Minggu, 16 Oktober 2016

COUPLE RIDER: JELAJAH JATIM

COUPLE RIDER:
JELAJAH JATIM
Oleh: Heri
isteriku yg memotret, tu kliatan bayangannya
Pada Mulanya hanyalah Ide untuk Mensyukuri Hidup dengan Bikepacker
Setiap manusia memiliki kebebasan dalam mengukir sejarah hidupnya. Sebagai pasangan suami-isteri, aku pun berjuang untuk menciptakan warna pelangi dalam kehidupan rumah-tanggaku. Tidak setiap warna itu indah, tetapi rangkaian warna yang dikemas harmoni itulah keindahannya. Dengan demikian semakin berani menciptakan warna maka, semakin kaya pula harmoni yang akan tercipta.
Salah satu kegiatan yang sesekali kami lakukan adalah jelajah ke tempat-tempat yang belum pernah kami datangi. Eksplorasi, kata banyak orang. Sedangkan kami ingin hadir dan menjadi bagian dari hukum alam, yaitu bersinergi, saling mengisi. Sebagai orang yang bekerja mapan di satu tempat, kadang begitu rindu untuk menginjakkan kaki di daerah yang belum pernah kami datangi. Namun, keterbatasan waktu menjadikan kami jarang untuk bisa menggapai itu.
Akhir-akhir ini, banyak manusia yang mencoba me-refresh hidupnya dengan cara yang beda. Mencoba menjadi diri yang tidak pada umumnya. Namun, kebanyakan tetap mensyaratkan untuk mengalami perjalanan. Mengalami perpindahan keadaan. Menjalani sesuatu yang tidak seperti biasanya. Inti dari rekreasi adalah mengalami suasana, keadaan, tempat, situasi dan perjumpaan di luar yang rutin. Rekreasi hanyalah soal mengalami yang beda.
salah satu sudut jln, JLS Malang
Maka, munculah berbagai definisi tentang kegiatan-kegiatan yang di luar kebiasaan, terutama yang mesti dilakukan di tempat atau daerah lain. Seperti backpacker, bikepacker, traveler dan turis.
Agustinus Wibowo dalam bukunya, “Titik Nol, Makna Sebuah Perjalanan” mencoba membedah beda antara traveler dan turis.
“Katanya, turis itu pasti menginap di hotel mahal sedangkan traveler di rumah penduduk lokal. Turis bawa koper, traveler bawa ransel. Turis naik pesawat, traveler jalan darat. Turis ikut tur terima jadi, traveler berpetualang sendiri. Turis suka manja, traveler doyan derita. Turis banyak duit, traveler pada pelit. Turis bawa buku panduan, traveler mengintil angin. Turis selalu bilang, I am traveler, si traveler bilang, Who care? Turis adalah traveler amatir, traveler itu turis professional. Turis selalu berdebat beda antara turis dan traveler, sementara si traveler cuma tertawa. Begawan traveler (atau turis?) Paul Theroux bilang, turis tak ingat tempat mana yang sudah dikunjungi, traveler malah tak tahu ke mana mau pergi”[i].
Sedangkan yang ingin saya bagikan hanyalah pengalaman sederhana. Bukan sesuatu yang hebat. Apakah kami termasuk backpacker, bikepacker, traveler atau turis, silahkan pembaca untuk menilainya.
Tanggal 09 Juli adalah hari ulang tahun perkawinan. Hampir empat tahun, kami telah membangun bahtera rumah tangga dengan segala dinamikanya. Untuk merayakan perjuangan kami dalam usaha menyatukan hati, jiwa, pikiran dan hidup itulah kami berpetualang, menjelajah atau hanya sekedar jalan-jalan. Kali ini, kami ingin mengenal lebih dekat daerah-daerah pesisir selatan-timur Jawa, khususnya yang berada di daerah Jatim.
Sebut saja saya adalah Heri Jimanto dan isteri saya adalah Regina Nunuk. Biar agak sedikit keren, kami akan menyebut diri sebagai couple-adventure, hehe. Kata adventure mau menegaskan bahwa kami suka dengan petualangan. Yang kami maksudkan adalah memasuki daerah, situasi, budaya atau masyarakat yang selama ini tidak pernah kami datangi.
Hari I, Minggu 03 Juli 2016: Menghentikan Konsep
Naungan kami, berada di kota Surakarta yang lebih terkenal dengan sebutan Solo. Sengaja kami memilih rute perjalanan dari sisi selatan, yaitu Solo – Wonogiri – Ponorogo – Trenggalek – Tulungagung – Blitar – Malang – Lumajang – Jember – Banyuwangi – Situbondo – Probolinggo – Pasuruan – Mojokerto – Jombang – Kediri – Ngawi – Sragen - Solo. Minggu, 03 Juli 2016, tepat pukul 05.30, kami memulai kisah ini. Target hari pertama ini, kami akan bermalam di Pantai Prigi, Trenggalek.
menikmati keajaiban karya Tuhan

Armada yang kami naiki hanya sepeda motor. Oleh karenanya, persiapan dalam banyak hal mutlak diperlukan. Motor telah kami percayakan kepada bengkel untuk perjalanan jarak jauh, dengan medan yang cukup bervariasi, ada tanjakan, turunan, tikungan, jalan mulus namun juga ada jalanan berbatu. Bengkel langganan tentu tahu yang kami maksudkan.
Fisik dan mental juga kami siapkan. Untuk fisik, satu minggu sebelum perjalanan, kami menyempatkan diri untuk mendaki gunung Merbabu. Persiapan mental, kami mencoba mencari informasi sebanyak-banyaknya terkait medan dan juga tempat yang akan kami kunjungi.  Untuk perbekalan, kami pun menyiapkan banyak hal, ada perlengkapan memasak, tenda, perlengkapan mandi, baju ganti, kotak P3K dan logistik.
Perhentian pertama adalah kota Ponorogo. Kota ini, seumur hidup baru kami lewati. Kota yang tidak begitu jauh dari Solo. Namun, kami belum pernah berkunjung. Membuka hati untuk menerima segala kekayaaan tradisi dan kebiasaan kota ini menjadi sebuah kunci kenyamanan. Segala idialisme harus dihentikan sementara. Terbuka untuk belajar. Tepat pukul 8.15, kami telah masuk kota ini. Kami pun memutuskan untuk istirahat sejenak, menikmati kuliner yang ada (karena masih masa puasa, banyak warung yang tutup).
Setelah badan terasa segar, perut kenyang, bahan bakar kendaraan juga telah terisi, tepat pukul 09.00, kami pun melanjutkan kisah untuk menuju Trenggalek. Tujuan kami, adalah wisata pantai Trenggalek. Menyusuri jalanan yang baru pertama kami lewati, ada berbagai pergulatan rasa. Ada ketakutan, was-was, khawatir, ragu-ragu yang kesemuanya berpadu dengan panorama alam yang begitu mengasikkan. Hamparan sawah berpadu harmoni dengan barisan perbukitan yang menghijau permai. Motor kami, meliuk menari bahagia seperti penunggangnya.
Jam 11.00, kami pun singgah di ukiran alam pada Gua Lawa, Trenggalek. Sejenak terpesona dengan guratan karya alam. Gua alami yang cukup besar dan penjang. Setelah terpuaskan, kami pun meneruskan kisah menuju hutan mangrove Cengkrong, Trenggalek. Sebenarnya perut sudah terasa lapar, namun tidak ada satu pun warung yang buka. Mungkin perda di sini yang menjadikan demikian.
ini dlm gua. asik kn.

Perjalanan yang mengasikkan, dengan liukan jalan dan hijau perbukitan menjadi suguhannya. Hingga tidak terasa, sekitar pukul 13.30, kami telah tiba. Kami pun berkeliling menikmati pesona hijau hutan bakau dan segarnya udara pantai. Warung juga belum ditemukan. Sementara menahan lapar. Setelah puas dengan panorama hutan mangrove, kami pun pindah ke pantai Cengkrong. Di sini terlihat banyak warung yang masih belum dibenahi. Tampak warung-warung berserakan, rusak parah. Menurut info ini akibat dari gelombang pasang yang menggila. Kami pun menghampiri, satu-satunya warung yang buka. Dia bercerita, “ini semua karena perda, takut digrebek dan disita satpol PP”. Warung pun hanya menyediakan menu sederhana. “Tidak apa lah, yang penting makan”, pikirku.
hutan magrove, cengkrong, trenggalek

Ditemani dengan hembusan angin laut dan diiringi harmoni deburan ombak, di bawah pohon nan rindang kami menikmati menu sederhana, namun terasa sangat-sangat istimewa dan nikmat. Niat hati malam ini, kami akan berteduh di bawah langit, berharap ada taburan bintang yang menghiasi remang cakrawala. Bertenda di bibir pantai Prigi, Trenggalek. Maka, kami sempatkan untuk berbelanja guna persiapan memasak. Sebelum sampai di pantai Prigi, kami juga meluangkan waktu untuk mengunjungi beberapa pantai di Trenggalek, ada pantai Asmara dan pantai Pasir Putih. Semuanya masih berdekatan dengan pantai Prigi.
Senja telah datang, kami juga telah selesai mendirikan hotel yaitu tenda pinjaman, yang telah beberapa kali menaungi petualangan kami. Malam hampir menjelang, kami pun bergegas untuk membersihkan diri. Istirahat di warung yang masih buka. Suasana pantai Prigi sepi karena masih musim puasa. Hanya beberapa warung yang buka dan menyediakan kuliner khas pantai. Kami pun memesan menu ikan bakar special ukuran jumbo, porsi untuk 4 orang kami habiskan hanya berdua. Bayar hutang, maklum hari ini kurang makan, hehe.
hotel yg bisa pindah-pindah unt selalu bercengkerama dg alam

Malam telah tiba, taburan bintang yang mempesona, mendadak lenyap berhamburan terhalang oleh pekatnya mendung. Pertanda akan hujan, kami pun segera berteduh dalam tenda. Benarlah, hujan turun dengan lebatnya. Raga yang telah lelah pun segera meminta untuk rebah mendulang tenaga. Saatnya istirahat.
Hari II, Senin 04 Juli 2016: Masih Ada Kebaikan
Keindahan pagi membisikan semangat dan tekat untuk segera bangkit. Nyanyian deru ombak sepanjang malam telah berdendang menina bobokan kami hingga istirahat begitu nyenyak. Pagi ini, kami pun segera membuat sarapan. Sejauh mata memandang tak ada tanda-tanda geliat aktifitas warung yang akan buka. Santapan jasmani telah usai saatnya mandi dan segera bergegas untuk kembali mengukir kisah. Tepat pukul 08.00, kami berpamitan dengan keramahan pesona Prigi dengan segala kenangan. Selamat tinggal Prigi dan sampai bertemu lagi.
Meninggalkan Trenggalek dengan hati bahagia. Kemudian jejak kamipun akan tinggalkan di Tulung Agung. Memasuki gapura bertuliskan Tulung Agung serta merta menuntut kewaspadaan. Terlihat perbedaan yang cukup kentara antara pengendara Trenggalek dan Tulung Agung. Di sini saya tidak bermaksud menilai mentalitas cara berkendara saudara-saudara Tulung Agung. Saya mencoba berpikir positif bahwa ini menjelang lebaran, jadi segala aturan lalu lintas kadang tidak berlaku.
Di sepanjang jalan daerah Tulung Agung, saya menjumpai begitu banyak orang –orang sakti, yang kepalanya mungkin lebih kuat dari pada kerasnya aspal. Pengendara motor, kebanyakan tidak memakai helm (sebagai perlengkapan berkendara juga untuk keamanan), spion dilepas (seperti motor balap), lampu sein (lampu reting) tidak kepakai, bila akan belok tidak ada kode sama sekali, tiba-tiba dan mendadak langsung tekuk. Etika berkendara di jalan umum yang saya pahami, seolah-olah tidak berlaku. Hanya kewaspadaan dan mencoba memahami cara orang lain berkendara menjadi satu-satunya rambu keselamatan. Waspada, awas dan perhatikan jalan mutlak tidak dapat ditawar.
obat capek

