Kamis, 27 April 2017

Catatan Perjalanan, Pendakian Gunung Prau via Wates: “Mengurai Rindu Sabana Sembalun, Rinjani”

Pendakian Gunung Prau via Wates:
“Mengurai Rindu Sabana Sembalun, Rinjani”
Oleh: Heri


Telah lama, saya mendengar cerita tentang keindahan Gunung Prau. Tetapi tak ada sedikit minatpun untuk  mencobanya. Bukannya sombong. Tidak sama sekali bermaksud pamer. Karena selama ini, saya memang biasa mendaki gunung-gunung dengan ketinggian 3.000 mdpl ke atas. Saya memiliki alasan sendiri kenapa lebih senang mendaki gunung-gunung yang seperti itu. Pertama, karena masih mampu. Kendati usia tidak lagi muda, tetapi saya terpola untuk menjaga kemampuan fisik dengan rajin berolah raga. Kedua, lebih menantang. Ketiga, lebih sepi atau tepatnya lebih hening. Alasan ketiga ini, merupakan alasan terfavorit. Karena sekarang ini, untuk menemukan keheningan gunung sudah menjadi pengalaman langka. Kemudahan jaman membawa orang tidak memiliki kemampuan menikmati harmoni nyanyian alam.
Bermodalkan serpihan info yang tidak lengkap membawaku untuk meluncur menuju TKP. Awalnya, setahuku lokasi base camp gunung Prau ada di sekitar Dieng. Maka, saya pun berencana untuk mencarinya dengan titik tuju adalah wisata Dieng. Sabtu, 15 April 2017 dari Solo, saya bersama isteri dengan satu motor memulai petualangan sederhana. Sesampainya di Parakan, Temanggung saya mulai bertanya akses paling mudah untuk ke Dieng. Saya berpikir pasti akan lewat Wonosobo. Ternyata, tidak.
Dari info yang kuperoleh, saya ditunjukkan jalan tercepat menuju Prau. Tidak perlu lewat Wonosobo, juga tidak perlu melewati Dieng. Tetapi langsung menuju Wates, Wonoboyo, Temanggung. Yang katanya, jalurnya masih alami. Ada trek hutan, padang ilalang dan yang tidak kalah penting adalah luasnya sabana dengan tanjakan yang landai. Cukup ditempuh 4 jam. Saya pun putar haluan, mengikuti info yang baru saja kudapat. Dengan harapan rindu untuk melangkah tertatih dalam waktu yang lama akan terobati. Namanya juga ndaki gunung, masak hanya 1-2 jam saja.
Tidak sampai 45 menit, dari Parakan tibalah kami di base camp Wates.
Base camp
Base camp Wates gampang dikenali, ada banyak papan penunjuk arah. Selain tulisan “Base Camp”, penanda lain yang gampang dikenali adalah kerumunan orang dengan perlengkapan mendaki, seperti tas kerier yang super gede juga tas selempang yang gemerincing dengan aksesorisnya. Selain itu, ada juga yang petugas base camp yang berjaga mengarahkan para pendaki untuk melapor dan melakukan regristrasi serta membayar retribusi.
Base camp merupakan bangunan sederhana yang mampu menampung motor sekitar 40-50 motor. Sedangkan tempat parkir mobil berada di sepanjang pinggir jalan sekitar base camp.
Beberapa hal istimewa bila melalui jalur ini adalah, pertama jika rombongan cukup banyak, maka pihak pengelola menyediakan jasa guide gratis sampai ke puncak. Kedua, bila membawa anak kecil, usia 1-4 th, pengelola juga menyediakan jasa gendong gratis sampai puncak. Kekurangan dari base camp Wates adalah minimnya warung makan, namun bisa memesan makanan pada warga atau pengelola. Sedangkan warung kelontong juga masih sangat sederhana.
Setelah mendaftar dan membayar biaya retribusi, pengunjung akan memperoleh peta dan peraturan dalam pendakian. Cukup lama saya dan isteri beristirahat di base camp. Dari sore hingga malam. Sengaja, saya akan mendaki malam dengan beberapa pertimbangan, yaitu udara lebih sejuk, tidak panas dan pasti akan mengurangi jumlah pemakaian air minum. Tepat pukul 22.00, kami memulai pendakian serta petualangan sederhana menapaki setapak Prau via Wates.

