Minggu, 14 Juni 2020

Pengalaman (Cerita) Mistis II: “Penampakan 3 Pendaki di Gunung Lawu Via Cemoro Kandang”


Pengalaman (Cerita) Mistis II:
“Penampakan 3 Pendaki di Gunung Lawu Via Cemoro Kandang”
Oleh: Heri Jimanto
aku yg pakai sorjan

Salam jumpa sobat petualang dalam sebuah kisah.
         Kali ini, aku akan berkisah tentang hal “aneh” dalam pendakian Gunung Lawu via Cemoro Kandang. Pengalaman ini sudah lama aku simpan dalam ingatan. Awalnya aku hanya berbagi dengan satu atau dua orang yang memang pengin banget mengerti tentang adanya hal “aneh” dalam dunia pendakian.
            Kisah ini bagiku cukup “aneh” walau mungkin untuk kebanyakan orang merupakan hal biasa. Semoga kisah ini menambah perbendaharaan dan varian dari kisah-kisah misitis atau kisah horror gunung, khususnya cerita mistis di gunung Lawu. Adanya banyaknya kisah “aneh” menandai bahwa hidup ini diselimuti oleh barbagai misteri. Dalam hidu ini ada yang memang sudah sangat jelas, tetapi ada pula yang masih berupa rahasia alam.
            Samar ingatku kembali pada masa lalu. Di penghujung November 2007. Sudah cukup lama. Ya, sekitar 13 tahun. Namun, pengalaman ini begitu kuat dalam ingatan. Bahkan seolah-olah baru saja terjadi kemaren sore. Aku lupa tanggalnya, tetapi ingat harinya, yaitu Sabtu malam Minggu.
            Pada waktu itu aku sempat magang di Solo, hingga dalam beberapa bulan ketemu teman-teman yang gemar mendaki. Tentu, pada tahun-tahun ini penggemar kegiatan ini belumlah sebanyak sekarang (2020). Sengaja kami, memilih hari malam libur nasional, karena berharap bisa ketemu atau bareng dengan rombongan lain.
            Sesuai hari yang disepakati, kami berlima cowok semua (sengaja aku tidak sebutkan nama-nama mereka). Awalnya kami berencana 7 orang. Tetapi pada hari yang ditentukan yang bisa start bareng hanya 5 orang, sedangkan yang 2 akan menyusul.
            Jam 15.00, kami telah berkumpul di terminal Tirtonadi. Hidup ini kadang penuh kejutan. ada hal-hal yang tak terduga dan tak mampu diprediksi. Ternyata, hari ini banyak bus yang mogok kerja karena menuntut kenaikan tarif. Bahkan seluruh bus jurusan Tawangmangu tak ada satu pun yang jalan. Tak ada rotan, akarnya pun jadi. Kami berpikir mencari alternatif, kami naik angkutan jurusan yang sama. Hal ini tentu akan butuh waktu lebih lama, karena angkutan cenderung lebih sering untuk menaikan dan menurunkan penumpang. Angkutan bergerak pelan menuju timur dengan mantap menjemput tiap rejeki yang berjajar di sepanjang jalan Solo-Tawangmangu. Baru sampai Karangpandan, ban angkotan pecah. Demi mengejar waktu, kami pun ganti angkutan. Tibalah kami di terminal sekitar pukul 17.00. Segera kami mencari angkutan ke Telaga Sarangan. Sayang, waktu sudah terlalu senja sehingga minim penumpang. Menunggu terkumpulnya penumpang tak juga kunjung. Akhirnya kami memutuskan mencharter angkutan tentu dengan harga yang lebih mahal.
            Mentari telah berlalu dari tugasnya. Angkutan merangkak meniti kelokan jalan yang banyak naiknya dari pada turunan. Hingga akhirnya angkutan yang kami charter tak kuasa menyelesaikan misi. Gagah penampilan, tak berdaya di mesinnya. Masih seperempat perjalann menuju beskem Cemoro Kandang. Tantangan ini tak menyurutkan nyali, kami putuskan untuk jalan kaki, sekalian pemanasan. Terlihat di sepanjang pinggir jalan tertandai bekas hujan yang cukup deras. Berarti setapak Lawu agak becek yang tentunya akan lebih licin.
            Akhirnya, kaki kami bisa mendarat di sekitaran beskem. Kami mencari warung makan dulu guna menyiapkan diri, membekali dengan asupan gizi yang cukup. Saatnya makan dan menikmati segelas kopi panas. Mantap.
            Obrolan bercampur candaan ikut menghabiskan suasana sekitaran Cemoro Kandang yang dingin syahdu. Bergegas kami packing ulang. Setelah dirasa semuanya telah siap, tepat waktu berada pada angka 21.00, kami pun memulai petualangan ini. Target bisa menikmati sun rise di puncak Lawu.
            Tantangan dari beskem sampai Pos 1 tidak terlalu terasa. Istirahat sebentar. Lanjut lagi. Begitu pula antara Pos 1 - Pos 2 juga berjalan aman dan lancar. Hati makin mantap untuk bisa menginjakkan kaki sebelum matahari bekerja di atas puncak. Selepas Pos 2, saat merambati tebing jurang yang di sisi kiri berpengaman pagar kawat hal “aneh” mulai terasa.
            Karena ini merupakan pendakian perdanaku pada setapak Gunung Lawu, maka aku pun bertanya, “Kenapa ada pagar kawat?” (pagar dari besi yg tdk terlalu besar. Sekarang sisa-sia pagar ini masih ada, cuma sudah banyak yang roboh). Temanku menjelaskan bahwa dulu pernah ada pendaki yang tergelincir ke jurang sisi kiri dan meninggal. Entah kenapa ketika tahu penyebab dipasangnya pagar tersebut, bulu kudukku langsung berdiri. Aku nikmati dan biarkan pertanda alami itu. Setelah itu, aku tidak merasa ada sesuatu yang aneh dengan diriku. Semuanya kembali berjalan sewajarnya.