Pengalaman yang unik. Buatku, ini dibuat asik aja.
Tulung Agung berlalu. Memasuki Blitar, sejenak mengabadikan saksi sejarah, Patung bung Karno, sebagai Presiden pertama Negeri tercinta ini, Indonesia. Sejenak, ikutan ngeksis. Biar kekinian.
Blitar merupakan salah satu kota yang memanjakan para pengendara dengan kondisi jalan yang halus, datar dan rata. Gapura selamat datang Malang telah terlewati, kini medan jalan mendadak berubah. Rute Blitar-Kepanjen mengular penuh tikungan, tanjakan dan turunan. Bagi para pengendara, “ini adalah surga”. Penat raga tidak terasa, kami terus bergerak, berharap siang telah sampai barisan pantai selatan Malang.
Sebelum Kepanjen, peristiwa sakral yang biasa pun terjadi. Isteriku kedatangan tamu. Rencana berubah total. Saya tidak lagi sebagai pemegang kendali. Tetapi sepenuhnya, saya serahkan ke isteriku. Karena segala fenomena yang menyertai masa menstruasi seorang wanita tidak pernah sama. Selalu berbeda. Kadang tidak mengganggu kegiatan, namun seringnya membawa kerumitan karena derita yang menyertainya. Aku hanya berharap, semoga yang terjadi adalah yang terbaik.
Rasa lelah dan tertekan mulai merambat menyusup kedalam nadi harapan. Sehingga kejenuhan pun melanda. Motor terus menari meliuk di atas jalanan yang mengular. Aku mencoba terus membesarkan asa agar seni petualang kembali menjelma. Seorang petualang selalu bisa menemukan keceriaan di tengah badai peristiwa yang tidak diinginkan.
Keceriaan mulai merasuk pelan. Namun mendadak, motorku mengalami trouble ringan. Dudukan visor ku patah. Harus mencari tukang las. Kucoba bertahan untuk terus bersabar di atas jok yang mulai memanas. Samar di kejauhan terlihat tugu selamat datang, “Kepanjen”.
Syukur tiada terkira. Bahagia tiada tara. Kota Kepanjen ternyata cukup besar. Sambil mencari tukang las, berharap untuk bisa mencari informasi lainnya terutama tentang jalur menuju deretan pantai Malang. Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Tukang las kutemukan dan sekaligus memberi informasi yang sangat detail tentang jalur serta medan untuk menikmati panorama barisan pantai-pantai Malang.
40 km bukanlah jarak yang jauh. Namun, karena raga telah lelah jarak pendek pun terasa lama tak juga terjangkau. Kulihat wajah isteriku masih bertahan. Kendati saya tahu dia memaksa dan berjuang untuk tetap ceria. Membelah motorku di jalanan yang sepi. Berkelok dan menanjak-turun, menembus hutan, ladang dan kebun. Sungguh panorama yang lengkap. Di kejauhan membentang batas cakrawala. Laut. Berarti tidak lama lagi tujuan akan tercapai. Benarlah, kita telah sampai di wisata pantai pertama, Pantai Bale Kambang Malang.

Air laut yang jernih, bentangan pasir putih yang maha luas, deburan ombak yang menari tiada henti. Pemandangan pantai yang komplit. Di ujung barat terdapat kafe yang bernuansa Bali, berpadu dengan musik etnik. Para pelancong bergembira, bercengkerama dan bermain ombak serta pasir.
Sambil menikmati panorama Balai Kambang, Saya serta isteriku memesan makanan, sambil meneguk air kelapa muda. Usai penat raga terurai, melanjutkan langkah untuk menengok ketenaran pantai ini yang dikisahkan sebagai Tanah Lot-nya Malang, karena ada pura yang berdiri kokoh di batu karang sebrang pantai.
Pure di Bale Kambang Malang

Misi perjalanan ini masih jauh. Berharap hari ini dapat menuntaskan wisata Malang dan tembus sampai kota Lumajang. Matahari terus menemani perjalanan kami. Cerah alam bermandi sepoi angin pantai terus mengiringi kisah kami. Pantai-pantai pun berlalu. Tidak menghitung berapa pantai yang telah kami singgahi. Ada pantai kami datangi. Hingga di penghujung sore, kami telah tiba di pantai Sendang Biru, Pulau Sempu. Namun, sayang hari ini karena lebaran H-1, maka tidak ada pengunjung. Niat untuk bermalam dan menikmati keindahan pulau Sempu terpaksa harus ditunda. Suatu saat semoga bisa bercengkerama dengan hening Sempu.
Motorku pun masih setia menghantar kami untuk menjelajah. Malam mulai merangkak. Gelap suasana mendukung uji adrenalin di jalanan lintas selatan yang didominasi tikungan tajam tiada berkesudahan, tanjakan, turunan, hutan dan kebun. Tanpa lampu jalan dan rumah penduduk yang jarang. Sungguh-sungguh ini merupakan media untuk bercermin mengenal dan menguasai diri. Ada ketakutan, ada kecemasan juga kekhawatiran namun sekaligus menumbuhkan harapan dan iman, selalu percaya bahwa Tuhan akan berkarya. Yakin aman.
menikmati keindahan jalanan

Gelap masih memayungi perjalanan antara Sendang Biru menuju pertigaan Turen, Malang. Dari pertigaan ini, kami mengambil arah Lumajang. Suasana jalan masih sama. Sepi, gelap, banyak tikungan, tanjakan dan turunan. Stres pun melanda. Kulirik jam tanganku telah menunjuk waktu tepat pukul 20.00. Berharap situasi masih aman terkendali.
Harapan untuk segera bertemu dengan pemukiman yang ada tempat penginapan agaknya harus terus dijaga. Agar kekuatan tetap ada. Karena raga yang begitu lelah, akhirnya kami beristirahat. Aku lupa nama daerahnya. Yang pasti kami memperoleh informasi bahwa penginapan terdekat ada di Lumajang dan itu masih harus ditempuh selama dua jam. Tentu, ini merupakan kecepatan penduduk lokal yang hafal jalan. Mungkin, kalau saya yang baru pertama kali lewat jalur ini, bisa sampai 3-4 jaman.
Kendati penginapan masih jauh, namun hati merasa tenang karena penduduk setempat menyakinkan bahwa jalur ini cukup aman. Tidak ada tindak kriminal. Menenangkan. Menenteramkan. Kutanya isteriku, apakah masih akan lanjut. “alon-alon ae, entar juga sampai”. Pelan-pelan asal terus berjalan maka sejauh apapun perjalan pada akhirnya juga akan terselesaikan.
Kembali motorku pun meliuk. Hingga di samar gelap malam, kulihat baleho besar bertuliskan “Wisata Air Terjun Tumpak Sewu Pronojiwo, Lumajang”. Lega rasanya. Sampai juga di wilayah Lumajang. Kulihat ada warung. Mampir istirahat, nyari informasi sekaligus mendulang energi. Kembali nyaliku terpaksa menciut. Dari ibu warung menegaskan bahwa Lumajang masih jauh, masih butuh waktu 1,5 jam. Padahal waktu telah bertengger di titik 21.00. Kupaksakan untuk meminta tolong apakah ada rumah penduduk yang bisa dimintai kerelaannya untuk menginap. Ibu itu merekomendasikan untuk meminta ijin ke Pak RT.
Semangat kembali bergelora. Usai menebus hidangan malam. Segera aku bergegas menuju rumah Pak RT. Sayang, rumahnya tutup. Lemas. Hingga akhirnya di area parkiran wisata Goa Tretes Pronojiwa yang berdekatan dengan wisata Tumpak Sewu, boleh dipakai untuk mendirikan tenda. Niat hati untuk mendirikan tenda dan segera membaringkan raga, tiba-tiba salah satu penduduk menyapa dan menawarkan rumahnya untuk menginap.
Rasanya tidak enak karena merepotkan. Namun, kedua pasang suami-isteri itu sangat antusias untuk menerima kami. Mereka segera menyiapkan kamar dan memaksa kami untuk menginap di rumahnya. Aku sudah membongkar tas untuk mendirikan tenda, namun beliau terus mengajak ngobrol dan tetap menawarkan kebaikan. Hingga, kami pun memutuskan untuk menginap di rumahnya. Malam berlalu. Lelah raga terjawab dan terurai oleh kebaikan sepasang kekasih. Terimakasih Bapak dan Ibu. Maaf, aku lupa menanyakan nama Anda.
Hari III, Selasa 05 Juli 2016: Membaharui Arti Surga
Pagi merekah dengan segala harapan baik. Terbuka mata penuh gairah dan tenaga yang melimpah meneguhkan semangat. Udara pegunungan yang sejuk segar menjadi warna khas yang kian sukar dicari. Tuan rumah telah menghidangkan segelas teh  hangat. Di dapur kudengar suara minyak yang telah memanggang hidangan. Benarlah, tidak berapa lama, si ibu menyapa dan mempersilahkan kami untuk sarapan.
Segera kurapikan tempat tidur, cuci muka dan sarapan. Sungguh nikmat. Surga itu terjadi saat sebagai orang asing yang disambut, diperlakukan layaknya saudara dekat, tanpa sekat, terbebas dari kecurigaan. Kami menghayati hidangan dari kebaikan selalu terasa lebih mantap. Di sini, bukan masalah menu dan rasa, tetapi soal hati. Kenikmatan tidak terletak pada lidah tetapi hati yang mampu merasakan lebih dari sekedar racikan bumbu masakan.
Perut telah kenyang, maka kami pun bergegas untuk menyambangi panorama alam, air terjun Gua Tretes yang tersohor keindahannya. Menyusuri perkebunan kopi yang berpadu dengan perkebunan salak. Menuruni tangga demi tangga. Setelah berjalan sekitar 15 menit, tibalah kami di wisata Gua Tretes. Sebuah gua yang dihiasi dan dialiri mata air yang jernih menawan. Di depan goa ini, aku berimajinasi menembus kisaran memori tentang jejak para pendekar yang bertapa di kesunyian hutan, tersembunyi di dalam goa dan terbungkus oleh air terjun. Menakjubkan.
keindahan ini berada d dpn gua. yg di dlm lebih keren