Base Camp – Pos 1 (Blumbang Kodok)
Udara malam terasa dingin menusuk tulang. Dalam situasi yang seperti ini, rasa kantuk menjadi godaan untuk memilih rabah nyaman di pembaringan. Namun, tekat telah bulat. Kaki harus melangkah. Langit begitu cerah, bulan dan bintang gemerlapan memberi harap akan cerahnya cuaca. Melangkah pelan dan tenang, kami hanya berdua menikmati panorama perkebunan di terangi temaram cahaya rembulan. Nan jauh di sana, gemerlapan cahaya lampu kota berpadu harmoni dengan taburan lentera bima sakti. Asik. Bikin semangat kian membara. Hingga tidak terasa, tepat 45 menit kami malangkah, tibalah di selter yang tak beratap bertuliskan Pos 1 Blumbang Kodok.
Sebenarnya, perjalanan dari base camp menuju Pos 1 ada jasa ojek yang ongkosnya 20.000. Niat hati mau hiking ya jalani aja dengan gembira. Tidak lama kok, hanya 45 menit. Setelah istirahat sejenak. Hanya sekedar mengatur nafas, kami pun melanjutkan langkah.
Pos 1 (Blumbang Kodok) – Pos 2 (Cemaran)
Pos 1 merupakan batas  lading dan hutan. Selepas selter Pos 1, jalan setapak banyak yang telah tertutup semak. Wajar lah, jalur ini baru buka tanggal 5 April, setelah ditutup 3 bulan untuk mengembalikan vegetasi. Jalur dari Pos 1 menuju ke Pos 2 merupakan jalur yang tertutup vegetasi cukup rapat, nyaman untuk berjalan siang hari. Sebuah wilayah hutan yang terlihat masih alami dan lama tidak terbakar. Hal ini, ditandai dengan masih banyaknya pohon-pohon besar yang ditumbuhi lumut serta anggrek hutan. Jalur ini tidak terlalu terjal bahkan cenderung landai.

Jalan setapak yang terkadang tertutup semak membuat kami harus berhati-hati agar tidak tersandung sesuatu. Cuaca malam masih tetap sama. Cerah. Bahkan anginpun enggan berhembus. Tidak berapa lama, sekitar 20 menit tibalah kami di Pos 2. Kami tidak beristirahat. Hanya berhenti sejenak demi mengatur nafas.
Pos 2 – Pos 3 (Sudung Dewo)
Perjalanan dari base camp sampai di Pos 2, kami belum berjumpa dengan pendaki lainnya. Namun, sayub terdengar suara-suara dikejauhan akan adanya pendaki lainnya. Dengan bergegas, kembali kami melangkah. Sekitar 10 menit meninggalkan Pos 2, kami berjumpa dengan 2 pendaki yang tertatih. Mereka berjalan teramat pelan. Kami pun mendahului mereka. Terus melangkah dengan keadaan yang sama. Hutan lebat. Cuaca bersahabat. Hingga tepat pukul 23.15, kami telah tiba di Pos 3. Di sini, kami berjumpa dengan rombongan pendaki yang cukup banyak. Mereka dari temanggung. Rombongan ini bersama dengan guide setempat sebagai fasilitas pengelola (bila rombongan minimal 10 orang, maka akan diberi fasilitas 1 guide secara cuma-cuma). Mereka berhenti dan berisitirahat sambil menunggu 2 pendaki yang ternyata temannya.

Untuk beberapa saat kami beristirahat. Sambil berbagi pengalaman dan cerita. Saya dan isteri beristirahat sambil berdiri. Kami memiliki pola, kalau memang niatnya beristirahat lama ya sekalian dirikan tenda, masak dan tidur. Sekitar 15 menit kami bergabung untuk berbagi kisah. Lalu, kembali kami melangkah. 
Pos 3 – Tangga Cinta
Selepas Pos 3, hutan telah tiada. Pepohonan yang lebat berganti dengan padang ilalang. Perjalanan malam menjadikan setapak dan perdu telah basah, sehingga udara kian menusuk. Angin juga berhembus dengan santai. Tanpa penghalang menjadikan udara merayu untuk mengeluh. Tetapi di langit sungguh memaparkan panorama yang tak terbahsakan. Keindahan yang tak bisa dibahasakan.

Kendati jalan kami pelan, namun masih penuh daya dan tenaga. Keindahan alam berupa hamparan perbukitan yang malu-malu bersembunyi di balik tipisnya kabut. Pelan dan pasti, kami terus melangkah. Di kejauhan terlihat barisan tenda-tenda dengan lampu-lampu manja. Makin menggugah asa untuk segera menemukan tempat yang nyaman.

Tangga Cinta – Pelawangan
            Tangga cinta berlalu, kami tidak juga berhenti. Terus melaju. Di sini, keadaan sedikit membaik. Karena masih ada pepohonan yang tersisa. Tanjakan tetap landai bahkan cenderung datar. Semangat kian membara, karena barisan tenda seolah sudah dekat di mata. Namun, saya tahu kalau itu masih jauh di kaki.


Plawangan – Camp Area
Sedikit informasi bahwa pelawangan didominasi oleh sabana yang sesekali terlihat pohon cemara di ujung ruang pandang. Terbelah oleh jalan setapak yang cukup licin dan sempit, diapit oleh rerumputan yang membelai kaki ketika melintasinya. Di area ini, berjalan harus ekstra hati-hati, karena sepatu seolah tidak bisa menapak. Bagaikan air di atas kaca. Untuk menyiasati keadaan, kami memutuskan untuk membuat jalur sendiri. Mengikuti setapak tetapi tidak melangkah di setapak yang sudah ada. Mlipir tipis-tipis.

