arah kiri. Sedangkan arah kanan atu jalan yang bagus akan menghantar pada kampung sebelah. Sekitar 10 menit kita menyusuri jalur ladang penduduk. Lalu kami ketemu dengan batas hutan yang masih sangat lebat. Hutan pinus dan cemara dengan pepohonan yang rapat. Sekitar 5 menit kami menyusuri setapak hutan ini, ternyata kami telah sampai di Pos I, yaitu Lemba Lempong[3].
pos i lemba lempong
Di pos ini memiliki area yang cukup luas untuk mendirikan tenda. Pemandangan yang disajikan pun sudah cukup menarik. Ada keindahan perkampungan yang kalau malam hari pasti menyajikan panorama gerlap lampu neon. Tempat yang datar dengan kanopi-rimbun pepohonan. Juga hamparan padang rumput luas yang nyaman untuk tiduran. Untuk sampai di pos ini pun hanya membutuhkan waktu tempuh tidak kurang dari 25 menit. Di pos ini sinyal HP juga masih sangat kuat. Dari pengalaman pribadi jalur ini adalah jalur pendakian dengan sinyal yang paling kuat. Sepanjang perjalanan dari base camp sampai Pos III, SMS tetap lancar. Mungkin HP mereka-mereka yang sudah canggih, tetap bisa on line. Tetapi punyaku hanyalah HP jadul.
Sekitar 10 menit kami beristirahat. Lalu kami meneruskan langkah. Setapak terlihat jelas. Namun medan kian menanjak. Waktu tempuh dari Pos I ke Pos II sekitar 60 menit/ 1 jam. Sepanjang jalur ini, kami melewati 3 selter, yaitu secara berurutan Lemba Gosong, Lemba Cemoro dan Lemba Ngrijan. Masing-masing selter memiliki area yang dapat digunakan untuk mendirikan tenda antar 1-3. Sepanjang jalur masih diwarnai dengan pemandangna hutan yang lebat.
selter ke iii seblum pos ii, lemba ngrijan
Sekitar pukul 13.00, kami tiba di Pos II, yaitu Pos Lemba Mitoh. Pos ini menyuguhkan panorama yang lebih ajib dari pada Pos I. Panorama lembah terlihat, sedangkan punggungan bukit dan hutan yang menghijau asri terlihat di sisi kanan dan kiri. Di pos ini juga memiliki area untuk mendirikan tenda sekitar 6-7. Area yang cukup luas.
pos ii, lemba mitoh
Pada waktu itu aku sempat ngobrol dengan beberapa pendaki yang nenda di pos ini. Mereka mengeluhakn bahwa jalur ini adalah jalur yang berat. Waktu tempuh yang diceritakan oleh pengelola tidak sesuai dengan kenyataan. “orang sini bilange hanya 4 jam untuk sampai puncak. Kami aja dari pos 2 ke pos 3, butuh waktu 4 jam. Terus sampai di pos 3, kami melihat sabana dengan puncak yang masih sangat jauh. Kami perkirakan bahwa waktu tempuh dari pos 3 ke puncak sekitar 4 jam. Jadi yang diceritakan oleh pengelola itu sebenarnya adalah waktu tempuh dari pos 3 ke puncak. Tapi mase kan udah niat nanjak. Dinikmati saja”.
Aku pun bertanya, “memang mas-mase sudah sampai puncak?”
“Belumlah, kami baru sampai di Pos III.”
Dari keterangan itu, aku menjadi ciut nyali. Untungnya Enggar tidak mendengar keluhan pendaki-pendaki yang sudah turun tersebut. Di pos ini, kami beristirahat cukup lama. Perjalanan siang memang lebih menguras tenaga. Untungnya, sepanjang jalan kami dilindungi oleh kabut yang terus mengurung dan menaungi. Sekitar pukul 14.00, kami melanjutkan perjalanan. Petualangan ini mesti kami tuntaskan.