Dari depan gua ini, terlihat di kejauhan indahnya air terjun Tumpak Sewu. Air terjun yang terkenal sebagai Niagara Indonesia. Tetapi karena isteriku enggan berkunjung, saya pun mesti meninggalkan PR untuk suatu saat dapat ke sana.
Berat hati untuk meninggalkan indah secuil sorga di Gua Tretes ini. Namun, agenda perjalanan kami masih cukup jauh. Segera kami berlalu. Kembali ke rumah yang menampung kami. Lalu, kami pun segera membersihkan diri. Packing. Pamitan. Terimakasih banyak. Maaf atas segala keterbatasan kami.
Motorku kembali siap dipacu. Melanggak-lenggok, menyususri jalanan pegunungan yang naik-turun. Hingga kami bertemu dengan papan penunjuk jalan untuk menghantar pada panorama alam yang hampir sama, yaitu air terjun Kabut Pelangi. Masih di daerah yang sama, Pronojiwo, Lumajang. Hanya beda desa. Semangat membara mendorong kami untuk kembali menyusuri jalan desa menuju pintu masuk wisata alam ini.
Untuk menikmati keindahan air terjun ini, kami mesti menyusuri jalan setapak yang sangat variatif, dari cor, setapak hingga mesti menyusuri sungai. Akses jalannya masih sangat sederhana. Sekitar 45 menit, kami pun tiba. Air terjun yang lumayan tinggi dengan keunikan yang luar biasa. Bila mentari bersinar cerah dan mengenai percikan air terjun, maka akan menyuguhkan keindahan pelangi. Air terjun yang berselimutkan pelangi. Eksotis.
berdua, menyatu dg alam. kabut pelangi jd saksi

Hanya berdua kami menikmati lukisan Sang Pencipta. Terpana. Kami pun sedikit narsis untuk mengabadikan peristiwa langka ini. Karena terlalu asik. Hingga akhirnya, seluruh rekaman moment-moment indah itu lenyap bersama masuknya kamera pocket ke dalam air. Sayang, dokumentasinya hilang. Namun, kami percaya bahwa memori Tuhan lebih ajaib untuk mengabadikan   petualangan ini.
Setelah dirasa cukup, kamipun kembali melanjutkan kisah. Target kami, hari ini dan tepatnya sore nanti mesti sudah sampai di kota Jember. Kami akan bermalam di sana. Sambil menikmati malam takbiran, malam kemenangan.
Sekitar jam 12.00, kami kembali menunggangi kuda besi tercinta. Asik. Penat. Capek. Lelah. Mempesona. Terkesima. Semua rasa bercampur aduk mengiringi perjalanan sederhana kami.
Ternyata, jarak antara Pronojiwo, Lumajang (kecamatan ujung barat) dengan kota Jember cukup jauh. Hampir putus asa. Kapan sampainya? Pantat terasa terbakar. Menyala, namun gerbang bertuliskan Jember kok tidak juga nampak. Hingga waktu tepat pukul 16.30, kami telah memasuki kota Jember. Senang rasanya. Bahagia.
Tujuan menginap kami adalah di kawasan Bukit Rembangan. Semacam kawasan puncaknya Jember. Namun, sayang. Puncak bukit kembangan telah dikuasai oleh pengembang. Telah menjadi hotel berbintang dengan tarif mahal. Jelas, ini bukan kelas kami. Dengan hati kecewa, terpaksa kami kembali menuruni Bukit Rembangan menuju kota Jember (24 KM yang sia-sia). Kami, bukanlah petualang sejati. Kami masih sering kecewa. Dan belum mampu menikmati segala peristiwa menjadi sumber bahagia.
sbg obat kecewa, pantai bengkung, malang

Bunyi takbir telah berkumandang dari berbagai Masjid, mataku nanar mencari rumah makan yang masih terbuka. Berharap untuk bisa mengais rejeki sekaligus mencari informasi tempat penginapan yang murah. Sebelum memasuki kota Jember, kami melihat rumah makan (satu-satunya yang buka) sangat ramai. Harus antri. Apa daya, demi energi. Kami pun menunggu. Mungkin rumah makan ini, menjadi salah satu ikon kota Jember. Karena aku melihat banyak pengunjung yang dengan bangganya berfoto ria di depan rumah makan ini. Namun, kami tidak peduli, yang penting perut terisi.
Dapat meja, pesan makanan, menyantapnya, kenyang. Dapat informasi tentang hotel yang murah, hotel Cenderawasih. 10 menit perjalanan dari rumah makan. Hotel melati dengan tarif 100 ribu. Malam takbiran dengan harga segitu. Sangat terjangkau.
Segera mandi. Mata sudah terlalu lelah. Hingga sulit untuk dibuka. Sebelum kami lelap dalam buaian malam, saya sempatkan untuk menata beberapa perlengkapan agar besok pagi, bangun langsung ready guna melanjutkan kisah. Tidur seperti mati. Hingga cahaya fajar membangunkan kami. Kembali bergegas untuk segera mandi. Target kami, sebelum solat Id dimulai kami telah keluar dari dalam kota.
 Hari IV, Rabu 06 Juli 2016: Semua Ada Maksudnya
Pukul 05.30, kami meninggalkan hotel. Lumayan, jalanan masih sepi. Namun, tidak bertahan lama. Makin ke tengah kota, jalan mulai ramai dan penuh sesak. Sebelum ke luar kota, kami telah menemukan ruas jalan yang ditutup.  Pengalaman yang unik. Jalan normal saja kami tidak tahu, karena baru pertama kali masuk kota Jember. Kini, harus bermesraan dengan jalan-jalan kampung. Syukurlah, sebelum shalat Id dimulai, kami telah berhasil ke luar dari labirin kota.
Dengan perut kosong-lapar, kami terus melaju. Tidak ada warung yang buka. Wajarlah ini kan lebaran hari I. Aku targetkan setelah perjalanan dua jam, baru akan beristirahat. Dimanapun itu. Kami masih ada bekal roti. Tenang saja. Melaju motor meninggalkan Jember menuju Banyuwangi. Hingga kami pun telah memasuki kawasan hutan Gumitir. Sebuah tempat yang sangat menawan. Hutan lebat, berhiaskan panorama perkebunan kopi dengan aroma khas kembangnya. Sungguh asik. Suasana yang sejuk, jalan 4 jalur dengan kelokan yang tajam turun-naik. Sepi lagi. Ini adalah surganya bagi yang suka keplek-miring.
Di tengah perjalanan, ternyata masih ada orang yang mengais rejeki, buka warung makan. Bakso. Segera kuhentikan motor. Pesan bakso ketupat dan segelas kopi hitam. Matahari kian naik dan jalanan pun kian ramai. Ternyata arus balik dari arah pulau  Bali masih berbondong-bondong. Jalur ini adalah jalur alternatif selatan. Hati makin tenang, karena banyak teman seperjalanan.
warung d hutan gumitir

Perut telah kenyang. Badan kembali segar. Saatnya melanjutkan kisah, mengukir sejarah di tanah Banyuwangi. Suasana jalan masih sama, didominasi hutan, perbukitan dan perkampungan. Hingga tidak terasa, bahan bakar pun ikut menyusut. Tidak ada POM bensin yang buka. Semua masih shalat Id. Aku terus melihat sepidometer dan juga mengamati pinggir jalan. Namun, barisan botol pertamax tidak juga terlihat. Dari indikator bahan bakar yang telah berkedip, telah kutempuh jarak sekitar 60 KM, aku harus berhenti. Daripada mogok kehabisan bahan bakar. Tidak mampu membayangkan harus mendorong motor dengan beban hampir 2 kwintal. Oh, my God.
Sekitar pukul 09.00, aku melihat POM Bensin, terlihat ada tanda-tanda akan buka, sudah ada yang mengantri walau belum ada yang menjaganya. Aku putuskan untuk ikutan mengantri. Terasa lucu, POM belum buka tetapi sudah diantri. 1,5 jam menunggu, akhirnya buka juga. Syukur Tuhan dapat nutrisi untuk si kebo.
Target selanjutnya adalah pantai Grajagan. Sebuah pantai yang menjadi judul lagu. Sebenarnya kami, belum pernah berkunjung ke Banyuwangi. Dengan demikian, seluruh daerahnya adalah asing. Tidak tahu apa-apa. Tidak kenal siapa-siapa. Namun, kami percaya bahwa dunia ini masih dipenuhi dengan orang-orang baik. Lalu, kami pun berlaku sebagaimana dinasehatkan oleh para bijak, “Malu bertanya sesat di jalan”. Tidak henti-hentinya kami bertanya, hingga sekitar pukul 10. 30, kami pun tiba. Sejenak melepas lelah dan bercengkerama dengan keindahan pantai ini.
pantai grajakan banyuwangi

Dahaga jiwa telah terpuaskan begitu pula dengan raga. Hati senang, perut juga telah kenyang. Saatnya meneruskan perjalanan, target selanjutnya adalah pantai Plengkung, G-Land. Yang terkenal sebagai spot surving terbaik level dunia. Sejauh kami tahu, pantai tersebut berada di kawasan hutan lindung Alas Purwa. Maka, kami segera melaju untuk memburu waktu. Target sebelum malam harus selesai.
Di luar dugaan dan di luar bayanganku, saya melihat papan penunjuk tentang Gua Maria, berarti tempat peziarahan orang katholik. Saya berpikir, apakah mungkin di sini ada orang katolik. Untuk mengurai penasaranku, kubelokkan sepeda motor untuk menggapainya. Agak sedikit mentang, keluar dari target utama. Benarlah, bahwa di Banyuwangi ada tempat peziarahan, yang bernama Gua Maria Waluyaning Jatiningsih. Sejenak kami pun menikmati oase rohani. Sejenak hening untuk bersyukur dan berserah diri. Semoga tetap dilancarkan peziarahan ini.
salah satu perhentian jln salib, ornamen jawa-bali

Awalnya saya berpikir kalau Alas Purwa itu dekat, ternyata, kami mesti berulang kali menegaskan informasi bahwa jalan yang kami lewati akan menghantar di sana. Jauh, seolah-olah tidak lekas tercapai. Stress. Selain tempatnya yang jauh, akses jalannya juga tidak terlalu bagus, semi off road. Masuk hutan belantara. Tidak bertemu dengan perkampungan. Namun, kami terus membangun harapan, yakin kalau jalan ini adalah benar. Hingga hati makin berbunga ketika terlihat gapura selamat datang di wisata Alas Purwa, Banyuwangi.
narsis di gerbang alas purwa

Membayar tiket. Dari pos penjagaan rute perjalan masih jauh membentang. Pertama, kami disuguhi pura yang sangat tua. Pada waktu itu, ada banyak orang dari Bali yang berdoa. Lalu, kami dihadapkan pada persimpangan untuk menuju sabana Sadengan yang ada banteng dan beberapa satwa lainnya. Di sini kami dapat informasi, bahwa untuk menuju Pantai Plengkung, kami mesti menyewa mobil tertutup, 4 x 4. Demi keamanan, karena masih banyak binatang liar yang kadang menyerang pengunjung. Jarak 7 KM murni off road, bukan semi, tapi asli.
sabana sadengan alas purwa banyuwangi