Kami melihat di camp area jalur Wates ini, hanya ada 2 tenda. Maka, kami putuskan untuk terus melangkah. Tujuan kami adalah camp area puncak Prau, yaitu bukit teletubis. Tidak butuh waktu lama, kami pun tiba dan menemukan tempat yang cocok. Mengacu pada bintang malam, sengaja saya mendirikan tenda menghadap ke timur. Berharap esok pagi bisa menikmati keindahan sun rise dari tenda.
Menikmati Malam
Sekitar 2 jam 15 menit, kami telah menyusuri setapak dari base camp sampai di puncak Prau. Tenda telah berdiri megah. Suasana malam makin asik untuk dinikmati. Namun, apa daya udara memang kian tak peduli terus menusuk tulang sampai menggigil. Dingin. Udara yang dingin memaksa untuk segera bersembunyi dihangatnya tenda. Memasak dan membuat minuman hangat sebagai kegiatan.

Malam kian larut, lelah raga memaksa kami untuk meninggalkan segala keindahan alam dan berpaling pada lelap. Namun, sayang keheningan malam pegunungan kini menjadi barang langka. Ternyata, ada beberapa tenda yang memutar musik dengan pengeras suara portable. Lalu, beberapa pendaki ikutan bernyanyi, berkaroke dengan suara yang jauh dari merdu. Hening gunung dengan alunan melodi alam tak mampu nyenyakan mimpi.
Selain bising suara, udara mala mini memang amat sangat menyengat. Hingga sayapun terjaga. Sambil merenung menemukan makna baru arti sebuah pendakian yang berubah bersama perkembangan jaman. Kunikmati setiap celotehan dari tenda-tenda tentangga. Mereka asik bercerita, membagikan petualangan demi petualangan, menjelajahi tiap jengkal setapak di gunung-gunung tinggi seantero negeri. Sambil menguap, kukerdilkan diri. Ternyata, saya hanyalah yunior, seorang pemula di dunia pendakian. Sedangkan isteriku amat sangat nyenyak tidurnya. Mungkin, ia mendengar cerita tetangga tenda sebagai dongeng penghantar mimpi.
Menikmati Golden Sun Rise
Malam merangkak menyambut fajar. Temaram merah di ujung timur telah mulai membuka jendela malam. Cahaya fajar selalu mengundang decak kagum. Kegaduhan gunung  makin menjadi dengan teriakan euphoria suka cita. Saya hanya bernalar untuk memahami mungkin untuk mereka ini, sun rise yang menakjubkan ini adalah pengalaman pertama mereka. Jadi, wajarlah. Namun, saya menangkap ini bukan lagi sebuah euphoria tetapi kampungan. Hingga akhirnya, dari dalam tenda saya terpaksa nyletuk dengan keras, “Dasar kampungan, ndeso”. Aneh, teriakanku membawa efek. Orang-orang tidak lagi teriak narsis yang wagu. Kemudian mereka perlahan mengekspresikan kebahagiaanya dengan cara elegan.

Saya melongok ke luar tenda. Pintu tenda tepat menghadap ke timur, sehingga kami dapat menikmati suasana golden sun rise dari dalam tenda bersama dekapan sleeping bag.
Sambil bercengkerama dengan keindahan alam kusisihkan waktu untuk mebuat minuman hangat dan sarapan. Target, pagi ini tepat jam 7 mesti sudah melangkah turun. Pulang.
Perjalanan Pulang
Setelah packing dan semua peralatan telah masuk rapi ke dalam tas carrier. Tepat pukul 7.15 kami memulai perjalanan turun.  Beban cukup berkurang dan badan yang telah segar menjadikan perjalan turun gunung terasa ringan.

Banyak orang yang masih menikmati pemandangan alam yang indah. Sebenarnya, sayang untuk dilewatkan. Tetapi isteriku tidak nyaman menikmati kegaduhan gunung. Keindahan alam pegunungan berganti dengan perlombaan gaya foto ternasis. Ketika kami lewat, banyak yang terheran dan bertanya, “Masih pagi kok udah turun. Sayang lho, pemandangannya keren”. Saya sembari tersenyum menjawab, “perjalanan kami masih jauh”.

Setelah melewati kerumunan pendaki yang berjubel. Sepi. Tidak ada pendaki lainnya. Situasi ini baru menggugah selera isteriku untuk mengabadikan beberapa moment perjalanan. Menuruni bukit sembari berfoto-foto ala kadarnya. Di sinilah, imajinasiku melayang menembus kenangan pada luasnya sabana Sembalun gunung Rinjani. sejauh mata memandang yang terlihat hanya hijaunya rerumputan dan semak. Berlatar permadani alam, kami banyak mengabadikan kisa dengan asik berfoto-ria. Sebenarnya, kami pun tidak kalah narsis. Tapi mungkin tidak terlalu lebay. Hehe...
Tidak terasa, perjalanan turun ini telah menghantar kami di batas hutan dan ladang. Berarti telah tiba di Pos 1. Tanpa istirahat, kami terus berjalan. Hingga tepat pukul 9.00 kami telah tiba di base camp dengan selamat. Saatnya laporan.