Tanjakan kian dahsyat, tanjakan tanpa bonus. Terus naik dengan kemiringan antara 25-40 derajat[4]. Sungguh medan yang tidak mudah untuk pendaki yang seusiaku. Aku dan Enggar sepakat untuk gantian membawa tas kerir, sebagai tas utama pengangkut perlengkapan utama. Setiap usai melangkah sekitar 10 meter kami berhenti untuk mengatur nafas. Perjuangan yang luar biasa.
Sekitar 1 jam meninggalkan Pos II, kami bertemu dengan selter Lemba Manding. Di selter ini dapat digunakan untuk mendirikan tenda sekitar 3-4. Cukup terlindung dari sinar matahari dan angin kencang. Namun disarankan untuk tidak mendirikan tenda di selter ini.
Selepas Lemba Manding, medan makin menantang, tanjakan curam dengan kemiringan 40-55 derajat. Belum lagi diperparah dengan setapak yang licin. Wajarlah karena jalur ini tertutup rapat, sehingga sinar matahari sulit menembusnya. Harus ekstra hati-hati. 40 menit dari Lemba Manding, kami sampai di selter berikutnya, yaitu Dampo Awang. Selter ini, bisa digunakan untuk peristirahatan sementara. Kalau pun mau mendirikan tenda, selter ini hanya bisa menampung maksimal 2 tenda.
selter terakir sebelum pos iii, dampo awang
Cuaca siang dengan perut yang belum terisi penuh, menjadikan kami kian sempoyongan. Target kami adalah Pos III. Di pos tersebut ada mata air. Sehingga kami dapat memasak secara leluasa. Dengan sisa-sisa tenaga, kami terus melangkah. Bagiku selama kaki masih mau melangkah maka sejauh apapun medan pendakian pada akhirnya akan terselesaikan juga.
 Sekitar pukul 16.00, kami telah keluar dari batas hutan mandingan. Kami dihadapkan pada tanjakan sabana. Hati pun bergirang-senang. Pasti sebentar lagi Pos III. Namun tenaga yang hampir punah menjadikan niat tidak juga menjadi kenyataan. Di depan mata sudah terlihat penanda mata air. Tetapi kaki tak juga segera mencapainya. Keinginan yang kuat tak juga menegakkan raga yang memang sudah sempoyongan. Akhirnya, kami putuskan bahwa aku akan duluan mencapai Pos III, sedangkan Enggar akan pelan-pelan menyusul yang sekalian akan membawa air. Tepat pukul 16.30, aku pun tiba di Pos III, yaitu Pos Swanting.
nyampe di pos iii, swanting
Pos ini sangat idial untuk mendirikan tenda. Cukup luas. Bisa menampung sekitar 20 tenda. Kalau beruntung bisa menikmati keindahan sunset. Tapi pada saat ini, kami belum beruntung. Dekat dengan sumber air. Bila fisik dengan keadaan normal hanya membutuhkan waktu tempuh 5 menit. Tetapi bila tenaga sudah nyaris habis, maka butuh waktu yang lama. Kendati aku dan Enggar masih bisa terus menjaga komunikasi. Namun Enggar tidak muncul-muncul. Hingga tepat pukul 16.50, Enggar sampai di Pos III. Lega rasanya.
Segera kami mencari tempat tenda yang paling nyaman. Tidak menunda lama, kami dengan cepat mendirikannya, memasak, membuat api unggun, sambil menikmati lagu-lagu dari M3 Player. Tentunya, sambil terus ber-SMS ria dengan orang-orang tercinta.
Dengan demikian dapat kami katakan bahwa waktu yang kami butuhkan dari base camp sampai pos 3 adalah 6 jam. Namun kalau mau dirinci, sebenarnya yang kami butuhkan adalah:
1.      Base camp – Pos I, Lemba Lempong : 23 menit.
2.      Pos I – Pos II, Lemba Mitoh : 60 menit.
3.      Pos II – Selter Lemba Manding : 60 menit.
4.      Lemba Manding – Selter Dampo Awang : 30 menit.
5.      Dampo Awang – Pos III, Swanting : 30 menit.
            Jadi perjalanan kami sekitar 3 jam 23 menit. Waktu yang lainnya adalah untuk istirahat. Sebuah pendakian yang tergolong sangat-sangat santai.
