Rabu, 05 Februari 2020

COUPLE-RIDER: JELAJAH WISATA KEBUMEN


COUPLE-RIDER:
Jelajah Wisata Kebumen
Oleh: Heri
Pantai Menganti

            Aku hanyalah manusia biasa. Manusia yang berdimensi manusiawi, punya keingian yang beragam. Ada yang realistis tetapi kebanyakan adalah menginginkan sesuatu yang di luar jangkauan. Supaya hidup ini tetap berpijak pada tanah, tempat aku berdiri, maka segala keinginan itu harus ditempatkan dalam porsiku. Hidup dengan pilihan sesuai dengan kemampuan akan lebih nyaman untuk dinikmati. Ada pepatah mengatakan, “Nikmatilah yang kamu miliki, maka hidupmu akan dipenuhi suka cita”.
Kali ini, aku akan berbagi pengalaman sederhana tentang petualangan. Ah, terlalu memaksa. Lebih tepatnya hanya jalan-jalan (= motoran). Sebut saja aku (Heri Jimanto) dan isteriku (Regina Nunuk) pada hari Jumat-Sabtu, 3-4 Januari 2020 melakukan perjalanan sederhana. Hanya menyusuri jalanan dari Solo-Yogjakarta-Wates-Purworejo-Kebumen. Niat hati hanya menikmati turing jarak menengah. Kami berdua, aku dan isteriku kerap mengais nutrisi semesta dengan cara berkendara. Beberapa anak motor menjuluki kami sebagai couple-rider. Bagi kami julukan ini terlalu keren, karena kami hanya beberapa kali menyusuri keindahan alam dengan berkendara. Tidak sering, hanya beberapa kali saja.

            Kali ini, kami melakukan perjalanan ke arah barat. Kami yang selama ini sering melakukan perjalanan ke arah timur. Kalaupun ke arah barat mentok di sekitaran Kulon Progo, kabupaten paling barat dari Yogjakarta. Kendati jarak tempuhnya tidak seberapa tetapi perjalanan ini bagi kami merupakan ekspedisi. Ya ekspedisi, karena baru pertama kami berkendara di area ini.
Perjalanan ini aku awali dengan membaca beberapa refrensi tentang jalanan dan terutama tempat-tempat yang bisa disinggahi selama peziarahan ini. Beberapa penggal informasi yang tidak utuh ini, menjadi modal petualangan yang mendebarkan, menantang, dan menyenangkan. Pagi-pagi sekitar pukul 06.00, kami memulai kisah ini.

Angkasa kelabu dengan mendung yang mendayu-dayu merangkak, seolah akan menciptakan prahara. Memang beberapa hari ini, cuaca sedang ektrims. Di beberapa tempat, hujan lebat disertai bencana tanah longsor dan banjir. Bukannya tidak peduli kepada mereka. Tidak sama sekali. Petualangan ini kupersembahkan untuk mereka yang menjadi korban bencana alam. Berhadapan dengan keajaiban dan misteri alam, maka hati akan selalu bersenandung memanjatkan doa tiada berkesudahan.
Pelan dan pasti, kami yang bertunggangkan kuda besi terus melaju menuju barat, selepas keluar dari Klaten, situasi jalanan makin ramai padat-merayap. Keju rasa tangan, lapar merayu untuk menyantap menu. Sesampainya Prambanan, kuhentikan peziarahan barang sebentar untuk mendulang energi. Saatnya sarapan.
Tenaga yg memulih seolah ambyar lagi ketika berhadapan dengan kemacetan Jogja. Maklum masih musim libur. Setelah terbebas dari kemacetan, kami melaju dengan nyaman kea rah barat. Wates terlewati. Udara pagi yang membius hati  mengajak untuk selalu mampu menikmati keluasaan semesta. Menjelang perbatasan wates-Purworejo, hujan turun dengan lebatnya. Wajar karena ini memang musim penghujan.
Berteduh. Menunggu. Tak kunjung reda. Pakai mantol. Lanjut.
Purworejo terlewati, meliuk mengikuti jalanan yang sungguh mempesona. Tak terasa Kutoarjo telah terlewati. Udara  panas menyengat, karena bagian barat tidak hujan. Lepas mantol. Lanjut. Hingga hati bergejolak gembira, saat mata menatap Tugu Walet. Artinya kami telah berada di tengah kota Kebumen. Lanjut terus arah barat.
 Lega rasa hati ketika melihat beberapa keterangan bertuliskan Gombong. Berarti perjalananku sudah akan mencapai titik petualangan. Sebagai penikmat perjalanan, kadang menetapkan tujuan itu perlu sehingga memiliki kompas petualangan. Memasuki kota kecil Gombong, hati berbinar saat menatap tulisan penunjuk arah ke Benteng Van Der Wicjk. Dari arah timur (Semarang/ Yogjakarta) mesti berbelok kanan, ke arah komplek pelatihan angkatan darat. Hanya sekitar 1 km dari jalan utama, kami telah tiba di lokasi. Sebagai penanda agar tidak kelewatan (kebablasen). Usai melewati Gereja, dan bertemu perempatan pertama, langsung belok kanan/arah timur. Dari perempatan ini, gerbang benteng sudah terlihat gagah. Kami pun langsung menuju tempat parkir. Biaya parkir Rp 3.000, sedangkan tiket masuk seharga Rp 25.000 (agak sedikit mahal karena tiket tersebut untuk masuk ke kawasan benteng dan juga kolam renang).

Benteng Van Der Wijck
Sedikit informasi, bahwa Benteng Van der Wijck beralamat di Jalan Sapta Marga No. 100, Sidayu, Gombong, Kebumen, Jawa Tengah.
Sebelum masuk ke benteng, aku sangat tertarik dengan sebuah papan pengumuman yang bertuliskan, “Sebelum masuk benteng sebaiknya Anda berdoa sejenak menurut kepercayaan masing-masing”. Aku berpikir positif, bahwa pengunjung diingatkan untuk selalu tahu diri, sebagai tamu dengan segala etika yang harus dimiliki.

Benteng ini dibangun oleh Belanda sekitar tahun 1818. Benteng ini dimaksudkan sebagai tempat pertahanan di eks-Karesidenan Kedu Selatan. Benteng ini memiliki keunikan tersendiri bila dibandingkan dengan benteng-benteng peninggalan Belanda yang lain. Benteng ini dibangun 2 lantai dengan bentuk segi delapan berwarna merah bata. Tinggi benteng mencapai 10 meter dan luasnya sekitar 7.170 meter persegi. Lantai 1 merupakan barak bagi peristirahatan tentara Belanda. Selain itu juga difungsikan sebagai tempat menyimpan bahan makanan dan persenjataan. Sedangkan lantai satu multi-fungsi, salah satunya sebagai penjara. Hal unik lainnya adalah atap benteng yang kokoh karena difungsikan sebagai pertahanan sekaligus pengintaian.