Penutup: menemukan makna dari setiap perjalanan

            Demikianlah sekedar berbagi pengalamaan. Tiap orang pasti berbeda dalam menjalani dan melakoni tiap kisahnya. Setapak bisa sama, namun makna dan pembelajaran hidup yang diperolehnya tidak akan pernah sama. Merajut kisah di gunung Prau via Wates menorehkan bingkai hidup bahwa alam adalah guru. Perjalanan ini mengajariku untuk tidak pernah tunduk pada masa lalu. Hidup mesti bergerak dan bertumbuh. Hidup mesti terus melangkah. Hidup yang layak disebut hidup adalah hidup yang terus berupaya memberikan diri pada yang dicintainya. Kerelaan berkorban bagi yang dinta itulah hidup. Terimakasih Prau. Terimakasih semesta. Terimakasih Tuhan. Terimakasih isteriku.  Terimakasih waktu dan padamu kami selalu berharap untuk bisa melukis kisah hidup, kisah untuk membuktikan dan mewujudkan cinta.

Kamis, 22 Desember 2016

catatan perjalanan Sumbing via Banaran

SUMBING VIA BANARAN: JALUR PENDAKIAN TER-SAFETY
Oleh: Heri


Salam Rimba, Salam Petualang, Salam Lestari, Salam Persahabatan. Selamat berjumpa dengan kisah yang berbeda walau pada setapak yang sama. Jaman boleh berubah, namun pengalaman tetaplah personal. Banyak cara mengabadikan peristiwa hidup. Salah satunya adalah dengan merekam peristiwa. Ada banyak metode. Sekarang ini merupakan era digital dan visual. Maka, informasi yang disampaikan pun mengarah pada rekaman video atau film. Berbagi info dengan tulisan mulai ditinggalkan. Minimnya informasi tertulis di internet tentang jalur gunung Sumbing via Banaran inilah yang mengusik hatiku untuk mencoba membagikan sepercik kisah, pengalaman singkat dalam menapakinya.
Dewasa ini, dunia pendakian bukan sesuatu yang asing. Bahkan cenderung udah biasa. Pakai banget lagi. Kendati demikian, yang namanya hoby tetaplah memanggil untuk dituruti. Jalur-jalur resmi pendakian selalu dijejali pendaki beserta sisa-sisa pendakiannya. Maka, ketika ada informasi mengenai jalur baru, saya selalu tergelitik untuk mencobanya. Ada tantangan di sana. Namun yang paling utama adalah sepinya jalur. Kesunyian gunung, selalu mendulang rindu dalam kalbu. Entah mengapa saya selalu rindu bercumbu dengan kesunyian gunung. Mungkin ada damai di sana atau bisa lebih dari pada itu. Mari kita simak, ….

 Sekilas tentang  Gunung Sumbing
Gunung sumbing sering dipahami sebagai salah satu gunung kembar. Sedangkan kembarannya adalah gunung Sindoro. Gunung Sumbing terletak di 4 kabupaten Temanggung- Wonosobo-Purworejo-Magelang Jawa Tengah. Salah satu daya tarik dari gunung ini adalah keindahan kawahnya. Gunung Sumbing juga terkenal sebagai gunung tertinggi ke-2 di Jawa Tengah setelah gunung Slamet dengan ketinggian 3.371 mdpl. Gunung Sumbing menempati urutan gunung tertinggi ke-3 di Jawa setelah Gunung Semeru dan Gunung Slamet.
Gunung Sumbing merupakan salah satu gunung api yang terdapat di Pulau Jawa, Indonesia. Bersama-sama dengan Gunung Sindoro, Gunung Sumbing membentuk bentang alam gunung kembar, seperti Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, apabila dilihat dari arah Temanggung. Celah antara gunung ini dan Gunung Sindoro dilalui oleh jalan provinsi yang menghubungkan kota Temanggung dan kota Wonosobo. Jalan ini biasa dijuluki sebagai "Kledung Pass”.
Jika ada pendaki yang menyebut istilah “Expedisi triple S” Gunung Sumbing termasuk didalamnya, melengkapi gunung dengan awalah huruf “S” lainnya, yaitu Sindoro, Sumbing dan Slamet.
Gunung sumbing memiliki beberapa puncak, yaitu puncak Buntu, puncak Kaliangkrik (Sejati), puncak Kawah, dan puncak tertingginya adalah puncak Rajawali. Untuk menuju puncak Sumbing sebenarnya ada banyak jalur, yakni via Garung, via Cepit, via Bawongso, via Mangli Kaliangkrik, dan via Butuh Kaliangkrik, via Lamuk, via Sipetung dan yang terbaru adalah via Banaran Temanggung.
Gunung Sumbing via Banaran
Gunung sumbing via Banaran, kecamatan Tembarak, kabupaten Temanggung belumlah sebagai jalur resmi. Ijin dari TNGS masih dalam proses. Jalur ini baru dibuka pada bulan Agustus 2016. Maka tidak mengherankan bila Sumbing via Banaran ini untuk sebagian orang agak awam bahkan asing dan tidak kenal atau belum tahu.
Kendati jalurnya belum resmi, namun tim pengelola patut diacungi jempol. Menjelang pendakian ramai, pasti tim SAR setempat akan siap sedia di Pos 2 dan 3. Alasan yang disampaikan adalah demi menghindari hal-hal yang tidak baik. Dengan kesiapan mereka di pos-pos tersebut, maka ketika ada pendaki yang mengalami situasi tidak baik, akan sangat cepat teratasi atau minimal segera dapat diatasi.
Pengalaman saya, pada saat mendaki jalur ini dan memang ada pendaki yang dievakuasi. Dengan sigap pihak pengelola segera cepat turun tangan, bahu membahu untuk segera mengevakuasi. Sistem estafet mereka terapkan sehingga masing-masing penjaga pos bekerja dan tidak akan menghabiskan tenaga tim pengelola. Selain kesiapan tim SAR setempat, sikap ramah para penduduk menjadi daya tarik yang luar biasa. Keramahan itu juga didukung dengan suguhan segelas teh panas saat datang di base camp dan segelas teh panas saat turun gunung. Oleh karena itu, saya berani menyimpulkan bahwa jalur ini merupakan jalur ter-safety
Jalur pendakian Sumbing via Banaran dapat ditempuh dengan waktu rata-rata 7 sampai 8 jam perjalanan untuk sampai di puncak Kawah / Segara Banjaran. Dari Segara Banjaran nanti bisa ke puncak jalur Sejati/ puncak Buntu/ puncak tertinggi Rajawali. Perjalanan dari Segara Banjaran (sabana yang berada di kawasan kawah Sumbing) untuk mencapai masing-masing  puncak membutuhkan waktu rata-rata 1 jam.