Mengingat target kami bahwa malam mesti tembus di Baluran, Situbondo. Maka, kami memutuskan untuk menikmati beberapa pantai di lokasi Alas Purwa, yaitu pantai Triangulasi dan Pasir Putih saja.
pantai triangulasi alas purwa, banyu wangi

Tepat pukul 15. 15, kami meninggalkan wisata Alas Purwa untuk menuju kota Banyuwangi dan selanjutnya menuju target camp Baluran.
Antara Alas Purwa dengan kota Banyuwangi ternyata bukan jarak yang pendek. Sekitar pukul 17.00, kami baru tiba. Sebenarnya hati was-was, karena memang kami sungguh tidak kenal medan. Kami bulatkan tekad untuk terus melaju menuju Baluran. Selepas perbatasan Banyuwangi-Situbondo, kami telah memasuki hutan Baluran. Namun, karena suasana sudah mulai gelap, maka kami pun tidak juga menjumpai papan penunjuk arah menuju Baluran. Hingga tidak terasa kami telah meninggalkan hutan Baluran.
Menyadari bahwa kami telah tersesat, saatnya bertanya. Kemudian kucari warung yang buka. Lebaran hari pertama, tidak banyak warung yang buka. Kami terus berjalan pelan-pelan dan sambil terus mencari penjual energi. Akhirnya warung kami temukan, memesan makanan dan saatnya santap malam. Di sini, kami memperoleh informasi bahwa Alas Baluran telah jauh terlewati selain itu saat ini wisata Baluran sedang rawan menjelang malam. Kami pun disarankan untuk mencari penginapan di Situbondo, kalaupun mau berkunjung ke Baluran sebaiknya besok pagi saja. Tidak tanggung-tanggung, baluran telah kelewat sejauh 70 KM, sedangkan untuk sampai kota Situbondo tinggal 20 Km lagi.
narsis dpn kamar hotel, situbondo
Dengan sedikit kecewa, akhirnya kami putuskan untuk terus ke Situbondo dan menunda wisata Baluran. Demi keamanan dan juga kenyamanan. Lanjut lagi. Hingga tepat pukul 21.00, kami tiba dan memperoleh kamar, yang tinggal satu-satunya. Saatnya rebah untuk beristirahat. Berharap besok bangun dengan tenaga serta semangat yang baru.
Hari V, Kamis 07 Juli 2016: Mengais Energi Mistis
Pagi menjelang, cuaca sangat bersahabat. Tubuhpun kembali bergairah. Semangat membuncah dan bergelora. Segera kami pun bergegas untuk persiapan, mandi, packing dan sarapan. Meliuk menyusuri eksotisme jalanan Situbondo di sekitar pantai Pasir Putih memang luar biasa. Perbukitan, hutan yang berpadu harmoni dengan lukisan pasir berhias birunya lautan. Keren.
Hingga tidak terasa, kami telah memasuki wilayah Probolinggo. Pantat telah penat. Saatnya beristirahat. Lalu kami sempatkan diri untuk bercengkerama dengan lukisan alam di pantai Bentar. Sebuah pantai nan asri karena masih diselimuti oleh hutan mangrove yang cukup luas. Sejenak mengurai lelah. Menikmati semilirnya angin pantai dengan memanjakan mata disapu hijuanya hutan bakung.
pinggir pantai bentar probolinggo

Setelah sejenak istirahat, lanjut lagi. Target berikutnya adalah air terjun Madakaripura. Meninggalkan Probolinggo dan menuju arah pegunungan Tengger. Hingga tidak terasa, kami telah kelewat jalur sekitar 20 Km. ya namanya perjalan pertama, sama-sama tidak tahu. Wajar bila kami sering salah jalan. Putar lagi, hingga sekitar pukul 11.30, kami telah sampai di pintu masuk kawasan wisata air terjun pertapaan Patih Gajah Mada.
biar ketularan saktinya

Saatnya wisata rohani serta wisata sejarah. Membayangkan dan berimajinasi di jaman Majapahit dengan keperkasaan serta kesaktian Sang Maha Patih. Memang eksotis. Luar biasa, yang membikin hati berdecak kagum. Kekuatan jiwa-raga memang hasil dari usaha. Tentunya bisa dimengerti bila pada waktu itu orang bisa menemukan daerah yang tersembunyi dengan keindahannya. Sudah semestinya, orang yang mampu menggapai tempat ini telah teruji sebagai pribadi yang bakoh-kokoh.
air terjun madakaripura, probolinggo. brrrr....

Setelah asik bermain di bawah guyuran air terjun. Tubuh mengigil dan kedinginan. Saatnya kembali untuk membersihkan diri, makan siang dan melanjutkan perjalanan. Target sebelum gelap kami mesti sampai di Penanjakan Bromo. Kami akan bermalam sambil menikmati sejuknya hawa pegunungan Tengger. Di hening gunung dengan penanda keagamaan Hindu, banyak ornament Pura akan menghantar jiwa bertemu dengan Penguasa Semesta. Pada mulanya dan sampai sekarang Penanjakan adalah tempat peribadatan, tempat pemujaan untuk Sang Pencipta. Saya akan mencoba untuk mengalami peristiwa itu. Semoga tercapai.
Sekitar jam 14.00, kami meninggalkan lokasi wisata air terjun. Sayang di tengah perjalan kami dihajar hujan yang sangat lebat. Perut lapar, warung masih jarang yang buka. Terpaksa kami berteduh dengan perut kosong. Hingga tidak terasa 1,5 jam kami menunggu. Hujan pun reda. Segera kami melaju. Sampai di terminal Bromo, terlihat cuaca yang sangat cerah. Tidak ada hujan. Namun sayang, Bromo lagi bereaksi. Hingga kami tidak berani mendaki ke kawah Bromo.
berdua di bromo

Istirahat di terminal sambil menikmati pemandangan dan bakso. Nikmat.
Pukul 17.00, kami ber-off road di segoro wedi. Sebuah pengalaman yang menantang, di mana antara ban depan dan ban belakang tidak sejalan. Isteriku selalu menjerit histeris ketakutan. Sedangkan saya asik menikmati sebagai wisata adrenalin. Ya begitulah bedanya laki-laki dan perempuan. Tidak bisa disamakan. Aku menikmati, isteriku senam jantung. Melewati segoro wedi dengan lancar, saatnya membuktikan ketangguhan si kebo menapaki tikungan dan tanjakan Penanjakan yang wow. Asik aja. Motor dengan gagah, aman dan nyaman. Lancar. Isteriku menawar untuk camp di Penanjakan III, tetapi saya memaksa untuk camp di Penanjakan I, puncak dan akhir dari jalan aspal. Itulah puncak tertinggi dari Penanjakan. Suasana sepi tetapi masih ada beberapa penjaga warung yang merentangkan tangan untuk menyambut sumber kehidupan.
Tanya punya tanya, kami diperkenankan untuk camp di Penanjakan I. Sedangkan parkir diurus oleh penjaga warung. Sebelum gelap tenda telah berdiri gagah. Angin bertiup kencang. Sejenak udara telah menyiutkan nyali. Terasa amat sangat dingin. Di sini, kami bertemu satu orang pengelana, single touring  (aktif di Fulsar Comunnity, namanya Mas Rony) dari Sukoharjo juga. Kami diikat oleh sedaerah asal. Maka, kami pun cepat akrab. Sepanjang malam, kami asik banyak cerita.
Angin tidak henti-hentinya bertiup. Udara menjadi sangat dingin. Suasana sangat sepi. Hanya kami bertiga dengan dua tenda. Semua penjaga warung turun. Katanya akan mulai ramai lagi sekitar pukul 03.00, banyak pengunjung untuk menikmati keindahan sun rise. Dalam suasana yang teramat sepi dengan dendang harmoni alam bersama orhestra tiupan angin malam, saya menyempatkan untuk memejamkan mata. Dingin yang menembus tulang, menjadikanku berulang terjaga.
Malam mulai meregang memanggil sinar fajar. Saat kulirik jam menunjuk angka 02.00, sayub terdengar suara. Yang kian lama mengubah suasana menjadi riuh. Orang-orang berteriak kedinginan. Celoteh para pemandu memburai hening Penanjakan. Kendati demikian, kami tetap asik di dalam tenda. Sambil menikmati bisingnya pengunjung, kami membuat minuman hangat dan sarapan. Saat kubuka tenda, Penanjakan menjadi lautan manusia. Kini, Bromo menjadi wisata elit dengan tarif yang mahal.
sun rise bromo bercampur dg lautan manusia

Hari VI, Jumat 08 Juli 2016: Pulang ke Rumah
Sekitar jam 08.00, pengunjung sudah pada banyak yang turun. Warung-warung juga mulai tutup. Aku pun bergegas untuk bongkar tenda, packing dan siap-siap melakukan perjalanan jauh. Target hari ini, kami mesti sampai Solo. Pulang ke rumah menjadi satu pengharapan terbesar. Sejauh apapun perjalanan kembali pulang adalah akhir dari kisahnya.
Tepat jam 09.00, kami meninggalkan Penanjakan dengan segala kisah dan kenangan. Selamat berpisah dengan mas Roni yang menjadi teman berbagi. Berharap lain waktu bisa melukis kisah bersama lagi.
Menyususri jalanan demi jalanan. Santai  namun terus berjalan. Hingga sekitar pukul 11.00, kami telah memasuki kota Jombang. Istirahat. Pantat sudah panas. Mengurai segala kekalutan dengan segelas air kelapa muda. Terasa sangat segar. Saat waktu berada pada titik 12.30, kami melanjutkan perjalanan. Biasa naik bis umum sekarang dengan mengendarai sepeda motor, rasanya banyak juga yang asing. Modal bertanya selalu kami andalkan, hingga akhirnya, sekitar pukul 14.30 kami telah tiba di kota Ngawi. Istirahat. Mencari makan guna memulihkan tenaga.
Menjelang sore, kami melihat bahwa jalanan mulai ramai dan antrian panjang juga terjadi di beberapa titik. Hal ini terjadi karena bersamaan dengan arus balik. Di hutan Mantingan kami terjebak kemacetan yang panjang. Ada yang 5 Km, ada pula yang hanya 100 meter. Buatku dibikin asik saja. Setiap kali macet, motor kuturunkan dari aspal, semi off road. Motor matic dan bebek tidak ada yang berani mengikuti kami. Walaupun pelan yang penting tetap berjalan. Alon-alon waton kelakon. Yang lain macet, punyaku tetap lancar. Sekitar pukul 17.30, kami telah meninggalkan kota Sragen. Sebentar lagi Solo. Hingga kami pun tiba di rumah tercinta tepat pukul 18.00.
teringat keindahan pagi hr ini. bromo

Pada Akhirnya, …
Demikian lah sekelumit perjalanan, petualangan dan peziarahan yang kami alami. Dengan waktu selama 6 hari 5 malam, dengan jarak sejauh 1.520 Km dan menghabiskan bahan bakar tepat seharga Rp 300. 000. Kami telah menorehkan kisah menjelajahi dan menikmati karya Tuhan di wilayah Jatim. Sungguh ini menjadi peristiwa yang mengasikkan, mendebarkan, menakutkan juga menghadirkan kecemasan, keraguan dan membangun asa untuk selalu berharap. Terimakasih Tuhan atas pengalaman ini, terimakasih Isteriku yang setia untuk menjadi co-rider yang baik. Terimakasih untuk setiap hal yang kami jumpai. Terimaksih untuk setiap insan yang menginspirasi hidup ini. Semoga kisah ini menumbuhkan kemanusiaan kami untuk selalu berbagi, berharap dan memberi. Hingga kami, semakin mengerti dan mengalami kedamaian dan kebahagiaan hakiki. Semoga.