Pengunjung bisa mengekplorasi keseluruhan benteng. Ada dua fasilitas kereta kelinci untuk memudahkan pengunjung agar tidak terlalu capek. Pertama di lantai bawah (gratis, include tiket masuk), yang kedua berada di atap dengan membayar Rp 10.000. Saat ini, hampir seluruh ruangan-ruangan sudah tidak berfungsi seperti pada awal dibangun. Terlihat sepintas seperti akan dialihfungsikan sebagai museum karena isinya foto-foto benteng sebelum dan sesudah dipugar juga foto-foto pahlawan Nasional. Waktu kami tiba di lokasi benteng, bebarengan dengan jam istirahat. Maka, dengan sendirinya kami tidak bisa mengais informasi sebanyak-banyaknya.

Usai berimajinasi menjadi tentara Belanda yang siap, sigap mengamankan kawasan-wilayah kekuasaan. Kami memutuskan untuk meneruskan kisah. Kembali motor meliuk menghantar kami menyususri jalanan. Tetap ke arah barat. Setelah ke luar dari batas kota Gombong, tibalah di pertigaan yang bertuliskan arah wisata Goa Jatijajar. Kami pun berbelok arah kiri, menyusuri jalanan yang cukup bagus dengan papan penunjuk arah yang cukup lengkap, hingga kami pun tiba di lokasi goa.

Goa Jatijajar

Goa Jatijajar beralamat di Jl. Jatijajar, Palamarta, Jatijajar, Ayah, Kebumen, Jawa Tengah. Info lebih lanjut bisa menghubungi kontak (0287) 381988. Usai kami membayar tiket masuk sebesar Rp 12.500 (include parkir). Kami mencari makan siang. Karena memang sudah waktunya. Jam menunjuk angka 12.30. Menghela nafas untuk mengurai penat raga. Menatap semesta yang bergairah suka. Sayangnya, birunya langit bersembunyi, karena bergelayut mendung hitam. Sedangkan di kejahuan sisi utara terlihat kelambu langit, artinya hujan deras. Sedangkan di sekitaran goa cuaca panas menyengat. Kendati banyak pepohonan, tetapi terasa gerah. Banyak warung makan dan toko-toko souvenir di sekitaran area parkir dan pintu masuk. Usai istirahat sambil makan siang, saatnya bereksplorasi.
goa dempok
Sedikit informasi, Goa Jatijajar berderetan dengan Goa Dempok. Setelah membayar tiket, kemudian mengikuti lorong antrian dan langsung masuk ke Goa Dempok. Kemudian keluar mengikuti jalan makadam yang di sekitarnya banyak pedagang. Ikuti terus jalan itu yang sudah lengkap dengan papan penunjuk. Kemudian melewati ikon Goa Jatijajar, yaitu sungai berair bening yang melewati mulut Dinosaurus. Taman ini, juga menjadi penanda bahwa pintu Goa Jatitijajar sudah dekat. Setelah melewati anak tangga yang cukup banyak. Sampailah di pintu goa.
anak tangga terakhir sebelum masuk goa jatijajar
Goa Jatijajar merupakan situs geologi di Kebumen yang terbentuk dari proses alami. Goa ini terbentuk dari batuan kapur dengan panjang kurang lebih 200 meter. Menurut sejarah, goa ini pertama kali ditemukan oleh seorang petani. Goa Jatijajar juga sering disebut sebagai tempat berpetualang di perut bumi. Hal ini tak lepas dari jarak gua yang memiliki panjang 250 meter. Goa ini memiliki tinggi rata-rata 12 meter dengan lebar 15 meter. Jalur di dalam gua sudah di beton dan dilengkapi lampu-lampu penerangan. Sehingga tak perlu keterampilan dan peralatan khusus untuk menelusuri gua ini.

Menurut cerita, Goa Jatijajar diyakini sebagai tempat bersemedi Raden Kamandaka. Kisah tentang Raden Kamandaka ini di kemudian hari dikenal sebagai legenda Lutung Kasarung. Di dalam goa terdapat diorama yang menggambarkan legenda Lutung Kasarung. Selain diorama, di dalam gua terdapat hal lain yang tak kalah menarik. Hal tersebut adalah stalagtit dan stalagmit yang menghiasi sepanjang goa. Stalagtit dan stalagmit merupakan batuan alami yang terbentuk di dalam goa.

Di dalam gua ini juga terdapat sungai bawah tanah yang mengalir. Jumlah sendang ini ada 7 buah, dimana hanya 4 sendang yang bisa dijangkau. Keempat sendang ini adalah : Sendang Jombor, Puser Bumi, Mawar dan Kanthil. Ada 2 sendang yang menjadi favorit para pengunjung, yaitu Sendang Mawar dan Sendang Kanthil.
Sepanjang tahun air dari Sendang Mawar dan Sendang Kanthil tidak pernah kering. Aliran dari kedua sendang bertemu di satu titik dan keluar melalui mulut patung dinosaurus di depan goa. Sementara Sendang Jombor dan Puser Bumi dibiarkan alami dengan keadaan jalan yang licin.

Goa Petruk
Usai menjelajahi dan mengagumi keindahan Goa Jatijajar, mendadak mendung menggulung hitam disertai gledek dan Guntur yang menggebu. Ciut nyali seketika. Rencana akan segera bercengkerama dengan keindahan Goa Petruk harus bersabar untuk sementara. Berkat semesta itu nyata, hanya gerimis dan langit mebuka cerianya. Aku pun segera mengajak isteriku untuk meneruskan kisah. Perjalanan dari Goa Jatijajar ke Goa Petruk tidak membutuhkan waktu lama, hanya sekitar 15 menit.

Usai parkir sepeda motor, kami pun membeli tiket seharga Rp 18.000 (termasuk biaya parkir). Bersama pemandu lokal yang sangat ramah, kami pun bergerak menuju pintu goa. Jarak dari loket ke pintu goa sekitar 300 m dengan melewati 350 anak tangga. Butuh stamina prima.