            Hindangan malam telah siap. Kami pun makan malam dengan nikmat, yaitu kentang rebus dengan lauk istimewa. Hingga kami pun kekenyangan. Sekitar pukul 20.00, Enggar telah mendahului dengan dengkur. Sedangkan aku masih sibuk SMS-an dengan isteri tercinta sambil menikmati panorama malam yang indah luar biasa. Terang bulan (tgl 16/ bulan purnama-1) yang bersanding dengan taburan bintang. Angin manja, bukit dengan deretan sabana yang maha luas dan tarian pepohonan hutan. Serta di kejahuan terlihat kerlipan lampu-lampu kehidupan penduduk lintas daerah. Sungguh panorama yang ajib. Keren.
Malam masih berjaga. Tapat pukul 02.30, aku terjaga dan segera menyiapkan sarapan. Rencana pagi ini, kami akan attact summit sekitar pukul 03.30. Raga yang masih malas-malasan terpaksa menawar target. Akhirnya kami berangkat tepat pukul 04.00. Cuaca pagi ini didominasi badai yang lembut. Sesekali angin kencang dan membawa kabut tebal. Namun lebih seringnya mendapat cuaca yang bersahabat.
Indahnya panorama pegunungan saat fajar yang nampak remang-remang di bawah naungan cahaya purnama-1 menjadi daya dorong yang luar biasa. Rapuh raga dan penat badan terkalahkan dengan seketika. Kami berdua bergerak cepat meninggalkan kepenatan itu dan melesat menuju setapak yang samar. Setapak masih kecil, belum terlalu kentara. Untungnya setiap melewati pohon kantigi hampir selalu ada penanda berupa arah dari plat seng. Setiap kali melihat tanda itu kami yakini sebagai medan yang benar.
Medan jalur dari Pos III menuju Puncak didominasi oleh sabana dengan tetap menyusuri punggungan bukit. Menurut penduduk setempat punggungan bukit itu berjumlah 9. Menurut kepercayaan penduduk setempat legenda nama Kenteng Songo, sebagai puncak tertinggi Merbabu berasal dari jalur ini. Kenteng berarti bukit. Maka ada 9 bukit. Nama kentang songo berarti bukit yang kesembilan. Kami tidak banyak beristirahat dan membuang waktu. Target golden sunrise mesti tercapai. Kami hanya berhenti untuk mengatur nafas. Misalkan kami nekat berhenti lama, pasti akan kedinginan karena terpaan angin yang cukup kencang.
sabana merbabu swanting
Hingga akhirnya, tepat pukul 05.00 kami tiba di  puncak Triangulasi. Lima menit kemudian, kami tiba di puncak Kenteng Songo (3.145 Mdpl). Syukur Tuhan atas penyertaan-Mu. Di sini kami bertemu dengan beberapa pendaki yang nge-kem di puncak. Kami pun saling berbagi cerita. Persahabatn yang khas anak gunung.
menunggu sunrise merbabu
Keindahan alam saat gelap berganti terang bila dilihat dari ketinggian memang selalu luar biasa. Hanya ada decak kagum. Pagi ini tepat pukul 05.30 indah panorama sunrise menyambut kami. Hanya ada rasa syukur atas keindahan yang boleh kami nikmati dan alami. 
berdua kami sampai di puncak merbabu. sunrise
Pelan dan pasti, matahari bersinar dengan cerahnya. Mentari pagi ini, berhasil menghalau gumpalan awan hitam dan menyingkirkan kabut putih pegunungan. Aku dan Enggar bertekat untuk menikmati keindahan sabana sepanjang perjalanan turun. Segera setelah mentari bersinar dengan lantang, kami pun memutuskan untuk kembali mengayunkan langkah turun ke peradaban.