[i] Agustunis Wibowo, “Titik Nol, Makna sebuah Perjalanan”, Gramedia, Jakarta, 2013, hlm. 233.

Kamis, 09 Juni 2016

SOLO HIKING: LAWU VIA CEMORO SEWU

SOLO HIKING: LAWU VIA CEMORO SEWU
Oleh: Heri
menikmati suasana puncak lawu

Bila malam menjelang dengan segala pesonanya, di saat itu lah hati yang penat mulai gundah. Setiap manusia punya persoalan dan dinamika hidup yang tidak sama. Ada kalanya jiwa yang lelah dan penat karena pertarungan hidup, membutuhkan ruang untuk sejenak relai. Dengan demikian setiap  manusia dituntut untuk memiliki kemampuan untuk mengenal dirinya, mengerti batas kemampuan dan daya juangnya. Namun yang utama adalah memahami cara bagaimana mengurai segala kelelahan dalam hidupnya. Karena dengan itu manusia akan terus mampu bertahan hidup. Kemampuan yang seperti itu merupakan cara yang mujarab untuk terus bisa menikmati hidup dengan damai dan bahagia.
Di tengah bising segala pergumulan hidup itulah benakku melayang pada cara sederhana untuk mengurainya. Aku sungguh mengenal diriku, bila beban hidup terasa berat, gunung adalah sumber penghiburan. Aku adalah salah satu dari berjuta orang yang suka mendaki gunung. Mungkin tepatnya adalah mencintai setapak gunung. Bukan gunungnya, bukan pula panoramanya, bukan pula tantangannya. Tetapi kesegaran udara dan lukisan cakrawala yang tidak akan pernah sama.
Telah berulang aku menapaki setapak gunung, namun aku tidak pernah bosan. Bahkan cenderung untuk semakin mencintainya lebih dalam. Di tengah pergumulan hidup itulah, segala memori tentang kedamian mengundangku untuk kembali mencengkeramainya.
Kali ini, kuingin ziarahi setapak Lawu via Cemoro Sewu. Beberapa kali aku mendaki gunung Lawu lewat jalur ini, selalu bersama dengan teman-teman. Saat ini kuingin mendaki seorang diri. Mendaki solo, bagiku bukan sesuatu yang baru, namun mendaki Lawu sendirian, ini merupakan pengalaman pertama. Maka, aku harus menyiapkan segalanya. Agar pendakian ini menjadi saat untuk sungguh berjumpa dengan kedalaman hidupku, terutama untuk berjumpa dengan Aku Sejatiku.
Sabtu, 21 Mei 2016 aku mendapat kesempatan untuk mendampingi anak-anak SMA N 5 Surakarta dalam rekoleksi singkat. Sabtu, aku diberi kesempatan untuk mengisi beberapa sesi. Acara berjalan lancar hingga sampai pukul 23.30.  Waktu sesiku sudah selesai dan anak-anak terlihat bahagia. Pendampingan sederhana namun mampu menghantar anak-anak menyusuri hidupnya. Semoga rekoleksi ini bisa memupuk bibit-bibit kebaikan dalam diri mereka.
Bukan kebetulan tetapi memang sudah menjadi satu rencana. Rekoleksi tersebut bertempat di Tawangmangu. Maka, jarak tempuh menuju base camp Cemoro Sewu tidak begitu jauh, hanya sekitar 6 km. Tepat pukul 00.00, aku tiba di base camp Cemoro Kandang, segera kuparkirkan motor. Sengaja aku memilih untuk parkir kendaraan di base camp Cemoro Kandang. Karena, aku berencana untuk turun lewat jalur ini. Selain itu, aku juga telah akrab dengan beberapa sahabat AGL. Benarlah, mereka pun segera menyambutku hangat, ngobrol sejenak, lalu aku pamitan untuk mencari asupan nutrisi. Makan malampun usai. Tepat jarum jam bertengger di titik 01.00, aku meninggalkan warung dan menuju base camp Cemoro Sewu, dengan jalan kaki. Kupikir ini hitung-hitung sebagai pemanasan sebelum pendakian.
suasana sun rise lawu

Sesampainya di base camp Cemoro Sewu, aku tidak menunda-nunda waktu, segera regristrasi (tarif pendakian Rp. 10.000). Sebelum mendaki  aku sempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan beberapa orang yang asik ngobrol karena usai mendaki. Mereka antusias untuk memberi petunjuk tentang jalur pendakian, aku dengan rendah hati mendengarkannya. Kendati aku sedikit telah tahu jalur tersebut, namun kerendahan hati adalah modal utama untuk tidak takkabur dan sombong.
Tepat pukul 01.30, kumulai pendakian ini. Hatiku cukup tenang, cukup siap untuk melakukan pendakian seorang diri.
Lengang dan sunyi.
Melenggang kakiku melangkah pelan dan pasti, menyusuri setapak yang jelas.
Temaram sinar bulan yang hampir bulat penuh menemani peziarahanku. Hening malam menghantarku untuk menyusuri relung-relung diriku. Hingga membawa kenangan bahwa pendakian terakhirku di gunung Lawu ini adalah bersamaan dengan peristiwa kebakaran hutan yang menyebabkan 7 korban meninggal. Hatiku pun bergetar. Lalu, kuhentikan langkah. Berdiri sambil menundukkan kepala, kulambungkan doa untuk kedamian arwah mereka yang telah berpulang dalam pendakian gunung ini.
Setelah hatiku beroleh ketenangan dan kemantapan. Kembali aku pun melangkah. Nafas yang tidak lagi muda memintaku untuk sejenak istirahat. Saat meredakan detak jantung yang memburu kulihat di kejahuan terlihat samar ada cahaya senter. Kupastikan bahwa itu adalah pendaki. Hanya satu orang. Mungkin, ia sama dengan diriku, pendaki solo. Sesaat aku pun menunggu dan benarlah perkiraanku. Kami pun saling menyapa. Kutahu ia seorang lelaki, mahasiswa jurusan sastra Arab, UGM, berasal dari Bandung. Sayangnya aku tidak menanyakan namanya. (Salah satu kebiasaan ku yang buruk, tidak bertanya nama, tetapi ngobrol seolah sudah saling kenal lama). Kami pun tanpa kesepakatan melaju saling bertukar pengalaman dan menapaki setapak.
Kami terus melangkah dalam dekapan berbagi kisah, hingga tidak terasa kami telah tiba di Pos I[1]. Di sini kami beristirahat. Lalu, teman Bandung berpamitan melaju sendiri. Mungkin, sudah niatnya untuk mendaki sendirian. Aku pun begitu. Maka, kupersilahkan. Setelah istirahat beberapa menit. Hingga waktu menunjuk angka 02.15, aku pun bangkit untuk kembali melukiskan kisah.  
Hening dan dingin malam masih setia menemaniku. Akupun dengan tenang melaju dengan keterbukaan hati untuk terus merenungi dan merefleksikan berjuta pengalaman hidup yang boleh aku lewati.
birunya langit menjadi pendorong untuk terus naik

Jalanan kian menanjak, terjal dan berliku. Namun malam ini keindahan alam memang disuguhkan bagi para pendaki karena temaramnya sinar rembulan membantu untuk menikmati suasana dan pemandangan yang beda. Samar cahaya rembulan menimbulkan dan memunculkan eksotisme panorama Lawu menjadi sangat menawan.
Selama perjalanan dari Pos I menuju Pos II, aku berjumpa dengan dua rombongan turun gunung dan satu rombongan yang masih berjuang untuk menuju puncak. Ada pula satu rombongan yang sibuk mendirikan tenda, hingga saat kusapa mereka tidak menjawab. Semoga mereka bukan hantu. Up, awas, jadi takut, …
Kurasa tenagaku masih cukup prima, maka aku pun tiba di Pos II sekitar pukul 03.00[2]. Perjalanan yang cukup cepat, dari base camp sampai Pos II, hanya butuh waktu 1,5 jam. Akupun beristirahat sejenak. Di pos ini, kembali aku berjumpa dengan pendaki dari Bandung. Lalu, kamipun meneruskan pendakian. Sepanjang perjalanan ini, kami tidak lagi banyak bercerita. Mungkin karena tenaga kami yang mulai pudar. Lalu, kupersilahkan dia duluan. Motivasi dan harapan untuk menginjak puncak sebelum matahari menjadi pendorong yang memampukan aku untuk terus melangkah. Kendati lelah, kaki ini masih mampu untuk membawaku sampai di Pos III.
Namun, kekuatan raga yang renta tidak lagi mau menopang. Kekuatan ada batasnya. Maka, aku putuskan untuk sejenak beristirahat, sambil mendulang energi. Segera kusiapkan peralatan masak. Mendidihkan air, menyiapkan minuman susu panas ditemani dengan roti menjadi hidangan yang maha-nikmat.
dulu pernah hijau

Badan kembali pulih, tenanga kembali melimpah. Segera kubereskan segala perlengkapan perangku. Tepat pukul 04.00, aku kembali menyongsong harapan untuk bercengkerama dengan panorama surya-fajar.
Masih seorang diri.
Namun, suasana tidak lagi sunyi dan sepi. Teriakan demi teriakan untuk membangkitkan daya agar raga dari para pendaki yang koyak dapat dipicu untuk menggapai puncak. Teriakan–teriakan motivasi saling bersambut. Aku yang tidak terbiasa dengan berteriak-teriak hanya bisa geleng-geleng dan berusaha untuk bisa menikmatinya.
Tenagaku yang kembali utuh bahkan seolah belum terpakai, menjadikanku berjalan setengah berlari. Semua pendaki yang melihat hanya terbengong-bengong dan terheran-heran. Rata-rata mereka terlihat kelelahan dan sudah sempoyongan. Aku berpikir positif saja, mungkin mereka baru pemula atau belum biasa atau mungkin belum memiliki tenik mendaki yang benar. Namun, yang paling jelas adalah medan pendakian yang curam, jalur antara pos III menuju pos IV adalah jalur yang paling berat. Menanjak tajam.
Pukul 04.30, aku telah tiba di Pos IV. Dari pos ini, aku bersama dengan satu pendaki yang tercecer dari rombongannya. Ia seorang cewek yang mengaku dari Purwodadi. Ia paling duluan, karena teman-temannya masih jauh tertinggal di belakang. Ia bercerita bahwa mereka memulai pendakian sekitar pukul 18.30. Saat ia tahu bahwa aku memulai pendakian pukul 01.30, ia hanya berkomentar, “Ngapusi. Bohong. Gak mungkin”. Aku hanya tersenyum. Tidak ada upaya untuk membela diri. Buat apa?
Laju pendakianku berubah irama menjadi sangat-sangat lambat. Namun, karena kasihan, aku pun bertekat untuk menghantar ia sampai ke puncak. Dengan langkah yang kian gontai, aku yakin bahwa ia kelaparan dan kelelahan. Aku tidak berani menanyakan, namun pengalaman menjadikanku berani mengambil kesimpulan.
Tepat pukul 05.00, semburat merah telah menghiasi cakrawala, pertanda golden sun rise akan menjamu perjuangan para pecinta ketinggian dan segarnya udara pegunungan. Kulihat di puncak Hargo Dumilah, penuh sesak dengan para pendaki. Kupikir dari pada berjejal di puncak dan tidak bisa menikmati keindahan secara hening dan khusuk, aku memilih untuk menikmatinya di Sendang Drajat. Teman dari Purwodadi, aku tawari kalau mau langsung ke puncak tinggal mengikuti setapak yang sudah terlihat dan tidak mungkin keliru. Namun, mereka memutuskan mengikuti caraku untuk mencumbui surga pagi di atas 3.000 mdpl.
keren kan?