Wisata Goa Petruk merupakan salah satu tempat wisata yang berada di Desa Candirenggo, Kecamatan Ayah, Kebumen, Jawa Tengah. Wisata Goa Petruk merupakan tempat wisata yang sangat alami. Pihak pengelola sengaja membiarkan keadaan tetap seperti pada awal ditemukan. Tidak ada penerangan. Keadaan goa yang gelap, ada aliran air, ada juga kelelawar. Panjang goa sekitar 700 meter. Jadi pengunjung harus ditemani oleh pemandu lokal yang akan membawa penerangan berupa lampu petromaks. Wisata goa ini cukup ramai pada hari biasa maupun hari libur. Tempat ini sangat indah dan bisa memberikan sensasi yang berbeda. Tips untuk pemandu tidak ada tarif resmi (sesuai dengan kerelaan hati).
keluar goa

Pantai Ayah/ Logending
       Usai menikmati Goa Petruk, kami pun bergegas melanjutkan perjalanan. Meliuk kami menikmati keindahan alam di atas kuda besi. Kami disarankan untuk mencari penginapan di kecamatan Ayah, yaitu di Hotel Sinar MR. Peinginapan yang masih belum final. Masih dalam tahap pengembangan. Ada berbagai pilihan kamar. Kami memlih harga Rp 180.000 dengan fasilatas AC, TV, Kamar mandi dalam dan double bed.

           Setelah menaruh barang bawaan, kami pun menuju Pantai Logending. Dari hotel hanya sekitar 3 km. Keindahan sepanjang jalan  menjadi kenikmatan tersendiri. Tiba di lokasi pantai, kami agak sedikit kebingungan, karena loket sudah tutup. Akhirnya kami putuskan untuk masuk tanpa tiket. Suasana sore dengan semburat jingga mentari yang lelah menjadi magnet anak-anak muda untuk berlama-lama di pantai ini.

Rute Pantai Ayah sangatlah mudah. Wisatawan yang berasal dari arah Yogyakarta bisa menggunakan jalur pantai selatan. Dimana, jalur ini terdapat banyak sekali pantai-pantai menarik yang bisa dikunjungi. Bila pengunjung datang dari arah Kebumen, jaraknya kurang leih 53 km. Waktu tempuh kurang lebih 1 jam perjalanan. Jalan menuju ke pantai ini cukup menantang. Sedikit berkelok-kelok, naik-turun. Lebih baik berhati-hati dan waspada.

Gelap merayap menyelimuti keindahan pantai. Di sudut pantai terdapat satu rumah makan yang cukup ramai, warung sea food bu Nanang. Kami pun bergegas menuju ke sana. Pesan makanan. Dan hujan pun turun dengan lebatnya. Bersama nyanyian kucuran air hujan besereta bunyi-bunyian serangga, kami menikmati suasana pantai sembari mendulang energi. Kenyang perut,  kenyang hati.

Hujan sedikit mereda, kami pun bergegas menuju penginapan. Belum juga sampai hujan kembali mengguyur. Segera masuk kamar, mandi, cerita-cerita, dan istirahat. Berharap esok pagi bangun dengan tenaga yang lebih prima guna meneruskan petualangan.

Pantai Menganti
Pagi merekah dengan sejuta harapan. Mentari pagi menyelinap ke celah jendela membelai raga yang memulih setelah istirahat sepanjang malam. Bangun. Mandi. Packing. Lanjut.

Selepas penginapan, kembali kami melewati Pantai Ayah. Terus mengikuti kelokan jalanan yang naik turun dengan kanopi rimbun pepohonan yang sangat nyaman.  Udara hutan berpadu dengan  udara pantai sungguh memberi kenikmati petualangan yang maha asik. Sekitar 30 menit meninggalkan hotel, kami pun telah tiba. Sedikit informasi, untuk melibas jalanan antara Pantai Ayah-Menganti dibutuhkan keterampilan berkendara yang mumpuni. Karena banyaknya kelokan, tanjakan dan sempitnya medan.

Pantai ini terletak di daerah Karang Duwur, Kecamatan Ayah, Kebumen, Jawa Tengah. Di sepanjang jalan yang dilewati menuju Pantai Menganti, akan disuguhi pemandangan yang indah karena terdapat banyak perbukitan. Selain itu, hawa sejuk daerah ini akan memanjakan jiwa raga yang haus akan kenyamanan dan ketenangan. Usai membayar tiket Rp 12.000 per orang, kami pun melaju menuju lokasi pantai.

Pantai ini tergolong objek wisata yang masih baru karena resmi dibuka untuk umum sekitar tahun 2011. Letaknya berada di sepanjang pantai selatan yang memiliki ombak cukup ganas. Konsep wisata pantai ini sebenarnya cukup unik, karena memadukan beberapa konsep wisata pantai. Ada tebing, bukit, bumper, menara suar yang bisa dipanjat, pantai pasir putih dan aneka spot selfy, serta pusat jajanan kuliner khas laut. Untuk dapat menikmati keseluruhan sisi indah dari pantai ini, bisa seharian penuh. Kami berdua juga tidak mampu menikmati kesemuanya. Ada keterbatasan. Kami hanya menikmati beberapa sisi indah dari pantai ini, yang kemudian kami akhiri dengan makan sup ikan kerapu. Mantap.

jembatan merah

Pantai Watu Bale
Setelah lelah terbayar dan tenaga telah memulih, kami pun kembali melaju menikmati alam di atas motor. Kembali meliuk-liuk, menari mengikuti kontur jalanan yang masih sama, naik-turun, kelokan tajam dan menembus hutan dan lembah. Sekitar 5 km meninggalkan pantai Menganti, kami melihat papan penunjuk arah menuju lokasi wisata Pantai Watu Bale.

Kami yang baru pertama kali berkunjung ke Kebumen merasa asing dengan wisatanya, tertantang untuk berkunjung. Dari jalan utama hanya membutuhkan waktu tak lebih dari 10 menit. Tiket masuk Rp 12.000 perorang dengan tambahan parkir sebesar Rp 3.000. Konsep wisata pantai ini hampir sama dengan Menganti. Ada berbagai keindahan yang bisa dinikmati. Di samping tempat parkir, langsung gerbang pantai yang menyuguhkan hutan kelapa. Di bawah payung rimbun dedaunan kelapa, wisatawan bisa menikmati deburan dan keindahan ombak yang saling bekerjaran. Di sisi agak jauh dari pantai utama, ada banyak kapal yang sandar. Sedangkan di sisi kiri, di sebuah bukit tersedia aneka spot selfy yang hampir semua geratis, tidak dipungut biaya.

Aku pribadi merasa dibuat terpukau dengan tempat ini, dengan leluasa dapat menikmati bentangan laut yang membiru. Deburan ombaknya seolah menjadi musik penyambutan kedatanganku. Dari atas bukit, pantai terlihat hijau yang menjauh menjadi biru. Warna laut yang indah bergandengan dengan pepohonan dan perbukitan di kanan kirinya. Seolah perbukitan itu membentengi area pantai. Ditambah lagi tebing – tebing tinggi yang siap menghalau hantaman ombak. Pantai ini tidak berpasir putih,  pantai memiliki pasir kecokelatan yang hangat dan lembut, siap memanjakan di setiap pijakan. Pantai ini memiliki keunikan yang tidak semua pantai memilikinya. Yaitu adanya topografi pantai dengan tebing dan karang yang memukau. Ini menambah spot foto di lokasi semakin indah.