            Setelah mengitari perbukitan yang berpagar kawat medan landai membentang (sekarang berdiri pos selter setelah pos 2). Sekitar pukul 01.00, kami memulai pendakian yang cenderung datar penuh kelak-kelok. Sebenarnya medan ini cenderung enak, hanya membutuhkan kesabaran karena memang penuh lika-liku. Keanehan itu justeru terjadi pada salah satu temanku. Sebentar-sebentar meminta berhenti. Ia tidak bercerita apa-apa. Aku hanya melihat kalau ia sangat kepayahan. Terlihat teramat sangat berat untuk melangkah. Metode 5-10 pun kami terapkan. Berjalan 5 menit dan beristirahat 10 menit. Untuk yang masih prima metode ini justeru akan menguras tenaga. Tetapi bagi yang sudah sempoyongan, metode ini cukup mumpuni untuk terus bergerak mencapai tujuan.
            Hingga akhirnya tepat pukul 04.00, kami tiba di Pos 3. Karena hanya rombongan kami yang mendaki, jelaslah kalau selter kosong, tidak ada orang. Segera aku bukakan matras dan kukeluarkan SB. Temanku yang kepayahan segera aku minta untuk masuk SB dan rebahan. Udara di dalam selter sebenarnya sudah cukup hangat. Namun, karena ada teman yang ngedrop, aku pun segera merakit peralatan masak, rebus air dan siap-siap membuat minuman hangat. Sambil menunggu air mendidih kunyalakan perapian. Di selter ini, sudah tersedia kayu kering, sisa-sisa dari pendaki lain. Api menyala, kami segera merapat mengelilingi api unggun.
            Kuracik minuman hangat berupa teh panas yang manis (=kesukaan orang Solo). Aku yang terbiasa membawa peralatan masak dengan logistiknya serta peralatan pendukungnya, segera kusiapkan gelas plastik tumpuk. Saat kuhitung teman-temanku yang harusnya hanya ada 5 termasuk diriku. Mendadak ada 8 orang. Artinya ada tambahan 3 pendaki lain yang ikut berdiang di sekitar api unggun. Kami tidak ada yang bicara, hanya diam sambil menahan kantuk. Aku juga tidak menanyakan kedatangan ketiga rombongan pendaki yang ikut bergabung dengan kami tanpa permisi. Aku berpikir setelah minuman jadi, sambil menyodorkan minuman itu nanti sekalian bertanya walau hanya sekedar basa-basi keakraban.
            Saat minuman siap aku tawarkan ke teman-teman. Tiba-tiba salah satu temanku bertanya, “Kok banyak sekali buatnya. Kita kan hanya 5 kenapa buat 8?” Pertanyaan ini tak sempat aku jawab, karena perhatianku segera teralihkan untuk menghitung ulang ketiga pendaki yang ikut berdiang di sekitar api. Dan memang mereka tidak ada. Hanya kami berlima. Bulu kuduku tanpa dikomando langsung berdiri tegak. Selter di pos 3 ini hanya ada satu pintu dan itu terhalang olehku. Sebenarnya, kalau aku berpikir jernih dari awal, jelas tidak akan ada pendaki yang bisa masuk ke selter tanpa aku ketahui (karena sebelum sampai perapian harus melewatiku, artinya aku pasti melihatnya).
            Demi prinsip dalam sebuah pendakian  gunung bila berjumpa dengan hal-hal “aneh” sebaiknya simpan saja sampai turun ke bawah dan ceritakan setelah beberapa hari. Aku pun diam sejenak dan mencari alasan yang bisa diterima, “Biarlah, aku kan haus 1 gelas tidak cukup”. Untung temanku tidak mengejar lebih jauh. Aman rasanya. Sekitar 45 menit, temanku yang tepar terdengar mendengkur dan terpaksa kami bangunkan untuk minuman hangat, agar kondisi tubuh makin prima. Sekitar pukul 05.00, remang-remang cahaya pagi telah menyingkap gelap malam. Temanku ternyata telah bugar. Belum kami beranjak dari pos tiga guna meneruskan langkah. Mendadak ada teriakan dari bawah memanggil-manggil nama kami. Tak berapa lama, 2 orang pun muncul dan itu adalah teman-teman kami yang memang akan menyusul.
            Bertujuh kami pun meneruskan petualangan ini. Lancar. Tidak ada kendala yang berarti. Puncak pun dapat kami gapai bersama dan kemudian turun bersama-sama juga. Sekitar pukul 14.00, kami telah sampai di beskem Cemoro Sewu. Istirahat sebentar, mencari makan siang dan menikmatinya. Lanjut naik angkot, ganti Bus jurusan Solo dari terminal Tawangmangu. Sambil terkantuk-kantuk di dalam bus, kembali aku teringat dengan ciri-ciri tiga pendaki yang ikut berdiang bersama. Ah, mungkin itu hanya ilusiku karena memang lelah ragaku. Semalaman tidak tidur dan rasa kantuk teramat ganas, hanya karena demi kesetiakawanan aku abaikan kantuk itu.
Terimakasih untuk kisah perjalanan dan petualangan ini bahwa aku pernah merambati setapak Lawu lintas jalur Cemoro Kandang-Sewu dengan segala misteri dan keindahannya. Semoga kisah dan pengalaman ini akan selalu menjadi guru dan pelita hidup dalam petualangan-petualangan berikutnya. Salam.