Segera kugelar matras, kusiapkan menu pagi spesial. Sambil menunggu datangnya cahaya mentari, kami terus berbagi pengalaman untuk membangun persaudaraan. Tidak berapa lama, menu spesialpun telah siap. Bersama surya pagi yang menghangatkan bumi, aku pun menikmati dengan sarapan sederhana namun terasa begitu mewah. Akhirnya terbukti, bahwa pendaki dari Purwodadi itu, tidak punya apa-apa, hingga mereka pun ikut lahap menikmati bekal yang kupunya. Sebuah kebersamaan dalam bingkai kekeluargaan terjalin secara alami tanpa rencana. Hal yang luar biasa.
Sang surya pun mulai bergegas merangkak meninggalkan peraduan. Sesaat pun mengubah cahaya kuning keemasan menjadi putih keperakan.  Mentari pun makin tinggi melambung menatap kami, sinarnyapun mulai mengusir dingin malam. Hangat terasa yang kian lama terasa makin menyengat.
Maka, kuputuskan untuk segera menyudahi kemesraan ini. Segera kukemasi perbekalan dan segala perlengkapanku. Aku pun berpamitan dan tetap membuka diri mengajak mereka agar tetap bersama. Namun, mereka berencana untuk mampir ke warung tertinggi, warung pecel Mbok Yem di puncak Hargo Dalem. Kami pun berpisah di pertigaan. Aku mengambil belokan ke kiri dan mereka berbelok ke kanan. Sampai jumpa kawan, semoga waktu mempertemukan kita untuk kembali melukis kisah di atas kanvas setapak Lawu.
Dari titik ini, jalur pendakian menjadi sangat ramai. Ada yang turun, namun ada pula yang masih berjuang menuju puncak. Saling tegur sapa menjadikan suasana akrab dan penuh rasa persaudaraan. Hingga akhirnya, tepat pukul 06.45, aku tiba di puncak Hargo Dumilah. Kakiku berdiri di salah satu atap tinggi pulau Jawa, 3.265 mdpl.
tugu puncak lawu

Rasa syukur yang tiada tara menguap dari dalam hati. Kulambungkan doa sujud syukur kepada Tuhan, kumohonkan kedamiana arwah untuk yang meninggal dalam pendakiannya ke Lawa dan kumohon rahmat untuk terus dilindungi dalam perjalanan pulang. Sejenak kemudian, aku pun bercengkerama dengan Lawu.
Belum juga puas bahagia dalam diri ini, namun mentari terasa sudah sangat menyengat. Maka kuputuskan untuk bergerak turun, meninggalkan segala keindahan. Pukul 07.00, aku pun berpamitan dengan Hargo Dumilah. Sepanjang perjalanan dari puncak menuju Pos IV, aku tidak bertemu satu pendakipun. Hanya bertemu satu rombongan besar yang baru persiapan menuju puncak.
Perjalanan turun ini, diriku diwarnai dengan kepiluan hati. Bekas kebakaran kemarau lalu masih dominan. Hutan-huntan yang menghitam, pohon dan perdu yang mengering, cokelat. Gunung yang tidak lagi didominasi warna hijau tetapi hitam dan cokelat. Besar harapanku untuk kembali mengalami hijaunya Lawu. Semoga terwujud.
kebakaran tanpa sisa. semua hangus

Tidak terasa, tepat pukul 08.00, aku telah tiba di Pos III. Perjalanan turun dari Pos IV kembali aku mengalami suasana yang sunyi, tidak bertemu satu pendakipun. Hanya di Pos III, aku bertemu dengan satu rombongan dari Klaten yang mengadakan penmas. Tidak menunggu lama, kembali aku melangkah.
Setapak dari Pos III benar-benar licin. Setelah semalam diguyur hujan, hutan yang mengering dan hanya perdu menjadikan tanah masih becek. Hal ini diperparah dengan terhalangnya sinar matahari karena punggungan Lawu. Beberapa kali aku hampir jatuh. Terpeleset berulang kali. Maka, kuputuskan untuk mengurangi laju kecepatanku. Pelan-pelan saja. Setapak bercabang-cabang. Para pendaki banyak yang membuat jalur baru. Wajar karena setapak utama licin, hutan terbuka, tanpa adanya perdu, sehingga orang bisa melihat keadaan di bawah. Lalu meutuskan untuk potong kompas. Demi menyingkat perjalanan turun, maka meng-halal-kan terabas jalur. Buatku, ini memprihatinkan.
Perjalanan yang sunyi cenderung memompa energi yang tidak kumengerti. Aku terus berjalan, hingga tidak terasa, telah sampai di Pos II. Tidak bertemu atau berpapasan dengan pendaki lain. Istirahat sejenak. Kembali kulangkahkan kakiku. Mendadak perutku berontak. Segera kulobangi tanah, untuk menyembunyikan hal yang terbuang. Lega. Lanjut lagi. Selepas Pos II, aku baru bertemu satu rombongan yang akan happy camp di Pos II. Rombongan yang cukup besar. Mereka ber-10 dan berasal dari Magetan.
masih ada yg tersisa, hutan lebat yg hijau

Sang waktu berdiri di titik 09.30, dan aku juga telah berdiri di Pos I. Perjalanan turun yang tidak terlalu cepat juga lambat. 2,5 jam dari puncak sampai di Pos I. Di Pos ini, kulihat ada seorang bapak yang sedang menggelar dagangannya. Kutahu bahwa pendakian jalur Cemoro Kandang kali ini sepi. Bermodal belas kasihan, aku pun berhenti dan membeli beberapa potong gorengan. Sambil beristirahat kunikmati jajanan di Pos ini. Tepat pukul 10.00, kembali kaki kulangkahkan. Melaju dengan gagah hingga tepat pukul 10.20, aku telah tiba di base camp Cemoro Kandang.
Niat hati, mau beristirahat sebentar, lalu meneruskan perjalanan pulang ke Solo, harus tertunda. Teman-teman AGL malah mengajak ngobrol dan menyuguhkan segelas teh hangat. Keakraban dengan semangat persaudaran pun terjalin dengan asiknya. Hingga tidak terasa, waktu telah menunjuk titik 11.30. Lalu, aku pun memaksa diri untuk berpamitan. Karena malam ada acara di Solo. Mereka pun mau mengerti. Selamat berpisah kawan. Semoga lain hari bisa kembali berbagi.
pohon ini masih setia menunggu kedatanganku berikutnya

 Mengakhiri petualangan ini aku hanya bisa berkata, “Terimakasih Lawu. Engkau telah mengajariku cara untuk semakin rendah hati sehingga semakin bisa bersabar. Engkau juga mengajariku untuk rela berbagi dalam banyak hal, mengajariku untuk dapat mengalahkan diri dan semakin percaya diri. Pada kesempatan ini, kuingin sampaikan juga terimakasihku kepada isteri tercintaku yang selalu mau mendukung dan mengerti tentang diriku, selalu memberi waktu dan ijinnya sehingga aku terus bisa menyatu dengan alam, khususnya menyatu dengan dingin kabut pegunungan. Semoga dengan peziarahan ini, aku dapat semakin menumbuhkan cinta kepada semua orang, terutama kepada isteriku”. Salam sang pecinta udara segar dan kabut dingin di ketinggian.




[1] Perjalanan dari base camp dimulai dengan melewati gerbang pendakian, medan awal berupa jalur tanah dan bebatuan. Di sepanjang jalur awal ini banyak ditumbuhi oleh pohon cemara. Baru setelah melewati hutan cemara ini, di kiri – kanan jalur terdapat kebun sayur milik penduduk. Dari basecamp menuju pos satu, jalur tidak begitu menanjak, namun pendaki harus tetap berhati – hati, karena tanah bebatuan yang dilewati lumayan licin. Dari base camp menuju pos satu dapat ditempuh dengan waktu sekitar satu jam. Di pos satu, terdapat sebuah pondok, dan di depannya juga ada warung. Namun waktu kami mendaki, warung-warung ini sedang tutup. Mungkin karena musim puasa.
[2] Perjalanan dari pos 1 menuju pos 2 merupakan jalur terpanjang, dan medannya mulai memiliki kemiringan lebih tajam dibandingkan jalur pos 1. Jalur ini berada di kawasan hutan pegunungan tropis.

Rabu, 30 Maret 2016

CATATAN PERJALANAN: SOLO HIKING MERBABU VIA SELO

SOLO HIKING: MERBABU VIA SELO
Oleh: Heri
 
Views dr puncak kenteng 9 merbabu
Jaman terus bergerak dan berubah. Begitu pula dalam dunia pendakian. Tidak bermaksud untuk membandingkan juga tidak ada niat untuk bernostalgia. Karena memang sesungguhnya jaman yang bergerak serta merta harus diimbangi dengan perubahan. Bahkan yang menandai keberadaan manusia adalah perubahan itu sendiri. Hanya manusia yang mau berevolusilah yang akan bertahan. Kendati perubuhan merupakan hukum alamiah, namun tidak serta merta hati merasa nyaman dalam menerima perubahan tersebut.
Di sini, saya mau membagikan sekelumit tentang pengalaman dalam dunia pendakian. Saya merupakan generasi pemula (= biasa untuk menyebut “Pendaki muka lama”). Saya tidak berani menyebut sebagai generasi pencinta alam kawakan. Karena kegiatan pendakian yang saya geluti hanyalah hoby. Kegiatan mendaki memang sudah cukup lama saya geluti. Lebih dari sepuluh tahun. Namun, tidak serta merta jumlah pendakian yang saya lakukan ikutan banyak. Hanya beberapa kali mendaki.
Sekitar tiga tahun terakhir, antara 2013-2015, setiap kali menjelang malam liburan, misalnya hari Sabtu-Minggu, hampir dapat dipastikan bahwa gunung-gunung populer akan ramai oleh pendaki. Setiap jalur akan dilewati lebih dari 300 orang. Bukan jumlah yang sedikit. Tentu akan membawa dampak sebuah keadaan atau suasana yang sangat ramai, riuh dan berisik. Suasana ini, sangat berbeda dengan situasi pendakian di tahun 2000-2010 yang lebih sepi dan lengang. Sering saya alami ketika mendaki dari mulai hingga pulang, dari base camp-puncak-base camp, tidak berjumpa dengan rombongan lain. Hening.
Kembali ke prinsip awal, bahwa saya tidak ingin membandingkan. Hanya mencoba untuk menerima kenyataan tentang perubahan, terutama perubahan dalam iklim pendakian. Dulu, ketika mendaki tujuannya adalah untuk menemukan ketenangan dan kedamaian. Ada pula yang mencoba menyelami dirinya, merenungkan diri dan intropeksi. Banyak juga yang mencoba menghayati imannya, bahwa mendaki adalah menziarahi hidup demi berjumpa dengan Sang Pencipta. Intinya, mendaki menjadi media untuk lebih bisa mengenal diri, dan menghantar diri berjumpa dan bertemu dengan Tuhan Pencipta.
sepi, view dr sabana 2 merbabu