Bila cuaca sedang cerah, langit biru menghampar dengan indah. Seolah menaungi keindahan yang ada di bawahnya. Berpadu dengan birunya laut dan hijaunya perbukitan. Pantai Watu Bale memiliki kontur yang landai, dan diapit dengan perbukitan Panduruan. Dari kejauhan, pengunjung dapat melihat indahnya Samudera Hindia.


Pantai Karang Bolong
Rasa hati seolah tak mau pergi, tetapi petualangan harus diselesaikan. Kembali bergerak, meliuk-menari di atas motor mengikuti kontur jalanan. Arah peziarahan masih menyususri bentangan pantai selatan. Dengan mengikuti jalan penghubung warisan penjajah (Dendeles) ke arah timur. Hingga kami pun bertemu lokasi wisata berikutnya yaitu Pantai Karang Bolong. Pantai ini berlamat di Desa Karang Bolong, Kec Buayan, Kebumen, Jawa Tengah. Usai membayar tiket sebesar Rp 12.000, kami langsung menggeber kuda besi untuk selanjutnya bercengkerama dengan pesonanya.

Pantai ini memiliki keunikan tersendiri dengan adanya karang yang berlubang. Besarnya deburan ombak dan hamparan pasir putih keabu-abuan menyajikan pemandangan alam yang mempesona. Keindahan pantai berpadu harmoni dengan adanya bukit-bukit tinggi di sekelilingnya seolah membangun lukisan semesta. Deretan pohon kelapa dengan nyiurnya yang melambai juga menambah eksotisme pemandangan.

Di pantai ini juga dapat duduk-duduk santai menikmati suasana alam pantai sambil menyantap hidangan kuliner di warung-warung sekitar. Aktivitas lainnya yang dapat dilakukan di pantai ini adalah memancing ikan.


Pantai Suwuk
Siang hari udara kian menyengat, namun semangat tak boleh kendor. Petualangan masih harus diselesaikan. Meninggalkan Pantai Karang Bolong, mengikuti jalanan hingga ketemu batas dengan jalan Dendeles. Di pertigaan ini juga sekaligus merupakan pintu masuk ke wisata Pantai Suwuk. Sebenarnya pantai ini tepat berada di seberang Pantai Karang Bolong.  Kedua pantai hanya terpisahkan oleh sungai yang cukup lebar. Maka untuk jalan pun dibuat melingkar lumayan jauh.

Pantai ini berada di Desa Suwuk, Kecamatan Puring, Kebumen, Jawa Tengah. Kalau dari Kota Kebumen, jarak yang harus ditempuh sekitar 50 kilometer. Sedangkan dari Gombong hanya berjarak sejauh 25 kilometer saja. Daratan Pantai Suwuk ini sangatlah luas. Meskipun warna pasirnya tidak putih seperti pantai-pantai lain, namun tetap saja memukau. Sebagai perbandingan adalah Pantai Parang Tritis Yogyakarta. Sejauh mata memandang hanya bertemu dengan luasnya bibir pantai, membentang seolah tak bertepi.
warung2 yg langsung menghadap laut
Permukaan daratan pasir yang luas ini dapat dimanfaatkan untuk mencoba pengalaman baru berupa offroad atau ATV. Tarif penyewaannya juga masih masuk akal, yaitu sekitar 50 ribu rupiah per jamnya. Di sebelah barat, tepatnya di deretan Pantai Karang Bolong terdapat pemandangan perbukitan. Deretan bukit-bukit di Pantai Suwuk ini berupa kapur tapi subur dan berwarna hijau yang mampu menyejukkan mata.

Di pantai ini juga sekaligus menjadi pusat kuliner sea food. Ada banyak sekali warung-warung yang menjajakan aneka masakan khas laut. Sangat menggoda dan menggiurkan. Ada aneka oleh-oleh khas laut,  seperti aneka gorengan dari hasil lautan. Misalkan udang goreng, cumi goreng, kepiting goreng, dll yang hampir kesemuanya digoreng krispi. Selain pusat kuliner di pantai ini juga tergarap dengan baik sebagai taman dengan hutan kelapanya. Sangat sejuk dan mendamaikan.

Mendung mendadak menggulung menyelimuti matahari yang sedang garang-garangnya. Kami memutuskan untuk menyudahi eksplorasi. Sekitar pukul 13.30 kami melaju ke arah timur, menyususri jalan Dendeles, seolah-olah melaju di atas jalan tol. Sungguh lengang, sepi dan halusnya jalan menjadikan bermotor seolah terbang di atas awan. Kami terus melaju arah timur, meninggalkan Purworejo, memasuki Wates dan meninggalkan Yogyakarta. Hingga akhirnya, kembali dengan selamat sampai di rumah, Solo tercinta.

Menutup Kisah
       Segala yang bermateri tidak ada yang abadi. Raga ini hanya sementara, tetapi kisah dan pengalaman akan abadi bersama cerita. Sekelumit kisah hidup ini, hanyalah sebuah cara agar hidup kami tidak using tanpa cerita. Tidak mewah juga tidak luar biasa. Tetapi buat kami, perjalanan ini sungguh luar biasa. Semoga petualangan demi petualangan semakin mengabadikan kisah cinta ini. Biarkan alam Kebumen mengikat hati kami makin erat, menyatu sebagai kekasih. Terimakasih untuk setiap orang yang kami jumpai, terimakasih untuk semesta yang tiada henti selalu memberi dan terimakasih untuk Tuhan atas segala berkat dan perlindunganNya.