Selasa, 09 Juni 2020

Pengalaman (cerita) Mistis I: “Jeritan Wanita Gunung Merbabu Via Wekas”


Pengalaman Mistis:
“Jeritan Wanita Gunung Merbabu Via Wekas”
Oleh: Heri Jimanto

Salam jumpa sobat petualang dalam sebuah kisah.
            Sobat petualang, dalam situasi dunia yang baru dikunci Corona maka cerita-cerita terbaru dari petualangan jelas tidak ada. Kecuali mereka yang “Ora Manut”, mereka yang tidak ikut anjuran Pemerintah jelas akan mencari celah untuk bisa menjelajah. Memang dalam situasi seperti ini, hati cenderung mencari obat jenuh. Aktifitas manusia berubah total, bagi yang masih terikat dengan pola lama maka dengan sendirinya akan berusaha mengurai penat hati.
            Aku pun juga begitu, pengalaman masa lalu yang sering naik gunung menjadikan kaki terasa kaku, ingin dibuat gempor dan kelelahan lagi. Namun, apa daya aku hanyalah insan biasa yang mencoba menjadi anggota masyarakat taat agar situasi ini lekas terkendali dan bisa beraktifitas layaknya seperti hari-hari yang lalu.
            Demi mengurai rindu, album foto dalam komputer masih menjadi obat yang paling mujarab. Di balik foto yang tak bergerak ada kenangan yang menari lincah mengajak hadir kembali dalam peristiwa. Dari kilasan berjuta kisah, kali ini aku akan bercerita tetanng pengalaman mistis. Memang sudah banyak pendaki yang  berkisah. Aku awalnya mencoba menyimpan peristiwa-peristiwa unik itu tetap menjadi sebuah rahasia. Namun, dalam situasi seperti ini, kisah-kisah tentang yang “aneh” bisa saja menjadi pembelajaran bersama. Maka, dengan hati ihklas aku bagikan.
            Pernah kudengar nasehat dari pendaki kawakan (=kalau tidak mau disebut senior), “Dalam setiap pendakian, bila mendengar, melihat, atau merasakan sesuatu yang aneh atau tidak wajar jangan sekali-kali diceritakan. Kisahkan lah itu setelah usai mendaki. Berilah jeda beberapa hari”. Sampai hari ini bila sesekali aku mengalami hal-hal yang “aneh” aku akan menjaganya agar tetap rahasia.
            Lama tidak menjelajah dan tidak berpetualang akan menjadikan blog pribadi yang kukelola nantinya berkarat. Biasanya bila tidak ada kisah baru yang dibagikan, maka tidak ada pengunjung atau jarang dikunjungi. Dari kenyataan ini, maka kuputuskan demi menjaga silahturahmi, demi terjalinnya relasi sesama petualang dalam dunia kata, aku rela membongkar kenangan-kenangan pengalaman “aneh” yang tidak biasa untuk kubagikan.
            Mungkin aku akan berbagai beberapa pengalaman. Aku tidak bermaksud mengganti tema blog yang awalnya hanya berisi catatan perjalanan menjadi blog yang bertema horror. Bila situasi telah pulih dan terkendali, kupastikan akan ada kisah-kisah petualangan yang mengasikkan untuk kulukis ulang dengan deretan kata.
***
            Kisah “aneh” pertama yang ingin kuceritakan adalah pengalaman pertama mendaki Gunung Merbabu via Wekas.
            Putaran waktu merajut kisah demi kisah. Peristiwa ini terjadi di akhir Januari 2005. Kendati lebih dari 15 tahun, namun masih gampang muncul di permukaan ingatan. Pada waktu itu aku berstatus mahasiswa. Anak kos-kosan. Bukan anggota mapala. Hanya sekedar berkegiatan untuk memiliki cerita di hari esok. Pendakian ini baru ketiga kali aku jalani dan pendakian ini juga baru pertama kali untuk ketinggian di atas 3.000 mdpl.
            Sekitar pukul 13.00 kami meninggalkan terminal Jombor, Yogjakarta mengarah ke utara. Melaju kadang pelan, kadang juga cepat dan sampailah di terminal Magelang. Saatnya berpindah armada jurusan Salatiga yang melewati Kopeng. Bus tanggung bergerak membawa kami berdelapan, cowok semua dan doyan-doyannya makan. Sesekali kami membongkar tas untuk mengais logistik perbekalan. Bukannya dimakan saat di jalur tetapi malah di bus. Sesampainya di pertigaan ke arah base camp Wekas, kami pun turun.
            Saat itu, belum ada angkutan menuju ke atas. Masih mengandalkan kebaikan orang, yaitu para sopir pembawa sayur. Satu jam kami menunggu, tetapi tidak ada tanda-tanda mobil yang lewat. Kami putuskan untuk berjalan sambil berharap tersusul mobil sayur yang bisa ditumpangi. Namun yang diharap tak juga memberi sinyal.
Hari menjelang gelap, kami masih tertatih di jalan tak beraspal, hanya batu yang tertata rapi, khas jalan-jalan area pegunungan. Belum sempat kami melihat rumah beskem apalagi menginjakkan kaki guna istirahat sejenak, mendadak mendung menggulung membuncah menjadi tarian air. Kami bergegas menuju salah satu rumah penduduk, merayu tuan rumah yang punya anak perawan nan cantik molek, “kembang desa” untuk memberi kami kesempatan berteduh di dalam rumah.
Satu jam menunggu hujan tak ada niat untuk berhenti. Akhirnya kami melobi tuan rumah untuk memasakkan bekal yang kami bawa, karena kami memang harus makan. Berdiang di depan tungku perapian sambil bercerita dengan tuan rumah, kami sesekali saling curi pandang untuk melirik anak tuan rumah, “Ayu tenan”, komentarku. Kulirik arloji, waktu menunjuk angka delapan dan hujan pun mulai merenggang, kami nekat berpamitan untuk melanjutkan langkah menuju beskem. Sekitar 20 menit kami berjalan, sampailah kami di beskem.
Di tahun-tahun ini, bahwa mendaki bisa berjumpa dengan rombongan lain adalah sebuah kemujuran. Apalagi pendakian yang tidak dieksekusi di hari malam libur nasional. Beskem lengang, tak ada yang berjaga, mungkin sudah tidur. Kami pun mengetuk, dibukakan dan dipersilahkan. Dari informasi yang kami kumpulkan diperoleh kepastian bahwa tidak ada yang menanjak, hanya rombongan kami. Juga tidak ada yang besoknya akan menanjak. Jelaslah hanya kami yang akan bercengkerama dengan keindahan Merbabu via Wekas ini.
Oh ya, hari ini adalah Kamis malam Jumat. Malam yang dikeramatkan untuk orang-orang tertentu. Tetapi kami hanya sekedar ingin berkunjung dan bercengkerama dengan keindahan alam Merbabu. Tidak lebih dari itu. Sekitar pukul 22.00 kami mulai bergerak, yang sebelumnya tentu telah kami awali dengan doa. Berjalan pelan menyusuri lorong jalan desa, ladang dan sampailah kami di perbatasan hutan. Kami berhenti sejenak untuk menyiapkan mental sebelum masuk ke area hutan. Tekad lebih terbajakan agar semuanya lancar. Dasar kami, anak-anak yang masih muda dan cowok semua kami lebih banyak berceloteh tidak jelas.
Gerbang hutan terlewati, namun belum 10 menit salah satu teman kami berteriak memohon untuk berhenti. Ada nada kepanikan, aku pun menjadi was-was. “Ada apa?” Tanya ketua rombongan. Temanku menjawab, “Kebelet”. Wajah tegangnya membuyarkan dongkol hati. Lalu ia pun  mencari singgasana untuk menuntaskan misi isi perutnya.
Kami pun melanjutkan kisah, kembali melangkah. Sungai kecil telah kami lewati, setapak terjal menyambut kami. Gagah langkah awal kami, mendadak ciut nyali dihajar curamnya tanjakan. Namun semangat menguatkan niat, hingga kami pun terus mampu melaju, menjejakkan tanah lapang bertuliskan pos satu.