Kalau sekarang saya tidak tahu. Saya tidak berani menghakimi dan menilai. Yang jelas, ditelingaku para pendaki yang “kekinian” lebih ramai, ribut serta sibuk dengan atribut dan dengan segala aksesoris yang trendi dan modis. Sehingga yang terlihat hanyalah kebisingan dan keramaian. Mendaki bukan lagi mencari keheningan. Namun, mencari yang lain dan saya tidak berani mengatakan, “Apakah itu?”
Jaman terus berkembang. Maka, untuk sementara saya menyimpulkan bahwa orientasi mendaki gunung juga berkembang. Dan itu sah-sah saja. Setiap orang bebas menentukan tujuan hidupnya. Begitu pula dengan mendaki.
Sebagai pendaki yang sudah pernah mengalami keheningan gunung dengan segala efek-spiritualnya, saya kadang sangat rindu untuk mengalami suasana itu. Saya kira, suasana gunung yang sepi masih ada. Tetapi tidak di malam-malam hari libur. Sayangnya, saya kurang bisa mengaminya. Dunia kerja tidak memberi kesempatan kepadaku. Saya hanya bisa mendaki pada hari-hari menjelang libur nasional, seringnya ya malam Minggu.
Kerinduan itu membuncah dan tidak bisa dibendung. Akhirnya, saya beranikan diri untuk mengambil cuti. Tentu dengan alasan yang tidak sesungguhnya. Rabu, 23 Maret 2016, saya tetapkan untuk mengurai rindu itu. Target pendakian adalah gunung Merbabu via Selo. Sekalian bernostalgia.
Sengaja, saya merencanakan untuk solo-hikking, mendaki seorang diri. Tentu dengan segala konsekwensinya. Saya tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada. Mendaki untuk mencari ketenangan diri, mencari keheningan agar menemukan kedamaian. Keributan dan kesibukan kerja telah lama mengasingkan dan mengeringkan jiwa.
Kendati saya mendaki seorang diri, tidak serta merta saya mengabaikan perlengkapan-safety. Persiapan dan perlengkapan full telah tersedia. Tinggal tenanga dan semangat untuk bisa memanggulnya. Saya bukanlah seorang pendaki lulusan dari DIKLATSAR. Namun, beberapa kali melakukan pendakian telah menghantar saya untuk mengerti prinsip-prinsip yang tidak bisa ditawar sebagai seorang pendaki. Setiap kali mendaki dan berjumpa dengan para pendaki hasil didikan dari organisasi-organisasi resmi “Pencinta Alam”, saya mencoba membuka diri untuk menimba ilmu sebanyak mungkin.
Kuakui bahwa usiaku tidak lagi muda. Memang semangat masih bergelora. Namun, kenyataan tidak dapat disangkal. Untuk menyiasati usia yang tidak muda lagi tersebut, persiapan mutlak perlu. Seminggu sebelum hari yang ditunggu, saya menyempatkan diri untuk jogging dan olah raga ringan. Fisik saya siapkan, mental juga demikian. Tinggal belanja logistik.
Saya telah memiliki daftar ceklist terkait dengan perlengkapan dan logistik yang mutlak harus ada. Maka, tidak membutuhkan waktu lama segala perlengkapan siap tempur telah masuk ke dalam kerier.
dg barang bbawaan yg waow

Saatnya petualangan.
Rabu, 23 Maret 2016 cuaca terlihat sangat bersahabat. Semangat pun kian bergelora. Tepat jam 11.30, saya meninggalkan kota Solo untuk menuju base camp Merbabu, Selo. Perjalanan lancar-lancar saja. Menjelang masuk kota Boyolali, terlihat mendung begitu menghitam di sisi barat. Benarlah ketika masuk kota, hujan turun dengan sangat deras. Saya pun berteduh, menunggu reda. Sekitar jam 14.00, hujan mulai menipis. Saya putuskan untuk lanjut. Jalan pelan-pelan karena jalanan antara Cepogo-Selo, rusak parah. Medan yang penuh dengan tanjakan-turunan dan kelokan, diperparah dengan lubang-lubang yang menganga siap menerkam. Maka prinsip ke hati-hatian dan waspada mutlak diperlukan. “Alon-alon waton kelakon”.
Tepat pukul 14.45, saya tiba di base camp. Kang Bari dan Isterinya, menyambut hangat kedatangan saya. Sudah lama saya tidak ke sini. Namun, mereka masih mengingat. Kami pun mengobrol dengan sangat akrab. Sekitar setengah jam, kami bercengkerama, berbagi kisah hidup. Kang Bari, yang dulu sangat sederhana, kini telah memiliki banyak hal, semua itu karena animo dalam dunia pendakian gunung yang tinggi. Saya pun melihat bahwa rumah-rumah yang bertuliskan base camp telah bertebaran. Ada sekitar 6 rumah. Mantap. Berarti memang jalur Selo sudah sangat ramai.
Menurut, pendaki yang turun (dari Bekasi), bahwa ada 4 rombongan yang mendaki. Dengan demikian, saya berarti urutan ke-5. Harapan untuk menikmati pendakian dalam keheningan akan tercapai. Kelakon, pikirku. Kulirik arlojiku, tepat pukul 15.15, saya melangkah meninggalkan rumah kang Bari untuk menyusuri setapak Merbabu.  
Pendakian solo gunung Merbabu via Selo merupakan pendakian pertama. Namun bagiku, untuk pengalaman mendaki sendiri ini bukanlah hal baru. Beberapa kali saya telah melakukannya. Mendaki solo, bagiku bukan untuk gaya-gayaan, apalagi hanya sekedar mencari pengakuan dan pujian. Kembali ke prinsip awal bahwa mendaki adalah jalan terjal menuju keheningan batin, jiwa dan roh. Mental yang telah tertempa serta merta tidak boleh menjebakku untuk jatuh dalam kesombongan, maka kehati-hatian dan waspada untuk selalu mawas diri menjadi sangat penting.
Sepanjang perjalanan, saya mencoba untuk berkomunikasi dengan diriku sendiri, mencoba menyelami lorong-lorong sukmaku. Secara manusiawi ada kebanggaan yang luar biasa, ketika mendengar komentar, “Hebat. Mendaki seorang diri dengan bawaan yang super”. Saya mencoba untuk selalu merendah. Agar tidak jatuh ke jurang kesombongan. Pantangan terbesar dan terberat bagi seorang pendaki adalah kesombongan, untuk membuktikan diri sebagai yang lebih dalam banyak hal.
Jalur Selo merupakan jalur yang masih memiliki hutan lebat. Antara base camp-Pos I, akan disuguhi panorama hutan dengan segala keindahannya. Kurang lebih 15 menit, saya berjalan, saya bertemu dengan dua orang (bapak dengan anak dari Bekasi), saya pun menyempatkan diri untuk ngobrol. Mereka terlihat sempoyongan dan berencana hanya akan sampai di Pos I. Saya pun melaju. Masih berjalan sendirian. Kemudian saya berpapasan dengan rombongan besar dari kota Solo (sekota), anak-anak kampus. Komentar ini sempat mebuatku goyah dan hampir jatuh dalam godaan “sombong”, “Mendaki sendiri? Kalau aku mending tidur di rumah. Enggak lah mendaki sendirian. Jangan sampai”.
Sepanjang perjalanan, saya masih mendengar kicauan berbagai jenis burung. Sangat menarik sehingga perjalanan sendirian terasa mendamaikan. Menjelang Pos I, terdengar suara percakapan beberapa orang (campuran dari beberapa kota). Kami pun bertegur sapa. Mereka rombongan besar, yang sebagian telah menunggu di Pos I. Saya pun pelan-pelan terus melangkah. Hingga tepat satu jam saya telah tiba di Pos I. Masih standar.
Cukup lama, saya ngobrol di Pos I. Kembali godaan itu menyerangku. Pujian demi pujian dan pengakuan akan diriku yang luar biasa, semakin membuatku waspada. Demi menjaga tekad untuk mendaki seorang diri, saya pun berpamitan untuk kembali meneruskan langkah. Mereka mencoba mencegah dan menawarkan jasa untuk meringankan beban. “Terimakasih”, tolakku dengan senyuman. Tepat pukul 16.30, saya meninggalkan Pos I.
Selepas Pos I, saya agak terburu-buru. Saya agak memaksa diri untuk mengejar target. “Saya mesti sampai di Pos IV, Sabana I sebelum gelap”.
Dalam kesendirianku, tiba-tiba saya dikagetkan dengan pohon-pohon besar yang bergoyang. Jelas ini bukan karena tiupan angin. Sayapun meningkatkan kewaspadaan. Ternyata, pasukan lutung hitam. Spesies langka. Baru kali ini, saya melihat lutung Merbabu. Terimaksih alam atas kesempatan ini.
view dr pos ii

Setelah terkesima dengan atraksi tim lutung Merbabu, sayapun melanjutkan perjalanan. Kendati nafas terengah-engah, saya terus melangkah. Meskipun raga telah bermandi keringat, saya tidak juga berhenti. Terus melaju. Pelan namun pasti. Tiba di pos II Pandean, saya bertemu dengan rombongan anak-anak kuliah dari Jogja (komunitas Toraja). Mereka menyemangati dan tidak henti-hentinya memuji. Dari pada saya semakin larut dalam buaian pujian yang menyenangkan dan akan menjebakku dalam kesombongan, segera saya pun berpamitan.
Sebentar kemudian saya pun telah sampai di Pos III Batu Tulis, di sini saya juga bertemu dengan rombongan Jogja. Tetapi mereka akan turun. Setapak masih terlihat. Nafas makin kian tidak beraturan.  Perut mulai keroncongan. Tenaga juga tinggal sisa-sisa. Dengan semangat yang membara, kuterus melangkah. Tertatih-tatih. Pelan dan kian gontai. Hal ini, makin diperparah dengan harus menghajar medan Batu Tulis – Sabana I, yang terjal dan licin. Menjelang sampai Sabana I, saya bertemu dengan ceceran dari rombongan Jogja (campuran dari berbagai golongan). Lalu, kami pun berjalan bersama-sama sebagai saudara yang dipertemukan karena misi pendakian.
Syukur pada Tuhan, tepat pukul 18.15, saya tiba. Perjalanan yang luar biasa dan ini adalah pendakian tercepatku. Antara base camp – Sabana I hanya 3 jam. Pada hal pendakian terakhir, saya tempuh 8 jam (berhubung ada teman yang tepar 3 kali).
Saatnya mendirikan tenda, masak dan makan.
dlm tenda seorang diri