Sepanjang perjalanan melewati deretan sabana Merbabu via Swanting ini, hati hanya bergetar, terkagum-kagum, terpana dan terkesima. Hamparan sabana yang begitu luas membawa aku secara pribadi berimajinasi ke alam yang tidak terbahasakan. Sekitar 45 menit kami turun dan sampailah di tenda tercinta.
sabana merbabu swanting
sabana yg keren
Bernaung di bawah awan tipis yang sejenak menghalangi terik matahari, kami membongkar tenda dan kembali berkemas-kemas untuk meneruskan langkah pulang. Tepat pukul 08.30 kami meninggalkan Pos III. Melangkahkan kaki dengan keyakinan penuh bahwa sore ini kami akan segera bertemu dengan orang-orang yang senantiasa mencintai kami. Menyusuri setapak yang menurun-sempit, licin dan rapuh-mudah longsor, kami harus ekstra hati-hati.
tenda tercinta di pos iii swnating merbabu
Satu per satu selter telah terlewati. Hingga tepat satu jam, kami telah sampai di Pos II. Sekitar 30 menit kami beristirahat, sambil menikmati perbekalan yang masih buanyak. Perut yang terisi menjadikan tenaga pulih. Kembali kami pun melangkah. Sekitar 40 menit, kami telah tiba di Pos I. Kembali kami mencoba menghabiskan perbekalan. Namun apa daya, perut punya daya tamping maksimal. Hingga akhirnya kami putuskan untuk segera turun ke base camp. Beristirahat di sana lalu pulang ke rumah. Dari Pos I ke base camp membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Cukup singkat.
Adapun waktu tempuh perjalanan turun dari puncak sampai base camp adalah sebagai berikut:
1.      Puncak – Pos III, Swanting : 45 menit.
2.      Pos III – Pos II, Lemba Mitoh : 60 menit.
3.      Pos II – Pos I, Lemba Lempong : 40 menit.
4.      Pos I – Base Camp : 15 menit.
Jadi waktu tempuh yang dibutuhkan untuk perjalanan turun sekitar 2 jam 40 menit. Cukup singkat. Tetapi semua tergantung pada kemampuan fisik para pendakinya.
Sesampainya di base camp, kami disambut oleh pengelola. Ada penerimaan yang sangat bersahabat. Segelas teh telah menanti. Kami pun banyak bercakap, berbagi pengalaman. Mereka juga meminta masukan. Tujuannnya agar pengelolaan jalur ini semakin professional. Jalur ini akan masih banyak mengalami perubahan dan perbaikan. Sekitar 60 menit kami ngobrol. Lalu kami pun berpamitan untuk meneruskan perjalanan. Meliuk kembali motorku di jalan beraspal dan tepat pukul 14.00, aku telah kembali tiba di rumah. Saatnya beristirahat, memulihkan tenaga. Agar besok bisa kembali bekerja dengan segar. Terimakasih Merbabu via Swanting, setapakmu telah mengajari banyak hal tetnag arti hidup dan cara mengisinya. Semoga ada waktu untuk kembali belajar pada setapak yang sama.




[1] Harianku aktif sebagai karyawan. Aku bekerja di salah satu sekolah swasta Solo. Maka untuk terus bisa menyalurkan hobi mendaki gunung, biasanya aku lakukan di gunung-gunung yang terjangkau (maksudnya adalah dekat dengan kota Solo dan dapat dicapai dengan waktu tempuh hari Sabtu-Minggu). Oleh karena itu gunung yang paling sering aku daki adalah Lawu, Merapi dan Merbabu.
[2] Waktu aku di sana ada satu pendaki yang tersesat, dan pihak pengelola dengan cekatan langsung menyusur kembali dan berjuang untuk segera menemukan. Pada waktu itu, tengah malam pendaki yang tersesat karena salah jalur sudah ditemukan.
[3] Pada jalur ini, banyak nama pos dan selter yang menggunakan nama “Lemba”, saya tidak sempat menanyakan apa yang dimaksud dengan “Lemba”. Apakah itu maksudnya Lembah (karena salah penulisan) ataukah istilah khas dari dukuh ini.
[4] Menapaki jalur Merbabu via Swanting ini, mengingatkanku pada jalur Rinjani via Sembalun, yaitu tujuh bukit penyesalan. Trek yang naik terus, tanpa bonus. Dengan medan licin, hutan lebat yang membutuhkan tenaga ekstra.