Transportasi menuju Basecamp Gunung Sumbing via Banaran
Saya berangkat berdua (dengan isteri) dari Solo Jawa Tengah. Kami memulai perjalanan dari Solo menjelang sore, sekitar pukul 15.30. Kami menggunakan  sepeda motor. Sebelum memulai pendakian, saya menyempatkan diri untuk searching  peta perjalanan. Tetapi kenyataan jalan tidak sesederhana yang ditampilkan oleh google map. Kami sempat tersesat, kehilangan arah. Bertanya pun banyak orang yang tidak tahu. Namun, kami percaya bahwa desa Banaran, Tembarak, Temanggung itu ada. Akhirnya, kami dipandu oleh pengelola base camp hingga kami sampai di base camp Banaran sekitar pukul 19.30.
Sedikit informasi, untuk menuju base camp Banaran Temanggung yang dari timur (Secang sebagai titik pertemuan dari arah Semarang/utara dan dari Yogjakarta/selatan), sebelum alun-alun Temanggung  nanti ada perempatan, ambil kiri (ada bank BCA). Lebih mudah bila mencari jalan Pahlawan. Ikuti jalan Pahlawan sampai menemukan Makam Pahlawan Temanggung, berarti sebelah kiri jalan. Dari makam pahlawan ini, lurus sekitar 40-50 meter, akan bertemu dengan pertigaan yang sudah ada papan penunjuk jalan arah base camp Banaran.  Tetapi jangan tertipu, di plang penunjuk jalan tersebut tertulis 3 km. Tetapi menurut spidometer motorku sampai 6 km, barulah kami tiba di base camp Banaran.
Kalau masih bingung silahkan menghubungi nomor pengelola, yaitu 081226469505
Atau ikuti IG @sumbingeastroute

Simaksi pendakian Gunung Sumbing Banaran
Untuk simaksi pendakian mudah dan terkoordinir dengan baik. Termasuk tarif ojek juga melalui pengelola. Dengan demikian pendaki diuntungkan karena tidak usah menawar atau nego dengan tukang ojek. Semua telah dikelola oleh base camp Banaran
·         Tiket pendakian = Rp. 10.000/orang 
·         Parkir sepeda motor = Rp. 5.000/orang 
·         Ojek bascamp – Pos 0 = Rp. 15.000/orang
·         NB: tarif ini tidak bersifat tetap. Ada kemungkinan akan mengalami perubahan sesuai dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Ringkasan waktu Perjalanan
1.      Base camp – Pos 0 =  jalan kaki 1,5 jam / ojek 15 menit (jarak tempuh 2 km)
2.      Pos 0 – Pos 1 = 1-1.5 jam (jarak tempuh  1,5 km)
3.      Pos 1 – Pos 2 = 45 menit – 1 jam (jarak tempuh  687 m)
4.      Pos 2 – Pos 3 = 45 menit – 1 jam (jarak tempuh 592 m)
5.      Pos 3 – Pos 4 = 45 menit – 1 jam (jarak tempuh 627 m)
6.      Pos 4 – Segara Banjaran = 1,5 – 2 jam (jarak tempuh 2, 1 km)
7.      Segara Banjaran – Puncak = 1 jam
8.      NB: Sumber air ada di atas Pos 4 (jarak tempuh Pos 4-Mata Air sekitar 400 m)