Selasa, 14 Januari 2020

pemaknaan atas 100 kali mendaki gunung


MENEMPA DIRI BERSAMA SETAPAK GUNUNG:
“Sebuah Refleksi atas 100 Kali Pendakian Gunung”
Oleh: Heri Andreas
trail run style

Salam jumpa sobat petualang, kali ini aku akan berbagi sebuah refleksi. Ya hanya sebuah renungan atas pengalaman sederhana. Tidak istimewa, karena hanya refleksi atas pengalaman mendaki gunung.
 Roda hidup terus bergerak meninggalkan satu titik menuju titik berikutnya. Waktu pula yang menjadikan sebuah ide-gagasan menjadi kenyataan. Putaran waktu terus melaju membawaku dari satu kisah menuju kisah berikutnya. Ada kisah yang sesuai rencana, tetapi kebanyakan adalah kisah spontan yang mengalir terjadi begitu saja. Tetapi kisah tanpa pernah termaknai hanya akan menjadi cerita kosong, tak berarti. Oleh karena itu, perlulah aku meluangkan waktu untuk membingkai kisah hidup, agar aku bisa mengambil makna dari padanya.
Di sela sibukku, sejenak kusisihkan waktu untuk tunduk-merenung. Hamparan setapak  memori kutelusuri seperti labirin tak berakhir. Di tiap sudut labirin-memoriku ada banyak kisah untuk dikenang. Dari sekian milyar cerita hidup kupilih satu hal yang memang menjadi salah satu kesukaanku, yaitu dunia petualangan, khususnya “Mendaki Gunung”.
setelah duguyur hujan, merbabu via grenden

Bagi sebagian orang pengalaman mendaki gunung bukanlah “sesuatu banget”, bukan peristiwa yang hebat, apa lagi membanggakan. Tetapi untuk sebagian orang mendaki gunung merupakan pengalaman yang menantang, mencekam, sekaligus menyenangkan. Intinya, beda orang beda pula dalam menilai kegiatan ini. Akupun memiliki penilaian tersendiri. Aku sadari bahwa aku telah banyak kali mendaki tetapi aku tidak pernah merasa bosan. Bahkan ada dua gunung yang masing-masing pernah aku daki lebih dari 30 kali. Di penghujung tahun 2019, tepatnya tanggal 30-31 Desember, pendakianku telah lebih dari 100 kali (yang hampir kesemuanya di atas 3.000 mdpl). Sebuah pengalaman yang terus berulang dan terulang. Aku merasa ada sesuatu yang istimewa dari kegiatan ini, maka kuputuskan untuk merenungkannya secara lebih mendalam lagi.
puncak Garuda, Merapi (sebelum erupsi 2010)

Dalam refleksi kali ini, aku akan membingkai dari tiga hal yang berbeda. Pengelompokan ini aku buat, agar lebih sistematis, mudah ditangkap dan dipahami. Tiga hal tersebut adalah, sisi positif, sisi negatif, dan “ Ilmu hidup yang kupetik”. Aku mulai dari sisi positif atau hal-hal yang bermanfaat atau memperkaya hidup-batin.
1.      Menyenangkan, Menggembirakan, dan Membahagiakan
Mendaki gunung untuk orang-orang yang awam (= tidak mengerti atau belum pernah mendaki) sering menilai bahwa kegiatan mendaki gunung adalah sebuah kegiatan yang bodoh, sia-sia, buang-buang waktu, tenaga, dan uang. Bayangkan jika kebanyakan orang bisa menikmati hidup dengan kenyamanan dan kemapanan, sedangkan para pendaki melakukan hal-hal yang berkebalikan. Misalkan, teman-temanku sedang asik tidur dalam dekapan selimut tebal di dalam kamar yang nyaman, sedangkan aku malah tengah malam bangun, menembus gelapnya malam, berteman dengan sepi di sepanjang jalur pendakian, merambati setapak terjal yang  kadang di kanan-kirinya menganga jurang dalam.
menjelang post 2, Merapi
Kendati demikian, toh nyatanya banyak orang yang senang mendaki. Bahkan akhir-akhir ini, di Indonesia bisa mencapai jutaan anak muda yang melakukan itu. Bayangkan kalau di salah satu base-camp jalur pendakian saja bisa mencapai 1.500 pendaki, sedangkan satu gunung bisa lebih dari dua jalur. Artinya, setiap malam menjelang libur nasional (umumnya Sabtu-Minggu) seluruh gunung yang ada di Indonesia bisa dipadati lebih dari 20.000 pendaki.
Aku hanyalah salah satu dari sekian juta orang tersebut. Tiap orang pasti beda pengalaman, beda orientasi pendakiannya. Aku hanya merasa, tiap kali mendaki selalu ada rasa yang mendadak muncul dan itu asik. Baru tiba di area base camp (belum mendaki) saja sudah berbunga-bunga. Ada rasa gembira yang menyelinap dalam hati. Ada rasa senang yang datang.
mengawal pendakian perdana
Pada saat mendaki, bila cuaca dan semesta mengijinkan maka akan berjumpa dengan panorama alam yang luar biasa indah. Dengan sendirinya, hal-hal yang elok-indah akan menghadirkan rasa suka-cita yang mendalam. Maka, ketika aku mendaki lebih banyak bahagianya dari pada susahnya. Hal ini bisa jadi karena untuk mendapatkan atau untuk bisa menyaksikan keindahan alam-gunung harus dicapai dengan proses yang tidak gampang.
2.      Tenang dan Damai
Alam gunung berisikan hutan, air, dan batuan. Ada ragam jenis pepohonan dan perdu, juga semak. Mereka dijajar dan ditata oleh semesta dengan karya seni yang ajaib. Sehingga menciptakan keindahan yang luar biasa. Dengan demikian, alam gunung yang didominasi hutan dengan sendirinya memiliki suasana sepi. Kalaupun ada suara itu kebanyakan berasal dari penghuni hutan tersebut, yaitu hewan, dan serangga.
post 2 Merapi
Suara-suara yang mereka keluarkan seolah mengalun menjadi harmoni, menjadi musik terindah dan termerdu. Harmoni suasana hutan yang sepi dengan iringan semesta dari nyanyian para binatang dan serangga juga berpadu dengan bunyi angin, dan suara-suara dari alam raya merupakan kesempurnaan suasana. Hal demikian ini lah yang bagiku mampu menghadirkan hati yang tenang dan damai.
3.      Ekonomis
Setiap manusia membutuhkan cara untuk menyeimbangkan hidupnya. Ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk menikmati. Ada waktu untuk mendapatkan, ada waktu untuk menghabiskan. Sebagai pekerja, aku juga membutuhkan keseimbangan hidup. Di tengah kesibukan dunia kerja, bila ada waktu luang aku pun berupaya untuk sejenak rekreasi, sejenak mengisi jiwa yang dahaga. Demi kesegaran jiwaku akupun memiliki cara yaitu mendaki gunung.
cah turing, nyampe puncak Tambora