Istirahat sejenak guna menata sisa tenaga. Sekitar pukl 00.00 kami kembali bergerak meninggalkan pos satu. Usai istirahat dua temanku yang terlihat paling gagah mendadak melemah dan sempoyongan. Langkahnya gontai. Aku mulai heran dan bertanya-tanya, “Harusnya setelah beristirahat tenaga akan berlimpah dan jalan akan lebih gagah. Namun, ini tidak demikian. Aku yang jadi sweeper pun menghampiri temanku dan menanyakan keadaanya. “Aku heran kok aku habis tenaga ya”, jawabnya. Segera kulihat tasnya yang hanya ada sebotol air, jaket dan mantol. Tidak lebih. Teman satu juga menyampaikan hal yang sama. Aku juga segera melihat dalam tasnya, beban bawaannya juga hampir sama. Harusnya tidak menjadi masalah.
Ada apakah ini, satu teman telah digerus pencernaannya, kini ada 2 teman yang kehilangan daya. Dari belakang aku berteriak untuk menghentikan langkah teman yang paling depan. Mereka pun berjalan pelan sambil mencari tempat lapang guna nyaman untuk rehat sejenak. Sekitar 10 menit kami berjalan dan semua telah genap berkumpul di bawah pohon. Belum juga aku menyampaikan rasa heranku, tiba-tiba angin bertiup kencang. Kabut pun datang, pandangan menjadi tak jelas, sorot senter tak begitu jauh menembusnya. Lalu, dengan segera hujan rintik pun datang.
Tak menunggu lama, kami segerga bergegas mengeluarkan mantol kelelawar (pada tahun-tahun ini, mantol kelelawar adalah alat serba bisa, untuk matras, selimut, tenda/ selter juga yang pasti adalah sebagai jas hujan). Kami tahu bersama, dalam situasi seperti ini, bila berhenti tanpa tenda maka akan membeku kedinginan. Kami putuskan pelan-pelan terus berjalan, supaya raga tetap hangat. Hujan rintik pelan membasahi bumi, setapak menjadi licin, kami tidak ciut nyali. Terus bergerak menembus asa.
Karena prinsip, “alon-alon asal melangkang”, kami pun tiba di pos 2 sekitar pukul 02.00. Tanah lapang yang cukup longgar ditambah ada sumber air, menjadikan kami beristirahat  agak lama. Kami pun membongkar tas, merebus air guna membuat minuman hangat. Kami duduk saling berdekatan, mengelilingi kompor sambil menikmati perbekalan.
Di lereng bukit sebelah kiri, tiba-tiba aku mendengar teriakan histeris. Karena suasana gunung yang lengang dan tengah malam, dengan sendirinya suara itu nyaring terdengar jelas. Aku melihat reaksi teman-temanku. Tak ada sesuatu pun. Hanya aku kah yang mendengar suara itu. Tak berani aku bertanya, karena ini adalah prinsip. Aku tunggu, kalau-kalau ada pengulangan teriakan. Satu menit menunggu, tidak ada apa-apa. Dua menit menyusul sampai sepuluh menit. Teman-temanku terlihat tidak ada perubahan sikap. Berarti hanya aku yang mendengar.
Aku pun diam tak bercerita.
Sebelum kami melanjutkan perjalan, teriakan itu muncul lagi. Aku memutar mata, melihat satu persatu reaksi teman-temanku, tidak ada tanda-tanda kalau mereka mendengar suara itu.
Ya sudahlah. Kami pun bergegas melanjutkan kisah. Aku tetap sebagai sweeper. Belum 10 menit meninggalkan pos 2, teriakan ketiga kembali terdengar dan reaksi teman-temanku tetap sama. Tak bisa dibohongi aku pun medadak ciut nyali, bulu kudukku pun berdiri. Ada kecemasan yang merasuk ke hati. Namun, dengan keteguhan nalar kucoba tepis itu semua. Kembali kaki melangkah, hingga sampailah kami dipertigaan yang mana kami harus belok ke kiri menuju puncak lembah (persimpangan jalur dengan Kopeng).
Dalam lelahku, sembari mengatur nafas. Kunikmati cerah cuaca.  Hening suasana fajar terpecahkan kerasnya teriakan hesteris yang menyayat hati. Terdengar sangat pilu. Ya, suara wanita itu muncul lagi. Kulihat reaksi ketujuh temanku tetap sama. Seolah-olah tidak ada apa-apa. Hati bergetar merambat kecelah sendi hingga lutut kokohku mendadak goyah, hampir ambyar.
Kutegarkan hati dan tekad bahwa ini hanya “Krungon-krongonen”, seolah-olah mendengar suara pada hal aslinya tidak ada apa-apa. Kembali kaki melangkah mengikuti teman-teman yang berjalan pelan menuju puncak lembah. Sesampainya di persimpangan jalur Wekas-Kopeng, ke 4 temanku menyerah. Mereka mengatakan, “Selesailah sudah, cukup kami sampai di sini”. Aku mencoba menyemangati. Namun mereka bersikeras untuk berhenti dan cukup sampai di sini. Kulihat jam tanganku, waktu menunjuk pukul 04.30. Tinggal satu jam lagi matahari akan terbit. Semburat merah remang-remang sudah terlihat.
Kami pun membuat kesepakatan, 4 orang tinggal beristirahat dan menunggu sampai kami tiba. Lalu aku dan ketiga teman lainnya memutuskan untuk lanjut ke puncak. Kami berjanji maksimal pukul 07.00 sudah tiba dan berkumpul kembali. Setapak yang mulai terlihat karena pekat malam telah berlalu memudahkan kami melangkah. Sesampainya di puncak “Geger (punuk) Sapi”, satu temanku menyerah dan tidak mau melangkah. Pada hal tinggal 50 meter tiba di persimpangan antara puncak Sharif dan Kenteng Songo. Di persimpangan itu sudah cukup kalau hanya untuk menikmati keindahan matahari terbit.
Kami pun berembuk, akhirnya diputuskan aku menemani teman yang tepar, sedangkan 2 teman lainnya lanjut. Aku dan satu teman memutuskan untuk mencari celah batu, berlindung dari hembusan angin, berselimutkan mantol dan lelaplah kami. Tidak sampai 30 menit, tiba-tiba ada suara, “Ayo bangun. Ayo lanjut”. Dua temanku yang mau menuju puncak memutuskan untuk cukup di pertigaan, mengabadikan moment sun ruse sambil sejenak istirahat. Lalu, turun lagi.
Berempat kami bergergas turun, temanku yang mengeluh lemas tak berdaya sudah pulih segar bugar. Lalu kami lepas bagai anak panah untuk segera menjumpa ke 4 teman yang ada di bawah. 40 meter aroma mie instan rebus telah membuai seluruh gunung. Naga dalam perutpun bangkit memberontak. Kaki makin ganas melesat. Sambutan ke 4 teman dengan senyum bahagia. Terlihat bugar dan sehat-sehat, sarapan telah siap. Kami pun sambil bersendau gurau menikmati hidangan pagi di hadapan semesta gunung dengan hembusan angin sepoi dan melihat barisan awan di kejahuan. Sungguh nikmat yang luar biasa.
Saat angka waktu bertengger di titik 08.00, kami pun memulai perjalanan turun. Sangat lancar. Kami gembira. Penuh semangat. Pos 2 terlewati tanpa kesusahan. Tidak beristirahat. Lanjut. Pos 1 juga terlewati dengan gampang. Kami masih bugar. Lanjut lagi. Usai menyeberangi sungai kecil, suasana mendadak agak beda. Mungkin hanya aku yang merasa. Kulihat teman-temanku masih ceria sambil bercanda.
Akhirnya, kami keluar dari hutan. Mendadak mataku terbelalak karena fokus akan satu hal bahwa tempat kami bernaung untuk menyiapkan mental sebelum memasuki hutan adalah pemakaman. Aku tersadarkan dan seolah-olah memperoleh jawab atas peristiwa-peristiwa “aneh” yang kualami. Dalam batin, segera aku pun “Nembung”, menyampaikan permohonan maaf bila ada tingkah-laku yang tidak berkenan dalam pendakian ini. Aku pun sampaikan doa bagi kedamaian arwah mereka yang dikuburkan di pemakaman tersebut.
Tak berapa lama kami pun tiba di beskem. Membeli makan, menikmatinya sambil beristirahat. Tak menunda waktu kami pun lanjut pulang. Dalam bus aku masih terngiang-ngiang dengan suara wanita yang pilu menyayat hati. 4 kali aku mendengarnya. Beberapa teman mengalami kelelahan yang tidak wajar. Ah, biarlah itu menjadi rahasia dalam kisahku. Hingga, akhirnya aku menuliskannya pada pertengahan Juni 2020. Semoga pengalaman ini menjadi inspirasi bersama. Terimakasih Merbabu untuk bijakmu, biarlah menjadi lentera dalam kegitanku  yang lainnya. Salam.