Sekelumit Kisah Pendakian Kami (Aku dan Isteriku)
            Sebuat saja saya adalah Jimanto dan isteriku adalah Regina Nunuk. Telah agak lama kami tidak melakukan pendakian bersama, pendakian hanya berdua. Kesibukan kerja menjadi kan kami sering mengalami kesulitan menetukan waktu agar bisa bercengkerama dengan alam. Hingga pada akhirnya, kami membuat agenda guna mengisi libur nasional 2 hari berturut-turut untuk mendaki gunung Sumbing. Kami memilih jalur baru, Sumbing via Banaran. Biar ada tantangan dan rekreasi-petualangan kian terasa.
            Sabtu-Senin, 10-12 Desember 2016, kami akan membuka diri dalam pelukan damai gunung Sumbing. Usai bekerja, kami masing-masing pulang ke rumah. Segala persiapan telah saya packing Jumat malam. Berharap, Sabtu usai kerja langsung bisa tancap. Sesampainya di rumah, sejenak istirahat, makan siang, kemas-kemas. Tepat pukul 15.30 kami pun berangkat. Selamat datang petualangan. Mari nikmati nga-penture dengan cara masing-masing.
Meliuk motor kesayangan di jalanan. Kadang lambat, kadang cepat, kadang juga biasa-biasa. Sering kali berhenti untuk mengais informasi, agar perjalanan tepat sasaran dan tidak salah tempat. Ketika tersesat dan salah jalan, agap saja sebagai hiburan. Rasanya tidak nyaman bila petualangan hanya lancar-lancar saja. Tersesat dalam ketidaktahuan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari petualangan itu sendiri.
      Hingga kami, tiba di base camp Banaran tepat pukul 19.30. Saatnya istirahat. Sebentar lagi akan berganti medan petualangan, yaitu jelajah setapak gunung dan hutan.


a)      Basecamp Menuju Pos 0
Kami memulai pendakian sekitar pukul 21.15. Setelah bercengkerama dengan penjaga b.camp yang super ramah,  kami memutuskan untuk mengalami sendiri apa yang mereka kisahkan.  Menuju Pos 0 kami menggunakan jasa ojek agar mempersingkat waktu juga mengirit tenaga. Lagian sepanjang hari kami memang belum beritirahat. Maka, tenaga harus dihemat. Selain itu, kami juga sadar bahwa kami telah lama tidak mendaki.
Medan menuju Pos 0 ini lumayan menguji adrenalin. Jalanya masih berupa bebatuan dan nanjak melewati perkebunan warga. Untungnya, kami jalan malam sehingga sensasi kengerian lumayan terkurangi. Jarak tempuh hanya sekitar 2 km, misalkan ditempuh dengan jalan kaki bisa sampe 1,5 – 2 jam. Sekitar 15 menit, kami pun tiba di Pos 0.
Pos 0 berupa tanah datar yang difungsikan untuk menumpuk kompos. Karena di pos ini, merupakan ujung jalan yang bisa dilewati oleh mobil barang. Sehingga di pos ini sangat ramai, karena warga banyak yang berlalu lalang untuk mengambil kompos sebagai pupuk. Di pos ini juga, view nya sudah sangat baik. Untuk penyemangat saat mau nanjak dan obat lelah saat turun.
Tepat pukul 21.30, kami memulia pendakian. Kami mengawali dengan berdoa. Semoga Tuhan menyertai dan melindungi sehingga pendakian akan berjalan dengan lancar dan aman.


b)      Pos 0 Menuju Pos 1 (Seklenteng)
Malam kian merangkak. Ditemani semilirnya angin gunung yang menusuk tulang. Di langit temaram sinar rembulan berbalut dengan cahaya bintang yang malu-malu terus merayu untuk terus melangkah. Namun, tenaga yang renta menjadikan kami terus terengah dan makin terengah.
Tak henti-hentinya kami, berharap agar setapak bukan kian menanjak. Namun yang ada adalah tanjakan kian tak berkesudahan. Saat ada sedikit medan datar, kami pun beristirahat. Jalur ini seolah-olah tidak berujung. Plang penunjuk Pos 1, begitu memenuhi relung imajinasi. Kapan kami bertemu dengan plakat itu. Hingga sekitar pukul 23.00, kami tiba. Sejenak beristirahat. Kami bertemu dengan dua pendaki berasal dari Bekasi yang sedang beristirahat, tidur dalam tenda.
Jalur menuju Pos 1 ini, selepas lading penduduk kamki langsung memasuki hutan. Jalurnya setapak, yang cukup bersahabat, ada landainya dan juga ada tanjakan yang cukup tinggi. Perjalanan  dari Pos 0 sampai di Pos 1 itu sekitar 1-1.5 jam. Di pos 1 ini terdapat sebuah bangunan besar. Di sini terdapat makam yang dikeramatkan oleh penduduk setempat. Banyak orang dating untuk berdoa di sini. Di pos ini, juga terdapat sumber air. Kendati tidak banyak tetapi lumayan untuk membantu persediaan.