Di sabana ini, ternyata sudah ada dua buah tenda yang berdiri. Saya berpikir ini adalah hotel yang didirikan oleh pasukan Jogja (Piyungan, Bantul). Mendirikan tenda seorang diri dengan iringan angin yang lumayan gede, membuatku kerepotan juga. Segenap keterampilan kukeluarkan. Tidak berapa lama, tenda pun berdiri dengan gagah. Saatnya masuk. Tenda terlihat sangat longgar. Wajarlah, karena saya membawa tenda untuk kapasitas 3 orang, sedangakan saya sendirian. Tidak menunda-nunda, segera saya pun berkarya untuk membuat minuman dan makanan hangat. Di luar terdengar nyanyian alam yang mempesona. Raga yang lelah menjadikan hidangan ala kadarnya terasa istimewa dan nikmat.
Usai makan dan sejenak menikmati minuman hangat di dalam tenda. Saya merasakan tanda-tanda bahwa malam akan ada badai. Benarlah prediksiku, tidak menunggu lama, tendaku telah dihajar angin. Syukur tidak lama. Namun, tanda-tanda badai susulan akan datang. Maka,  kupaksakan diri untuk keluar dari kenyamanan tenda. Mencari lokasi. Tenda pun saya pindah. Setelah tenda berdiri di tempat yang kedua dengan gagah, saya sempatkan diri untuk berkeliling mencari teman ngobrol guna berbagi cerita. Rasanya sayang, bila mendaki gunung hanya ditinggal tidur. Karena waktu memang masih cukup panjang, baru jam 20.00.
Kulihat di beberapa tenda yang ada, semua masih sibuk dengan segala aktifitasnya. Saya pun nongkrong seorang diri di bawah pepohonan sabana. Setelah badan terasa dingin, tiba-tiba rombongan bapak dan anaknya tiba. Hebat. Masih bisa memaksa untuk sampai di pos ini. “Luar Biasa”, kataku meneguhkan gelora semangatnya.
Kemudian, saya membantu mereka berdua untuk menemukan lokasi dan mendirikan tenda. Saya tahu rasanya, pada saat raga lelah, perut lapar, terpaan angin yang menyiutkan nyali karena dingin namun tenda tidak juga berdiri. Saya yang telah beristirahat dan tentu telah makan, memiliki tenaga yang lebih. Segera kubantu sampai selesai.
Kemudian, saya pun berpamitan untuk menuju tenda privatku. Ingin tidur. Tapi cuaca di luar begitu bagus. Terang bulan dengan taburan bintang yang menyinari gugusan perbukitan dan lembah-lembah. Di kejauhan kerlap-kerlip lampu kota nampak memanjakan mata.  Akhirnya, saya pun keluar lagi dan membawa matras untuk duduk-duduk. Kemudian rombongan Jogja ikut meramaikan hingga pukul 23.30. Saatnya istirahat. Karena agenda pagi akan menuju puncak. Melihat keindahan Merbabu dari sudut yang lainnya.
Setelah sejenak terlelap, saya pun terjaga. Udara begitu dingin menusuk tulang. Tidak seperti pendakian yang lalu-lalu. Saya merupakan salah satu orang yang bisa menikmati udara dingin pegunungan. Rasanya nyaman. Tetapi tidak dengan kali ini, ragaku menggigil tidak karuan. Mungkinkah karena ini, saya tidur seorang diri. Saya kira tidak lah demikian. Di luar badai menerjang. Untungnya, tendaku terlindung dari perdu. Sehingga masih aman. Namun udara tetap menyusup ke dalam tenda dan membekukan yang ada. Kupaksa diriku untuk kembali lelap. Tetapi udara memang sungguh punya misi untuk menyiutkan segala nyali. Saya membesarkan harapan agar menjelang pagi badai sudah mereda.
Tepat pukul 03.30, saya pun berjaga. Kunyalakan kompor dalam tenda, berharap dapat mengurai dingin udara fajar. Sekaligus persiapan untuk  attack summit. Membuat minuman sereal adalah hal terpraktis, hangat, bergizi dan mengeyangkan. Tepat pukul 04.00, badai berhenti, badan mulai menghangat, perut terasa enak. Kubuka tenda, kuamati keadaan cuaca. Semua terlihat jelas, puncak Merbabu melambai indah, mengundang untuk bercumbu dengannya, cahaya bulan bersinar dengan lembutnya. Angin berhenti total. Cuaca sangat bersahabat. Kubulatkan tekat untuk melangkah. Masih berjalan seorang diri. Semua penghuni lainnya, masih nyaman dalam tenda. Sambil berjalan saya sengaja bersuara, “Monggo-monggo yang mau ke puncak. Saatnya nanjak”. Tidak ada satu pun yang menjawab. Saya pun berjalan, pelan-pelan. Santai saja.
sudah ditunggu

Sesampainya di ujung bukit menjelang Sabana II, saya sengaja berhenti lama untuk beristirahat. Sambil menikmati panorama alam. Luar biasa indahnya. Pandanganku tertuju pada 2 nyala lampu senter di Sabana I. Bisa jadi, itu pendaki dari Pos III, tapi bisa juga pendaki yang bermalam di Sabana I. Sebentar-sebentar mereka terlihat ragu-ragu, maka kunyalakan senterku, sebagai kode. Memang dalam pendakian pagi ini, saya sengaja tidak menyalakan senter, karena penerangan cahaya rembulan bagiku sudah cukup. Mereka mencoba mengejarku, namun jarak sudah terlalu jauh. Saat mereka bingung, segera mereka menyorotkan senternya kepadaku. Saya, akhirnya berani mengambil kesimpulan bahwa dua pendaki itu, baru pertama kali mendaki Merbabu. Jadi wajar kalau mereka ragu-ragu. Setiap kali saya beristirahat untuk mengatur nafas, pasti saya nyalakan senter, sekaligus menegaskan jalur yang harus ditempuh.
Saya memang  sengaja untuk mendaki sendiri. Maka, saya tidak menunggunya (maaf ya). Niat hati untuk mendaki guna mencari keheningan tidak dalam suasana yang ramai agaknya akan terkabul. Di puncak juga tidak ada tanda-tanda kalau ada pendaki lainnya. Terus kaki ini, melangkah. Hingga tepat pukul 05.00, saya tiba di puncak Kenteng Songo Merbabu. Sendiri. Tidak menunggu lama, saya pun berdoa untuk mengucap syukur kepada Tuhan.
puncak serasa milik pribadi
Saatnya menikmati indahnya alam. Saya merasa seolah-olah Merbabu menjadi milik pribadi. Tidak ada pendaki lainnya. Dua pendaki yang menyusulku terlihat masih jauh di bawah. Saya terus memberi tanda dengan cahaya senter. Walau temaram cahaya merah di ufuk timur sudah terlihat. Hingga akhir, mereka tiba. Terlihat ekspresi kegembiraan dan kebanggaan yang luar biasa. Ternyata, mereka adalah pendaki dari Bekasi (Bapak dan anaknya). Kami pun berkenalan. Yang bapak bernama Sugeng, sedangkan anaknya bernama Bimo. Kami akhirnya bertiga menikmati keindahan sun rise di puncak Merbabu. Hanya kami bertiga. Tidak terasa, dua jam saya telah berada di puncak. Pak Sugeng dan Mas Bimo, masih ingin berlama-lama untuk bercengkerama dengan indah Merbabu. Saya pamit untuk turun, tepat pukul 07.00.
bersama pak sugeng

Turun juga sendirian. Melenggang kaki ringan melangkah. Seolah tanpa beban. Mungkin karena hatiku terlalu bahagia. Dahaga jiwaku telah terjawab oleh hening alam semesta. Kunikmati sungguh perjalanan turun ini. 45 menit cukup menghantarku sampai di tenda. Segera membuat sarapan guna memulihkan tenaga. Target, pagi ini maksimal pukul 09.30, saya harus mulai menuruni setapak meninggalkan Sabana I. Hal ini bukan tanpa alasan. Hari kemarin menurut informasi pukul 10.00 sudah turun hujan. Saya berharap untuk bergegas agar tidak kehujanan sepanjang perjalanan turun.
bersama mas bimo

Sarapan telah usai. Saatnya bongkar tenda. Packing. Turun.
Setelah berpamitan dengan para tetangga tenda, saya pun melangkah dengan mantap. Cuaca begitu bersahabat. Tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Kendati demikian saya tidak boleh lalai. Harus terus waspada. Perjalanan turun memang cenderung lebih cepat. Tepat pukul 10.00, saya telah tiba di Pos II. Istirahat sebentar. Melangkahkan kaki kembali. Di bawah Pos II, saya bertemu dengan rombongan dari Malang. Cukup lama saya berbagi pengalaman. Perjalanan turun sudah dapat lebih dari separo dan tanda-tanda hujan tidak terlihat. Maka, laju perjalananku mulai saya lambatkan. Lebih santai. Setiap ketemu pendaki yang naik, saya sempatkan untuk ngobrol. Semua memuji dan terkagum-kagum dengan solo-hikking yang kujalani. Saya tidak ingin jatuh dalam kesombongan, maka selalu saya usahakan untuk mawas diri dan merendah.
view dr sabana ii

Perjalanan dari Pos II-base camp, saya bertemu sekitar 6 rombongan. Semuanya dari luar propinsi. Perjalanan turun tidak terlalu terasa, hingga tepat pukul 11.30, saya telah tiba di base camp. Istirahat sebentar sambil berbagi pengalaman dengan dua orang yang akan estafet. Mereka sudah turun dari Merapi dan akan mendaki Merbabu. Mereka lebih hebat dari saya. Luar biasa. Tepat pukul 12.30, kustarter motor, pelan dan pasti menuju rumah tercinta. Sekitar pukul 14.30, saya telah tiba dengan selamat.
Kubuka pintu, kupejamkan mata. Hening dalam diam. Sejenak mengembara untuk menemukan makna perjalanan: Lewat setapak Merbabu seorang diri, sebenarnya saya menapaki lika-liku semak diri ini. Dengan solo-hikking saya semakin mengenal diri ini, dengan segala kelebihan juga kekurangan. Saya semakin mengerti batas kemampuan juga kelemahan. Berharap dengan semakin mengenal diri, maka akan lebih mudah untuk bisa menempatkan diri dan mengarahkan hidup. Sehingga hidup ini akan lebih mudah untuk menemukan celah guna merasakan suka-cita dan damai.
view yg dirindukan

Akhirnya, kuucapkan terimakasih untuk Merbabu. Terimakasih untuk teman-teman yang menyapa dan menyemangati sepanjang perjalanan dan terimakasih untuk isteriku yang mau mengerti dan mau memahami diriku, sehingga memberi kepercayaan kepadaku untuk melakukan peziarahan ini, solo-hikking yang amazing. Semoga dengan pengalaman ini, saya semakin bisa member diri, terus berjuang dalam semangat pengorbanan.