Rabu, 05 Februari 2020

COUPLE-RIDER: JELAJAH WISATA KEBUMEN


COUPLE-RIDER:
Jelajah Wisata Kebumen
Oleh: Heri
Pantai Menganti

            Aku hanyalah manusia biasa. Manusia yang berdimensi manusiawi, punya keingian yang beragam. Ada yang realistis tetapi kebanyakan adalah menginginkan sesuatu yang di luar jangkauan. Supaya hidup ini tetap berpijak pada tanah, tempat aku berdiri, maka segala keinginan itu harus ditempatkan dalam porsiku. Hidup dengan pilihan sesuai dengan kemampuan akan lebih nyaman untuk dinikmati. Ada pepatah mengatakan, “Nikmatilah yang kamu miliki, maka hidupmu akan dipenuhi suka cita”.
Kali ini, aku akan berbagi pengalaman sederhana tentang petualangan. Ah, terlalu memaksa. Lebih tepatnya hanya jalan-jalan (= motoran). Sebut saja aku (Heri Jimanto) dan isteriku (Regina Nunuk) pada hari Jumat-Sabtu, 3-4 Januari 2020 melakukan perjalanan sederhana. Hanya menyusuri jalanan dari Solo-Yogjakarta-Wates-Purworejo-Kebumen. Niat hati hanya menikmati turing jarak menengah. Kami berdua, aku dan isteriku kerap mengais nutrisi semesta dengan cara berkendara. Beberapa anak motor menjuluki kami sebagai couple-rider. Bagi kami julukan ini terlalu keren, karena kami hanya beberapa kali menyusuri keindahan alam dengan berkendara. Tidak sering, hanya beberapa kali saja.

            Kali ini, kami melakukan perjalanan ke arah barat. Kami yang selama ini sering melakukan perjalanan ke arah timur. Kalaupun ke arah barat mentok di sekitaran Kulon Progo, kabupaten paling barat dari Yogjakarta. Kendati jarak tempuhnya tidak seberapa tetapi perjalanan ini bagi kami merupakan ekspedisi. Ya ekspedisi, karena baru pertama kami berkendara di area ini.
Perjalanan ini aku awali dengan membaca beberapa refrensi tentang jalanan dan terutama tempat-tempat yang bisa disinggahi selama peziarahan ini. Beberapa penggal informasi yang tidak utuh ini, menjadi modal petualangan yang mendebarkan, menantang, dan menyenangkan. Pagi-pagi sekitar pukul 06.00, kami memulai kisah ini.

Angkasa kelabu dengan mendung yang mendayu-dayu merangkak, seolah akan menciptakan prahara. Memang beberapa hari ini, cuaca sedang ektrims. Di beberapa tempat, hujan lebat disertai bencana tanah longsor dan banjir. Bukannya tidak peduli kepada mereka. Tidak sama sekali. Petualangan ini kupersembahkan untuk mereka yang menjadi korban bencana alam. Berhadapan dengan keajaiban dan misteri alam, maka hati akan selalu bersenandung memanjatkan doa tiada berkesudahan.
Pelan dan pasti, kami yang bertunggangkan kuda besi terus melaju menuju barat, selepas keluar dari Klaten, situasi jalanan makin ramai padat-merayap. Keju rasa tangan, lapar merayu untuk menyantap menu. Sesampainya Prambanan, kuhentikan peziarahan barang sebentar untuk mendulang energi. Saatnya sarapan.
Tenaga yg memulih seolah ambyar lagi ketika berhadapan dengan kemacetan Jogja. Maklum masih musim libur. Setelah terbebas dari kemacetan, kami melaju dengan nyaman kea rah barat. Wates terlewati. Udara pagi yang membius hati  mengajak untuk selalu mampu menikmati keluasaan semesta. Menjelang perbatasan wates-Purworejo, hujan turun dengan lebatnya. Wajar karena ini memang musim penghujan.
Berteduh. Menunggu. Tak kunjung reda. Pakai mantol. Lanjut.
Purworejo terlewati, meliuk mengikuti jalanan yang sungguh mempesona. Tak terasa Kutoarjo telah terlewati. Udara  panas menyengat, karena bagian barat tidak hujan. Lepas mantol. Lanjut. Hingga hati bergejolak gembira, saat mata menatap Tugu Walet. Artinya kami telah berada di tengah kota Kebumen. Lanjut terus arah barat.
 Lega rasa hati ketika melihat beberapa keterangan bertuliskan Gombong. Berarti perjalananku sudah akan mencapai titik petualangan. Sebagai penikmat perjalanan, kadang menetapkan tujuan itu perlu sehingga memiliki kompas petualangan. Memasuki kota kecil Gombong, hati berbinar saat menatap tulisan penunjuk arah ke Benteng Van Der Wicjk. Dari arah timur (Semarang/ Yogjakarta) mesti berbelok kanan, ke arah komplek pelatihan angkatan darat. Hanya sekitar 1 km dari jalan utama, kami telah tiba di lokasi. Sebagai penanda agar tidak kelewatan (kebablasen). Usai melewati Gereja, dan bertemu perempatan pertama, langsung belok kanan/arah timur. Dari perempatan ini, gerbang benteng sudah terlihat gagah. Kami pun langsung menuju tempat parkir. Biaya parkir Rp 3.000, sedangkan tiket masuk seharga Rp 25.000 (agak sedikit mahal karena tiket tersebut untuk masuk ke kawasan benteng dan juga kolam renang).