c)      Pos 1(Seklenteng) menuju Pos 2 (Siwel-Iwel)
Tidak berapa lama kami beristirahat, kami langsung meneruskan langkah. Kami berharap bisa memperoleh tempat di Pos 3. Sepanjang perjalanan kami tidak bertemu dengan pendaki lain. Pelan-pelan kami terus melangkah. Mata kian berat diserang kantuk dahsyat. Tubuh kian gontai, namun kami tersu memaksa untuk melaju.
Jalur untuk menuju Pos 2 sebenarnya tidak jauh beda waktu menuju Pos 1. Masih didominasi hutan mandingan. Hutan yang cukup rapat, padat. Keadaan ini cukup menguntungkan karena angin tidak akan langsung mengenai tubuh. Sehingga lebih terasa hangat. Kami sesekali beristirahat untuk mengatur nafas. Hingga kami melihat cahaya dalam tenda. Kami pun yakin kalau itu adalah Pos 2. Benarlah keyakinan kami itu. Kami melihat ada 2 tenda, namun semuanya lelap. Ketika kami menyapa tidak ada jawaban. Kami hanya istirahat sebentar, target kami adalah Pos 3.
Sebenarnya, jarak antara pos 1 ke pos 2 tidak begitu. Bila tenaga masih prima mungkin tidak lebih dari 30 menit. Tetapi kami menempuhnya sekitar 45 menit. Di Pos 2 ini terdapat pohon besar dan juga cukup luas bisa menampung sekitar 10 tenda. Tempatnya cukup teduh, terlindung dari sinar matahari, karena pepohonan hutan yang sangat padat.


d)     Pos 2 (Siwel-Iwel) Menuju Pos 3 (Punthuk Barah)
Tenaga yang kian koyak tak mampu menopang gairah kami. Tenaga yang tersisa terus kami genjot agar segera sampai di pos 3. Namun, jalur kian nanjak hebat. Bahkan bisa dikatakan jalur tanpa ada bonusnya. Nafas tua kami makin tersengal. Namun kami memiliki pengalaman untuk tersu bertahan dan berjuang. Hingga kami melihat cahaya-cahaya dalam tenda seperti perkampungan. Berarti pos 3 sudah dekat. Kami makin bersemangat. Namun semangat kami harus kandas berujung kecewa. Tidak ada tempat untuk mendirikan tenda. Semua telah penuh.
Rencana harus diubah. Yang penting lanjut lagi. Saat ketemu area yang bisa untuk mendirikan tenda di situlah kita akan bermalam. Karena menurut info, Pos 4 juga telah penuh, tanpa sisa untuk mendirikan tenda.
Di Pos 3 ini, lahan cukup luas bisa menampung hingga 12 tenda. Suasana cukup nyaman, terhindar dari angiin gunung. Udara terasa hangat karena padatnya hutan pepohonan. Di pos ini juga terdapat tempat istirahat. Pos ini juga merupaka pertemuan jalur Lamuk dan Banaran.


e)      Pos 3 (Punthuk Barah) Menuju Pos 4 (Watu Ondo)
Dalam suasana hati yang kecewa, kami terus melangkah dengan membesarkan harapan segera mendapat tempat yang datar untuk mendirikan tenda. Kami dikuti oleh satu rombongan yang juga mengalami situasi yang sama, tidak mendapat tempat. Awalnya mereka berdesakan di sela-sela tenda. Saat mendengar ada pendaki yang lanjut, mereka juga lanjut. Akhirnya kami bersama-sama berjalan. Namun, kami tidak bisa mengingkari kalau tenaga kami memang sudah sangat terkuras. Akhirnya mereka pun meninggalkan kami. Monggo aja, masih muda.

Menuju Pos 4 jalur semakin menjadi-jadi tidak ada bonusnya. Jalur kian lama kian nanjak terus, dan jalur agak sedikit licin. Selain itu juga penuh dengan patahan ranting-ranting kering yang lapuk dan mungkin ada yang tajam. Maka harus ekstra hati-hati. Sepanjang jalur, mata kami nanar untuk mencari tempat yang bisa mendirikan tenda. Namun, keinginan kami hanyalah keinginan belaka. Hingga kami mendengar sayup-sayup suara riuh pendaki. Berarti pos 4 sudah dekat.
Dari pada kecewa sampai pos 4 tidak dapat tempat mending berhenti, berpikir. Kemudian saya memutuskan untuk membuka lahan guna mendirikan 1 tenda. Lalu dengan segera tanpa menunda waktu segera kuratakan tanah dengan golok kapak yang serba guna. Kami tiba di area ini sekitar pukul 01.30. Lalu kamipun segera mendirikan tenda. Membikin minuman hangat dan istirahat.


f)       Pos 4 (Watu Ondo) Menuju Segara Banjaran
Pagi menjelang, udara begitu segarnya. Terlihat samar-samar dari balik pepohonan pemandangan yang memanjakan mata. Segera kami pun bergegas untuk membuat sarapat. Target hari ini, segera bisa mencapai puncak. Karena musim sulit ditebak. Cuaca tidak dapat diprediksi. Mumpung alam member tanda kalau akan cerah dan bersahabat. Semoga kami, bisa menikmati keindahan Sumbing dengan cuaca yang bersahabat.