Dari berjuta cara untuk mengisi jiwa, bagiku mendaki gunung masih tergolong murah dan ekonomis. Harga tiket masih terjangkau. Untuk gunung-gunung di Jateng rata-rata masih di bawah Rp 20.000. Tidak dapat dipungkiri, di beberapa gunung memang terkenal mahal karena retribusi dihitung per hari.
Kalaupun ada yang bilang “Mendaki gunung adalah hobi yang mahal”, itu lantaran peralatan yang digunakan. Sebenarnya tidak semua perlengkapan harus punya. Sekarang, sudah banyak yang menyediakan jasa, “Persewaan alat-alat mendaki”, harga yang ditawarkan juga sangat terjangkau. Dari pengalaman pribadi, kalau aku mendaki gunung hanya 2H1M tidak pernah lebih dari Rp 100.000 (sudah mencakup: tiket masuk, bekal-logistik, dan sekali atau 2 kali makan di sekitaran base camp).
post 4 Lawu via Kandang
4.      Menyehatkan
Mendaki gunung merupakan aktifitas olahraga yang cukup berat. Supaya pendakian memberikan dampak positif harus ditopang dengan fisik yang mumpuni. Aku sendiri selalu berolahraga rutin, agar setiap saat ada keinginan mendaki, fisikku telah siap. Aku terbiasa berolah raga agar badan tetap bugar. Yang paling sering aku lakukan adalah  jogging, kadang lari jarak jauh, dan sering juga hanya sekedar aerobik ringan.  
Seminggu sebelum aku mendaki, aku melakukan aktifitas fisik yang melebihi biasanya. Bahkan bila aku akan mendaki dengan metode trail run, aku mempersiapkan diri dengan berlari jarak jauh (sekitar 5-10 km).
Dalam dunia pendakian, seringkali terjadi khasus pendaki yang kelelahan, kedinginan, kram, dan sampai hipotermia. Menurut analisaku (ini murni pendapat pribadi) itu karena fisiknya tidak siap, mentalnya tidak siap, properti tidak mendukung dan perbekalan yang dibawa juga ala kadarnya. Aku yakin, bila seseorang memiliki kemampuan fisik yang baik dengan perlengkapan, dan perbekalan yang memadai, maka mendaki gunung akan sangat minim resiko.
pernah juga makan mewah di atas gunung

Sejauh aku tahu bahwa “mendaki gunung merupakan kumpulan dari seluruh aktifitas olah raga”. Jelas bahwa mendaki gunung  mengandaikan bisa berlari, kuat lutut untuk berjalan naik-turun, punya kelenturan (fleksibelitas) dan daya tahan karena melakukan aktifitas fisik dengan durasi waktu berjam-jam. Dengan demikian, bila mengikuti prinsip yang benar maka dengan sendirinya seorang pendaki pasti memiliki kesehatan fisik yang bisa diandalkan. Memiliki hobi mendaki (seharusnya) akan memiliki kesehatan yang bisa dibanggakan.
solo trail run Lawu via Singo Langu
5.      Mendapat Teman (Sahabat/Saudara) Baru
Satu hal lagi yang bagiku cukup positif adalah mendapat teman/sahabat/saudara baru. Ketika aku mendaki, kadang hanya bertemu beberapa orang/ rombongan. Bahkan kadang tidak bertemu siapa-siapa. Maka, tidak mengherankan bila di jalur pendakian atau di post peristirahatan bertemu sesama pendaki yang sudah turun maupun yang baru menanjak, akan sangat mudah akrab. Kondisi saling membutuhkan, saling menguatkan, dan saling mendukunglah yang menyebabkan para pendaki lebih mudah akrab.
Pernah suatu kali pada saat mendaki, sudah hari kedua, aku belum bertemu dengan manusia lain. Ketika hari ketiga, aku mendengar. Ya baru mendengar suara manusia rasanya sudah sangat senang. Ada suka-cita yang membeludak. Pada hal itu belum ketemu dengan manusianya, baru suaranya. Diri ini yang awalnya begitu kecil di hadapan lingkungan hutan belantara-gunung mendadak menjadi kokoh, menjadi lebih berani, dan menjadi lebih percaya diri. Maka, secara umum para pendaki lebih mudah bergaul dengan orang-orang baru, lebih mudah membangun komunikasi dan dialog. Dengan demikian akan lebih mudah membangun dan mendapatkan kenalan atau sahabat baru.
dg teman baru, puncak Merbabu via Selo

Banyak hal menarik dari tiap kali mendaki. Tetapi tidak menutup kemungkinan akan adanya pengalaman-pengalaman yang tidak mengenakan, diantaranya adalah sebagai berikut:
1.      Lelah, Letih, dan Capek
Sebagaimana aku definisikan di atas bahwa mendaki gunung merupakan ramuan dari banyak aktifitas olah raga yang dilakukan dalam jangka waktu berjam-jam (dengan durasi yang lama). Maka, dengan sendirinya akan sangat menguras tenaga yang pada akhirnya berakibat pada raga yang lelah, letih, dan capek. Bagiku amat sangat tidak benar bila ada pendaki yang bilang, “Mendaki kok lelah. Mendaki tidak boleh ada lelahnya”. Pernyataan demikian adalah bohong besar. Tidak ada pendaki yang tidak merasakan kelelahan, kecapean, dan keletihan. Semua pendaki pasti mengalami raga yang ambyar.
Kendati raga koyak dihajar oleh tanjakan, turunan, dan terjalnya setapak hutan-gunung, namun hati tidak serta merta mengalami hal yang sama. Sering kali berbalikan, lelah raga, tetapi hati dan jiwa menjadi tegar-segar, bersemangat, dan bergairah. Ambyar-nya raga menjadi sumber nutrisi bagi jiwa yang koyak. Intinya, kelelahan selama pendakian menjadi sarana untuk memiliki jiwa dan hati yang terisi, berseri, dan berenergi. Bisa dikatan raga yang ambyar karena mendaki menjadi cara agar memiliki hati, jiwa yang lebih kokoh, bakoh.
dg istriku, segara anak, Rinjani