Benteng Van Der Wijck
Sedikit informasi, bahwa Benteng Van der Wijck beralamat di Jalan Sapta Marga No. 100, Sidayu, Gombong, Kebumen, Jawa Tengah.
Sebelum masuk ke benteng, aku sangat tertarik dengan sebuah papan pengumuman yang bertuliskan, “Sebelum masuk benteng sebaiknya Anda berdoa sejenak menurut kepercayaan masing-masing”. Aku berpikir positif, bahwa pengunjung diingatkan untuk selalu tahu diri, sebagai tamu dengan segala etika yang harus dimiliki.

Benteng ini dibangun oleh Belanda sekitar tahun 1818. Benteng ini dimaksudkan sebagai tempat pertahanan di eks-Karesidenan Kedu Selatan. Benteng ini memiliki keunikan tersendiri bila dibandingkan dengan benteng-benteng peninggalan Belanda yang lain. Benteng ini dibangun 2 lantai dengan bentuk segi delapan berwarna merah bata. Tinggi benteng mencapai 10 meter dan luasnya sekitar 7.170 meter persegi. Lantai 1 merupakan barak bagi peristirahatan tentara Belanda. Selain itu juga difungsikan sebagai tempat menyimpan bahan makanan dan persenjataan. Sedangkan lantai satu multi-fungsi, salah satunya sebagai penjara. Hal unik lainnya adalah atap benteng yang kokoh karena difungsikan sebagai pertahanan sekaligus pengintaian.

Pengunjung bisa mengekplorasi keseluruhan benteng. Ada dua fasilitas kereta kelinci untuk memudahkan pengunjung agar tidak terlalu capek. Pertama di lantai bawah (gratis, include tiket masuk), yang kedua berada di atap dengan membayar Rp 10.000. Saat ini, hampir seluruh ruangan-ruangan sudah tidak berfungsi seperti pada awal dibangun. Terlihat sepintas seperti akan dialihfungsikan sebagai museum karena isinya foto-foto benteng sebelum dan sesudah dipugar juga foto-foto pahlawan Nasional. Waktu kami tiba di lokasi benteng, bebarengan dengan jam istirahat. Maka, dengan sendirinya kami tidak bisa mengais informasi sebanyak-banyaknya.

Usai berimajinasi menjadi tentara Belanda yang siap, sigap mengamankan kawasan-wilayah kekuasaan. Kami memutuskan untuk meneruskan kisah. Kembali motor meliuk menghantar kami menyususri jalanan. Tetap ke arah barat. Setelah ke luar dari batas kota Gombong, tibalah di pertigaan yang bertuliskan arah wisata Goa Jatijajar. Kami pun berbelok arah kiri, menyusuri jalanan yang cukup bagus dengan papan penunjuk arah yang cukup lengkap, hingga kami pun tiba di lokasi goa.

Goa Jatijajar

Goa Jatijajar beralamat di Jl. Jatijajar, Palamarta, Jatijajar, Ayah, Kebumen, Jawa Tengah. Info lebih lanjut bisa menghubungi kontak (0287) 381988. Usai kami membayar tiket masuk sebesar Rp 12.500 (include parkir). Kami mencari makan siang. Karena memang sudah waktunya. Jam menunjuk angka 12.30. Menghela nafas untuk mengurai penat raga. Menatap semesta yang bergairah suka. Sayangnya, birunya langit bersembunyi, karena bergelayut mendung hitam. Sedangkan di kejahuan sisi utara terlihat kelambu langit, artinya hujan deras. Sedangkan di sekitaran goa cuaca panas menyengat. Kendati banyak pepohonan, tetapi terasa gerah. Banyak warung makan dan toko-toko souvenir di sekitaran area parkir dan pintu masuk. Usai istirahat sambil makan siang, saatnya bereksplorasi.
goa dempok
Sedikit informasi, Goa Jatijajar berderetan dengan Goa Dempok. Setelah membayar tiket, kemudian mengikuti lorong antrian dan langsung masuk ke Goa Dempok. Kemudian keluar mengikuti jalan makadam yang di sekitarnya banyak pedagang. Ikuti terus jalan itu yang sudah lengkap dengan papan penunjuk. Kemudian melewati ikon Goa Jatijajar, yaitu sungai berair bening yang melewati mulut Dinosaurus. Taman ini, juga menjadi penanda bahwa pintu Goa Jatitijajar sudah dekat. Setelah melewati anak tangga yang cukup banyak. Sampailah di pintu goa.
anak tangga terakhir sebelum masuk goa jatijajar
Goa Jatijajar merupakan situs geologi di Kebumen yang terbentuk dari proses alami. Goa ini terbentuk dari batuan kapur dengan panjang kurang lebih 200 meter. Menurut sejarah, goa ini pertama kali ditemukan oleh seorang petani. Goa Jatijajar juga sering disebut sebagai tempat berpetualang di perut bumi. Hal ini tak lepas dari jarak gua yang memiliki panjang 250 meter. Goa ini memiliki tinggi rata-rata 12 meter dengan lebar 15 meter. Jalur di dalam gua sudah di beton dan dilengkapi lampu-lampu penerangan. Sehingga tak perlu keterampilan dan peralatan khusus untuk menelusuri gua ini.

Menurut cerita, Goa Jatijajar diyakini sebagai tempat bersemedi Raden Kamandaka. Kisah tentang Raden Kamandaka ini di kemudian hari dikenal sebagai legenda Lutung Kasarung. Di dalam goa terdapat diorama yang menggambarkan legenda Lutung Kasarung. Selain diorama, di dalam gua terdapat hal lain yang tak kalah menarik. Hal tersebut adalah stalagtit dan stalagmit yang menghiasi sepanjang goa. Stalagtit dan stalagmit merupakan batuan alami yang terbentuk di dalam goa.

Di dalam gua ini juga terdapat sungai bawah tanah yang mengalir. Jumlah sendang ini ada 7 buah, dimana hanya 4 sendang yang bisa dijangkau. Keempat sendang ini adalah : Sendang Jombor, Puser Bumi, Mawar dan Kanthil. Ada 2 sendang yang menjadi favorit para pengunjung, yaitu Sendang Mawar dan Sendang Kanthil.
Sepanjang tahun air dari Sendang Mawar dan Sendang Kanthil tidak pernah kering. Aliran dari kedua sendang bertemu di satu titik dan keluar melalui mulut patung dinosaurus di depan goa. Sementara Sendang Jombor dan Puser Bumi dibiarkan alami dengan keadaan jalan yang licin.

Goa Petruk
Usai menjelajahi dan mengagumi keindahan Goa Jatijajar, mendadak mendung menggulung hitam disertai gledek dan Guntur yang menggebu. Ciut nyali seketika. Rencana akan segera bercengkerama dengan keindahan Goa Petruk harus bersabar untuk sementara. Berkat semesta itu nyata, hanya gerimis dan langit mebuka cerianya. Aku pun segera mengajak isteriku untuk meneruskan kisah. Perjalanan dari Goa Jatijajar ke Goa Petruk tidak membutuhkan waktu lama, hanya sekitar 15 menit.