Hanya 10 menit kami telah tiba di kawasan Watu Ondho. Sebuah medan yang lumayan menantang terutama untuk yang trauma ketinggian. Isterku pun sempat menyerah dan mau balik. Untung banyak pendaki yang mensport member dukungan untuk terus melewati medan watu ondho ini.

Tantangan berat bagi yang memiliki fobia telah terlewati. Kami pun tiba di pos 4, yaitu pos Watu Ondo. Di pos 4 sangat luas bisa menampung 20 tenda. Banyak pendaki yang mengidolakan untuk bisa camp di pos 4 ini, karena dari sini sunrise sudah dapat dinikmati. Namun, di pos ini rawan badai karena tempatnya terbuka.
tantangan watu ondho

Selepas pos 4 kami melihat papan penunjuk arah menuju mata air. Untuk sumber air kalau musim hujan lancar, tapi kalo kemarau kadang kering. Karena sumber airnya itu dari sungai.

Pelan-pelan kami terus melangkah. Selepas pos 4, medan didominasi oleh sabana. Padang rumput yang luas bahkan amatsangat luas. Tanjakan juga tidak semengerikan di pos-pos sebelumnya. Medan terbuka, maka misalkan ada badai amat sangat rawan. Mata selalu dimanjakan oleh keindahan barisan menghijau. Hamparan tebing-tebing yang berpadu dengan hijaunya sabana yang teramat luas. Amazing. Waktu tempuh untuk menuju sabana kawah Sumbing, dari pos 4 untuk menuju pos Segara Banjaran skitar 1,5-2 jam.


g)      Segara Banjaran Menuju Puncak
Setelah tiba di Segara Banjaran, kami cukup lama menikmatinya.ada imajinasi yang muncul ketika ada dalam suasana alam yang baru. Sebuah fantasi tentang jaman purbakala. Asik aja. Menurut informasi dari Segara Banjaran bisa menuju 3 puncak sekaligus. Kalo ke kiri nanti ke puncak Sejati, kalo ke kanan menuju puncak Buntu Garung, kalo lurus nanti menuju puncak tertinggi Rajawali. 

Setelah cukup menikmati imajinasi yang lahir dari suasana yang fantastis ini, kami meneruskan langkah. Kami langsung menuju kawah. Kami menyempatkan pergi ke makam untuk berziarah, berdoa sebentar kemudian meneruskan langkah. Kabut dating begitu tebal, lalu sempat hujan rintik-rintik. Segera kami pun memakai mantol. Pada saat seperti ini, mental isteriku sedang diuji. Ia hamper menyerah. Berhenti cukup di kawah. Lalu akupun mengajaknya untuk langsung turun. Tidak ada kata berpisah. Satu berhenti yang lain juga. Apa lagi kami, hanya berdua.

Tiba-tiba ia mengubah keputusan, ia mau menemani ke puncak Rajawali. Ritme pendakian pun aku ubah. Dengan sangat santai. Yang penting isteriku mampu menikmati petualangan ini. Mampu mengatasi segala kelemahannya. Hingga akhirnya kami, tepat pukul 11.30, kami tiba di puncak tertinggi Sumbing.

Untuk sementara, kami menikmati keindahan alam dari puncak Rajawali ini. Sungguh kami bersyukur atas kesempatan bisa menikmati keindahan karya Tuhan dari ketinggian Sumbing.
h)     Saatnya Turun
Tepat pukul 12.00 kami turun dari puncak. Sepanjang perjalanan kami disuguh keindahan alam dengan segala dinamikanya. Kadang kabut turun begitu pekat sampai tidak melihat apa-apa. Setelah itu alam terbuka,kami dihadapkan pada bentangan padang rumput menghijau. Keren. Hinngga tepat pukul 14.30, kami tiba di tenda. Sebelumnya kami sempatkan diri untuk mengambil air, sebagai setok dan saatnya membuat menu special untuk makan besar. Makan enak.

Menemukan Makna dari Sebuah Perjalanan

Setiap peristiwa pasti menorehkan makna. Melalui setapak Sumbing via Banaran, kami, khususnya hidupku beserta isteriku semakin dikuatkan dalam mengikatkan hati. Melalui perjalanan, kami semakin dibuka untuk semakin mengerti diri kami masing-masing. Sehingga pada akhirnya, kami makin bisa saling menerima, memberi dan mengisi. Semoga dengan petualangan ini, cinta kami makin kokoh menyatu untuk saling menggiring hidup yang penuh suka cita, penuh kegembiraan dan kebahagiaan. Terimakasih Sumbing, terimakasi untuk siapapun yang kami jumpai, terima kasih Tuhan atas segala berkat perlindungaMu. Semoga kami, bisa mengulang petualangan seperti ini lagi. Amin.