2.      PHP (Jalur tidak seperti yang dibayangkan/diinginkan)
Setiap kali mendaki gunung dengan jalur baru (yang lebih keren disebut pendakian expedisi, karena baru pertama kali lewat jalur tersebut), aku biasa mengais informasi mengenai keadaan jalur dari temen atau internet. Kerap kali gambaran yang aku peroleh tidak sama dengan kenyataan. Bersyukur bila lebih menguntungkan, misalkan menurut info jalurnya ganas, tetapi ketika kujelajahi jalurnya biasa saja. Tetapi kadang jengkel, bila gambaran yang didapat adalah jalur yang enak-landai, tetapi ketika ditapaki jalurnya ganas, nanjak luar biasa.
Cikasur, Argopuro
3.      Horror, Mencekam, dan Seram
Sejujurnya aku tidak memiliki kemampuan untuk melihat hal-hal ghaib. Aku tidak memiliki indera keenam. Aku hanyalah pendaki biasa yang tidak berbakat dalam dunia mistis. Maka, suasana horror, mencekam, dan seram lebih pada suasana hutan dan gunung. Beberapa kali aku menjadi pendaki solo atau solois atau solo-hikker. Dari pengalamaan mendaki sendirian inilah yang menjadikanku berani untuk menuliskan suasana horror, mencekam, dan seram dari sisi non-mistis.
Horror karena lebat belukar yang tebal dengan setapak yang samar. Beberapa kali aku pernah mengalami situasi pendakian yang sangat horror, karena setapak yang tidak jelas. Jalur pendakian yang hilang atau tertutup perdu ataupun semak, bagiku merupakan hantu terendiri. Ketika menghadapi situasi yang seperti ini, mendadak rasa takut itu menyusup. Biasanya aku akan menggunakan prinsip, terus saja dulu. Bila sampai 30 menit setapak makin lebat tak tembus berarti jalur telah mati, atau dialihkan. Maka, harus kembali ketitik awal agar bisa menemukan setapak/ jalan yang benar.
menghela nafas, Merbabu via Swanting
Aku mengalami situasi mencekam yaitu bila dihadapkan pada cuaca ektrim. Seringnya mendaki tidak serta merta menjadikanku anti-cemas. Ketika berhadapan dengan cuaca entrim, maka dengan sendirinya aku ciut nyali. Pernah berhadapan dengan badai ganas, dengan kabut tebal. Udara mendadak dingin sampai menusuk tulang belulang. Pernah juga dihadapkan pada hujan lebat dengan iringan petir. Bahkan aku merasa seolah-olah aku diikuti oleh tarian lidah api dari kilat-kilat guntur. Aku juga pernah dihadapkan pada situasi hutan yang terbakar. Mendaki di musim kemarau, dari base camp aman jaya, tetapi dari jalur lain ada kasus kebakaran hutan. Sehingga aku pernah dikepung oleh api yang memaksaku untuk membuat jalur baru guna menghindari arah pergerakan angin untuk menghindari perkembangan api.
mengawal penmas, puncak Lawu via Kandang
Sedangkan situasi seram kerap aku alami mana kala aku mendaki sendirian dan harus bermalam di area yang masih hutan lebat. Dalam tidurku aku mendengar suara-suara alam yang bermacam, sehingga menimbulkan imajinasi-imajinasi tanpa batas. Sering pula selama bermalam dalam tenda sendirian sampai pagi tidak bertemu dan juga tidak mendengar suara manusia. Sehingga segala suara yang keluar dari penghuni hutan memaksaku untuk lebih waspada dan berhati-hati.
senja, Merbabu via Wekas
4.      Properti yang Rusak
Dalam dunia petualangan hal-hal atau peristiwa yang tidak diinginkan/diharapkan kerap terjadi. Akupun pernah mengalami itu. Salah satunya adalah frame tenda yang patah. Sedangkan bentuk tenda sangat ditentukan oleh frame. Bila frame patah maka bentuk tenda menjadi tidak sempurna, bahkan kadang tidak bisa digunakan sama sekali. Sedangkan di sisi lain, cuaca sedang gawat. Pada waktu itu hujan badai, aku berada dalam tenda. Karena angin bertiup dengan kencang dan aku malas memperkuat tenda dengan tali. Maka, di tengah cucaca hujan, frame patah. Suasana dalam tenda menjadi kacau balau. Isitirahat idak lagi nyaman dan segala aktifitas dalam tenda terganggu seketika.
setelah semalam2an dihajar badai dg tenda patah frame
Hal kedua yang pernah aku alami adalah kompor gas yang macet. Salah satu hiburan terbesar dalam dunia pendakian adalah masak-memasak. Bagiku memasak dan menikmati hasil masakan pada saat camp merupakan kepuasan tersendiri. Mendaki, camp dan memasak adalah satu kesatuan sebagai hiburan jiwa. Tetapi pada waktu itu tenda berdiri dengan gagah, berharap untuk segera bisa menikmati minuman hangat juga makanan tetapi kompornya ngadat, macet tidak mau menyala, karena gas tidak mau keluar.
jd nya bakar ikan, bkn goreng ikan
5.      Disepelekan, Dipandang Remeh, dan Tidak Dihargai
Aku mendaki lebih dari 100 kali itu karena usiaku yang sudah tidak muda lagi. Dalam dunia pendaki sering disebut dengan istilah “Pemula” (= pendaki muka lama). Kendati aku tergolong pendaki kawakan tetapi tidak serta merta aku memiliki banyak kenalan. Aku tidak punya komunitas atau grup pendaki. Aku adalah pendaki free land, mendaki bila ada waktu. Tidak terikat oleh janji dan kesepakatan. Ada waktu, ada niat, ada keinginan langsung aku tancap-nanjak. 
tiktokan Merapi
Tempat tinggalku adalah Surakarta yang biasa dikenal dengan sebutan Solo. Maka, gunung yang paling sering aku daki adalah gunung Lawu, Merbabu, dan Merapi. Bahkan beberapa kali aku yang awalnya hanya sekedar pengin nongkrong di base camp, kemudian muncul keinginan nanjak. Ya akhirnya nanjak juga.
Oleh karena itu bila aku nanjak hanya dengan bermodal westbag dan bersandal jepit, banyak pendaki yang nyinyir dan mencemooh. Komentar “Ndak safety” sering dilontarkan kepadaku. Bila bersandal jepit dan hanya memakai weist bag bagiku wajar bila dikomentari seperti itu. Tetapi aneh bila aku menggunakan property trail run juga dikomen sama.
sandal jepit, puncak Welirang
Oh ya, perlu aku sampaikan bahwa aku mendaki gunung tidak hanya menggunakan satu model tetapi banyak. Sesuai dengan situasi dan kebutuhan. Dari mendaki model konvensional yang membawa kulkas dua pintu siap mengembara di hutan selama dua minggu, bisa juga dengan metode konvensional dengan tas kerir standar (tidak seperti membawa kulkas dua pintu), kadang aku juga hanya tiktokan (mendaki kebut tanpa tenda, tetapi dengan property standar demi safety), tetapi kadang juga mendaki model atlit marathon yang biasa dikenal dengan trail run (dari base camp-puncak-base camp tidak lebih dari 6 jam). Kadang aku mendaki seorang diri, kadang aku mendaki dengan 1 atau 2 teman, tetapi aku juga pernah mengawal rombongan di atas 20 orang sebagai tim besar.
mengawal, pendakian keluarga, pos 2 Lawu via Sewu
Aku sering mengalami cercaan atau dipandang sebelah mata bila menggunakan metode trail run. Bisa jadi, karena metode ini tergolong baru atau tidak popular di Indonesia. Pada hal di luar negeri, metode ini sudah sangat familiar. Bila aku diremehkan, aku hanya tersenyum dan mencoba merendah dengan bertanya, “Yang safety itu seperti apa ya?” Kemudian mereka akan antusias menjelaskan, seolah-olah aku ini orang yang tidak ngerti sama sekali tentang dunia pendakian. Ya aku terima saja dan kuucapkan terima kasih kepada mereka.
tiktokan solois, pasar bubrah, Merapi