Usai parkir sepeda motor, kami pun membeli tiket seharga Rp 18.000 (termasuk biaya parkir). Bersama pemandu lokal yang sangat ramah, kami pun bergerak menuju pintu goa. Jarak dari loket ke pintu goa sekitar 300 m dengan melewati 350 anak tangga. Butuh stamina prima.

Wisata Goa Petruk merupakan salah satu tempat wisata yang berada di Desa Candirenggo, Kecamatan Ayah, Kebumen, Jawa Tengah. Wisata Goa Petruk merupakan tempat wisata yang sangat alami. Pihak pengelola sengaja membiarkan keadaan tetap seperti pada awal ditemukan. Tidak ada penerangan. Keadaan goa yang gelap, ada aliran air, ada juga kelelawar. Panjang goa sekitar 700 meter. Jadi pengunjung harus ditemani oleh pemandu lokal yang akan membawa penerangan berupa lampu petromaks. Wisata goa ini cukup ramai pada hari biasa maupun hari libur. Tempat ini sangat indah dan bisa memberikan sensasi yang berbeda. Tips untuk pemandu tidak ada tarif resmi (sesuai dengan kerelaan hati).
keluar goa

Pantai Ayah/ Logending
       Usai menikmati Goa Petruk, kami pun bergegas melanjutkan perjalanan. Meliuk kami menikmati keindahan alam di atas kuda besi. Kami disarankan untuk mencari penginapan di kecamatan Ayah, yaitu di Hotel Sinar MR. Peinginapan yang masih belum final. Masih dalam tahap pengembangan. Ada berbagai pilihan kamar. Kami memlih harga Rp 180.000 dengan fasilatas AC, TV, Kamar mandi dalam dan double bed.

           Setelah menaruh barang bawaan, kami pun menuju Pantai Logending. Dari hotel hanya sekitar 3 km. Keindahan sepanjang jalan  menjadi kenikmatan tersendiri. Tiba di lokasi pantai, kami agak sedikit kebingungan, karena loket sudah tutup. Akhirnya kami putuskan untuk masuk tanpa tiket. Suasana sore dengan semburat jingga mentari yang lelah menjadi magnet anak-anak muda untuk berlama-lama di pantai ini.

Rute Pantai Ayah sangatlah mudah. Wisatawan yang berasal dari arah Yogyakarta bisa menggunakan jalur pantai selatan. Dimana, jalur ini terdapat banyak sekali pantai-pantai menarik yang bisa dikunjungi. Bila pengunjung datang dari arah Kebumen, jaraknya kurang leih 53 km. Waktu tempuh kurang lebih 1 jam perjalanan. Jalan menuju ke pantai ini cukup menantang. Sedikit berkelok-kelok, naik-turun. Lebih baik berhati-hati dan waspada.

Gelap merayap menyelimuti keindahan pantai. Di sudut pantai terdapat satu rumah makan yang cukup ramai, warung sea food bu Nanang. Kami pun bergegas menuju ke sana. Pesan makanan. Dan hujan pun turun dengan lebatnya. Bersama nyanyian kucuran air hujan besereta bunyi-bunyian serangga, kami menikmati suasana pantai sembari mendulang energi. Kenyang perut,  kenyang hati.

Hujan sedikit mereda, kami pun bergegas menuju penginapan. Belum juga sampai hujan kembali mengguyur. Segera masuk kamar, mandi, cerita-cerita, dan istirahat. Berharap esok pagi bangun dengan tenaga yang lebih prima guna meneruskan petualangan.

Pantai Menganti
Pagi merekah dengan sejuta harapan. Mentari pagi menyelinap ke celah jendela membelai raga yang memulih setelah istirahat sepanjang malam. Bangun. Mandi. Packing. Lanjut.

Selepas penginapan, kembali kami melewati Pantai Ayah. Terus mengikuti kelokan jalanan yang naik turun dengan kanopi rimbun pepohonan yang sangat nyaman.  Udara hutan berpadu dengan  udara pantai sungguh memberi kenikmati petualangan yang maha asik. Sekitar 30 menit meninggalkan hotel, kami pun telah tiba. Sedikit informasi, untuk melibas jalanan antara Pantai Ayah-Menganti dibutuhkan keterampilan berkendara yang mumpuni. Karena banyaknya kelokan, tanjakan dan sempitnya medan.

Pantai ini terletak di daerah Karang Duwur, Kecamatan Ayah, Kebumen, Jawa Tengah. Di sepanjang jalan yang dilewati menuju Pantai Menganti, akan disuguhi pemandangan yang indah karena terdapat banyak perbukitan. Selain itu, hawa sejuk daerah ini akan memanjakan jiwa raga yang haus akan kenyamanan dan ketenangan. Usai membayar tiket Rp 12.000 per orang, kami pun melaju menuju lokasi pantai.

Pantai ini tergolong objek wisata yang masih baru karena resmi dibuka untuk umum sekitar tahun 2011. Letaknya berada di sepanjang pantai selatan yang memiliki ombak cukup ganas. Konsep wisata pantai ini sebenarnya cukup unik, karena memadukan beberapa konsep wisata pantai. Ada tebing, bukit, bumper, menara suar yang bisa dipanjat, pantai pasir putih dan aneka spot selfy, serta pusat jajanan kuliner khas laut. Untuk dapat menikmati keseluruhan sisi indah dari pantai ini, bisa seharian penuh. Kami berdua juga tidak mampu menikmati kesemuanya. Ada keterbatasan. Kami hanya menikmati beberapa sisi indah dari pantai ini, yang kemudian kami akhiri dengan makan sup ikan kerapu. Mantap.

jembatan merah

Pantai Watu Bale
Setelah lelah terbayar dan tenaga telah memulih, kami pun kembali melaju menikmati alam di atas motor. Kembali meliuk-liuk, menari mengikuti kontur jalanan yang masih sama, naik-turun, kelokan tajam dan menembus hutan dan lembah. Sekitar 5 km meninggalkan pantai Menganti, kami melihat papan penunjuk arah menuju lokasi wisata Pantai Watu Bale.

Kami yang baru pertama kali berkunjung ke Kebumen merasa asing dengan wisatanya, tertantang untuk berkunjung. Dari jalan utama hanya membutuhkan waktu tak lebih dari 10 menit. Tiket masuk Rp 12.000 perorang dengan tambahan parkir sebesar Rp 3.000. Konsep wisata pantai ini hampir sama dengan Menganti. Ada berbagai keindahan yang bisa dinikmati. Di samping tempat parkir, langsung gerbang pantai yang menyuguhkan hutan kelapa. Di bawah payung rimbun dedaunan kelapa, wisatawan bisa menikmati deburan dan keindahan ombak yang saling bekerjaran. Di sisi agak jauh dari pantai utama, ada banyak kapal yang sandar. Sedangkan di sisi kiri, di sebuah bukit tersedia aneka spot selfy yang hampir semua geratis, tidak dipungut biaya.