Adapun beberapa keutamaan-keutamaan hidup “yang kupelajari” dari kegiatan mendaki gunung adalah sebagai berikut:
1.      Pengorbanan
Nilai hidup pertama yang kupelajari adalah pengorbanan. Hal ini mungkin terdengar klise, biasa. Paling-paling ya itu-itu. Tetapi buatku nilai yang kuperoleh dari setiap kegiatan itu beda. Sama-sama nilai pengorbanan, tetapi yang dirasakan oleh hati dari kegiatan yang berbeda terasa tidak sama. Dalam kegiatan “mendaki gunung” pengorbanan merupakan syarat mutlak untuk bisa mencapai titik-titik tinggi dari sebuah gunung yang didaki. Ada egoisme yang harus ditanggalkan, ada kenyamanan yang harus diasingkan, ada batas-batas diri yang mesti dilampaui. Dengan ini, aku hanya menegaskan bahwa nilai pengorbanan yang pertama adalah untuk diri sendiri.
Sedangkan nilai pengorbanan yang kedua adalah demi orang lain, demi tim atau demi kesuksesan bersama, juga bisa demi keselamatan sesama. Tidak jarang aku menemui pendaki yang mengalami kesusahan di tengah pendakian. Ada yang kekurangan logistik, ada yang kram, ada yang terkilir, dan ada pula yang kehilangan semangat. Ketika berjumpa dengan situasi orang lain yang memang membutuhkan pertolongan, maka dengan mudah serta rela hati, aku pun membantu sejauh bisa. Kadang hanya membagikan seteguk air yang kubawa, tetapi sangat berarti untuk pendaki yang kehausan.
bkn porter, Raung
2.      Menjadi Lebih Sabar
Keutamaan yang kedua adalah kesabaran. Mendaki gunung secara pelan-pelan akan memandu yang melakoninya menjadi lebih mampu mengendalikan dirinya. Sejauh yang kualami, di beberapa gunung memiliki aturan kalau mendaki gunung di situ memiliki syarat-syarat yang menggiring untuk lebih bisa mengontrol dirinya. Diantaranya adalah tidak boleh mengeluh, tidak boleh sombong, tidak boleh berkata jorok/kasar/mengumpat, dll. Maka dengan sendirinya, mendaki merupakan saranan untuk lebih bisa mengolah diri, mengendalikan diri, dan menempa diri untuk menjadi semakin dewasa.
Dengan kata lain, mendakai dapat dikatakan sebagai kawah candradimuka. Mendaki gunung akan lebih mudah menjadikan seseorang dewasa. Walau ada pepatah yang mengatakan, “Tua adalah pasti, Dewasa adalah pilihan”, artinya menjadi dewasa merupakan sebuah hasil dari kesadaran, pilihan dan proses hidup. Mendaki gunung bisa saja tidak memberi daya dan efek apa-apa. Ketika aku mendaki kumerasa sedang  bermati raga, untuk menziarahai hati dan diri. Mendaki menjadi sarana menelusuri lorong-lorong diri agar bisa berbenah, dan memilih cara hidup yang benar.
bkn porter, Merapi

3.      Solidaritas
Keutamaan yang ketiga adalah solidaritas. Keutamaan untuk berbela rasa. Keutamaan untuk mengalahkan kepentingan diri demi orang lain. Solidaritas yang paling sering aku lakukan adalah mengalahkan ritme pribadi demi kebersamaan. Biasanya hal ini lebih terasa dalam pendakian dalam sebuah tim. Sebagaimana aku ceritakan di atas, kalau aku mendaki gunung dengan aneka metode. Kadang sendiri, kadang lari, kadang juga hanya sekedar rekreasi. Bila dalam tim, maka dengan sendirinya aku akan menyesuaikan dengan ritme kelompok. Pernah aku membandingkan lama waktu menapaki jalur gunung yang sama, antara mendaki sendiri dengan tim, selisih waktunya amat sangat jauh. Saat aku mendaki sendiri pernah tembus 4 jam, tetapi saat mendaki bersama kelompok menjadi 12 jam.
membuat nyaman teman seperjalanan, pos 4 Merbabu via Selo

4.      Menyatu dengan Alam
Alam gunung merupakan tempat yang paling banyak memiliki varian cuaca.  Kadang dari udara begitu terik, tiba-tiba menjadi dingin luar biasa. Kadang cuaca panas menyengat, dalam waktu sekejab berubah gelap tertutup mendung (yang kadang juga mendadak menjadi hujan). Tidak jarang di sepanjang jalur pendakian diselimuti kabut tebal, tetapi kadang juga cerah tanpa awan. Berhadapan dengan misteri alam gunung yang sulit bahkan tidak bisa ditebak itulah, maka keutamaan yang harus dimiliki oleh seorang pendaki adalah menyatu dengannya.
pahamilah gunung seperti kekasih

Kemampuan menyatu dengan alam akan membawa seseorang selalu bisa menerima apa yang diberikan olehnya. Menerima peristiwa akan terasa nyaman dalam kehidupan. Petualangan dalam dunia pendakian yang cuacanya tidak tetap akan mudah dinikmati bila mampu menerima segala peristiwa yang terjadi.  Kemampuan menyatu dengnan alam pula yang menjadikan seseorang akan bisa menempatkan diri untuk bertindak, bersikap, dan berbuat pada semesta. Seseorang yang menyatu dengan alam akan membimbingnya untuk berlaku bijak pada semesta. “Berani menerima karunia alam, seharusnya berani pula untuk memberi yang baik pada alam itu sendiri. Tidak hanya melulu menerima, tetapi juga akan menggiringnya untuk berani berbuat/ memberi pada alam.
turun dr tiktokan adalah mulung sampah (sekuatnya)

Sobat petualang, pengalamanku yang sederhana ini menegaskan bahwa manusia bisa berkembang melalui pengalaman yang telah terlewati asal mau memaknainya. Bersama pendakianku yang lebih dari 100 kali ini aku merasa bahwa semesta telah menghantarku untuk berjumpa dengan banyak hal. Hingga akhirnya aku pun boleh belajar dari padanya. Selanjutnya aku akan lebih membuka hati untuk pengalaman-pengalaman lainnya. Semoga dengan banyaknya kisah-petualangan hidup, diri ini semakin menjadi utuh, terus berkembang menjadi pribadi yang mampu menemukan dan mengalami suka cita, kedamaian dan kebahagiaan.