Aku pribadi merasa dibuat terpukau dengan tempat ini, dengan leluasa dapat menikmati bentangan laut yang membiru. Deburan ombaknya seolah menjadi musik penyambutan kedatanganku. Dari atas bukit, pantai terlihat hijau yang menjauh menjadi biru. Warna laut yang indah bergandengan dengan pepohonan dan perbukitan di kanan kirinya. Seolah perbukitan itu membentengi area pantai. Ditambah lagi tebing – tebing tinggi yang siap menghalau hantaman ombak. Pantai ini tidak berpasir putih,  pantai memiliki pasir kecokelatan yang hangat dan lembut, siap memanjakan di setiap pijakan. Pantai ini memiliki keunikan yang tidak semua pantai memilikinya. Yaitu adanya topografi pantai dengan tebing dan karang yang memukau. Ini menambah spot foto di lokasi semakin indah.


Bila cuaca sedang cerah, langit biru menghampar dengan indah. Seolah menaungi keindahan yang ada di bawahnya. Berpadu dengan birunya laut dan hijaunya perbukitan. Pantai Watu Bale memiliki kontur yang landai, dan diapit dengan perbukitan Panduruan. Dari kejauhan, pengunjung dapat melihat indahnya Samudera Hindia.


Pantai Karang Bolong
Rasa hati seolah tak mau pergi, tetapi petualangan harus diselesaikan. Kembali bergerak, meliuk-menari di atas motor mengikuti kontur jalanan. Arah peziarahan masih menyususri bentangan pantai selatan. Dengan mengikuti jalan penghubung warisan penjajah (Dendeles) ke arah timur. Hingga kami pun bertemu lokasi wisata berikutnya yaitu Pantai Karang Bolong. Pantai ini berlamat di Desa Karang Bolong, Kec Buayan, Kebumen, Jawa Tengah. Usai membayar tiket sebesar Rp 12.000, kami langsung menggeber kuda besi untuk selanjutnya bercengkerama dengan pesonanya.

Pantai ini memiliki keunikan tersendiri dengan adanya karang yang berlubang. Besarnya deburan ombak dan hamparan pasir putih keabu-abuan menyajikan pemandangan alam yang mempesona. Keindahan pantai berpadu harmoni dengan adanya bukit-bukit tinggi di sekelilingnya seolah membangun lukisan semesta. Deretan pohon kelapa dengan nyiurnya yang melambai juga menambah eksotisme pemandangan.

Di pantai ini juga dapat duduk-duduk santai menikmati suasana alam pantai sambil menyantap hidangan kuliner di warung-warung sekitar. Aktivitas lainnya yang dapat dilakukan di pantai ini adalah memancing ikan.


Pantai Suwuk
Siang hari udara kian menyengat, namun semangat tak boleh kendor. Petualangan masih harus diselesaikan. Meninggalkan Pantai Karang Bolong, mengikuti jalanan hingga ketemu batas dengan jalan Dendeles. Di pertigaan ini juga sekaligus merupakan pintu masuk ke wisata Pantai Suwuk. Sebenarnya pantai ini tepat berada di seberang Pantai Karang Bolong.  Kedua pantai hanya terpisahkan oleh sungai yang cukup lebar. Maka untuk jalan pun dibuat melingkar lumayan jauh.

Pantai ini berada di Desa Suwuk, Kecamatan Puring, Kebumen, Jawa Tengah. Kalau dari Kota Kebumen, jarak yang harus ditempuh sekitar 50 kilometer. Sedangkan dari Gombong hanya berjarak sejauh 25 kilometer saja. Daratan Pantai Suwuk ini sangatlah luas. Meskipun warna pasirnya tidak putih seperti pantai-pantai lain, namun tetap saja memukau. Sebagai perbandingan adalah Pantai Parang Tritis Yogyakarta. Sejauh mata memandang hanya bertemu dengan luasnya bibir pantai, membentang seolah tak bertepi.
warung2 yg langsung menghadap laut
Permukaan daratan pasir yang luas ini dapat dimanfaatkan untuk mencoba pengalaman baru berupa offroad atau ATV. Tarif penyewaannya juga masih masuk akal, yaitu sekitar 50 ribu rupiah per jamnya. Di sebelah barat, tepatnya di deretan Pantai Karang Bolong terdapat pemandangan perbukitan. Deretan bukit-bukit di Pantai Suwuk ini berupa kapur tapi subur dan berwarna hijau yang mampu menyejukkan mata.

Di pantai ini juga sekaligus menjadi pusat kuliner sea food. Ada banyak sekali warung-warung yang menjajakan aneka masakan khas laut. Sangat menggoda dan menggiurkan. Ada aneka oleh-oleh khas laut,  seperti aneka gorengan dari hasil lautan. Misalkan udang goreng, cumi goreng, kepiting goreng, dll yang hampir kesemuanya digoreng krispi. Selain pusat kuliner di pantai ini juga tergarap dengan baik sebagai taman dengan hutan kelapanya. Sangat sejuk dan mendamaikan.

Mendung mendadak menggulung menyelimuti matahari yang sedang garang-garangnya. Kami memutuskan untuk menyudahi eksplorasi. Sekitar pukul 13.30 kami melaju ke arah timur, menyususri jalan Dendeles, seolah-olah melaju di atas jalan tol. Sungguh lengang, sepi dan halusnya jalan menjadikan bermotor seolah terbang di atas awan. Kami terus melaju arah timur, meninggalkan Purworejo, memasuki Wates dan meninggalkan Yogyakarta. Hingga akhirnya, kembali dengan selamat sampai di rumah, Solo tercinta.

Menutup Kisah
       Segala yang bermateri tidak ada yang abadi. Raga ini hanya sementara, tetapi kisah dan pengalaman akan abadi bersama cerita. Sekelumit kisah hidup ini, hanyalah sebuah cara agar hidup kami tidak using tanpa cerita. Tidak mewah juga tidak luar biasa. Tetapi buat kami, perjalanan ini sungguh luar biasa. Semoga petualangan demi petualangan semakin mengabadikan kisah cinta ini. Biarkan alam Kebumen mengikat hati kami makin erat, menyatu sebagai kekasih. Terimakasih untuk setiap orang yang kami jumpai, terimakasih untuk semesta yang tiada henti selalu memberi dan terimakasih untuk Tuhan atas segala berkat dan perlindunganNya.